Marketing & Communication Manager Sunpride, Luthfiany Azwawie (kiri) dan Product Management Officer, Sri Astuti (kanan) dalam Ruang Publik pada Jumat (13/05) pagi. (Foto : KBR)

KBR, Jakarta - Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat konsumsi buah dan sayur yang rendah.  Merujuk pada Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2013 sebanyak 93 % penduduk usia dewasa tidak mengonsumsi sayur dan buah dengan cukup. Sementara tingkat konsumsi buah dan sayuran per kapita hanya sebesar 34,55 kg/tahun dan 40,35 kg/tahun (Litbang Departemen Pertanian Maret 2013), jauh di bawah rekomendasi food Agriculture Organization (FAO) sebesar 73kg/kapita/tahun. Padahal Indonesia kita sangat kaya akan buah dan sayur lokal.

Sunpride dari PT. Sewu Segar Nusantara, misalnya, saat ini sedang gencar-gencarnya kampanye makan buah. Mengajak Anda untuk menikmati buah setiap hari. Selama ini, mendengar 'Sunpride' terasa identik dengan pisang. Padahal ada jenis buah-buahan lain seperti jambu, pepaya, nanas, melon, jeruk baby, hingga buah naga.

Dalam Ruang Publik, Jum'at (13/05/2016), Marketing & Communication Manager Sunpride, Luthfiany Azwawie menyatakan sebagian besar buah Sunpride adalah buah lokal yang ditanam di lahan sendiri yang berada di Lampung.

"Hampir 80 persen buah-buahan Sunpride itu lokal. Memang (demand) paling banyak pisang cavendish, tapi sekarang juga sudah ada beberapa jenis mangga tapi masih dalam skala riset," ujar perempuan yang akrab disapa Lutfi ini.

Tidak hanya kebun sendiri, Merk dagang berslogan 'Fresh Everyday' ini juga bermitra dengan petani buah lokal yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia seperti Bogor, Jawa Barat, hingga Jawa Timur, bahkan para petani diberi pendampingan.

Untuk menjaga kualitasnya, Sunpride tak main-main. Dari pembibitan, sampai keluar buah benar-benar diperhatikan. "Dari awal bibit unggul. Yang kedua cara penanamannya yang sebenarnya mirip dengan petani lokal kita. Tidak menggunakan teknologi yang macam-macam. Dengan sistem kebun good agricultural practices, kami berupaya ramah lingkungan. Kembali ke alam," imbuhnya.

Soal rasa pun, Sunpride punya standar tinggi. Tiap buahnya, lanjut Lutfi, harus punya rasa yang stabil yang menjadi bagian dari kualitas. Kadar kemanisan diukur dengan alat bernama Refractor.  Setiap buah kami bungkus satu per satu supaya kualitasnya baik. Para petani pun harus memenuhi standar serupa, jika tidak maka buah akan ditolak. 

"Standar kemanisan, (buah) harus masuk dulu, baru menyusul standar lainnya seperti keamanan pangan, dan lain-lain," kata dia. Soal harga, Lutfi mengaku, pihaknya juga mendengarkan masukan dari pembeli dan masih terjangkau. "Sunpride untuk investasi masa depan. Investasi kesehatan," tutupnya.

Ruang Publik yang mengudara tiap Senin-Jumat pukul 09.00-10.00 WIB bisa disimak melalui radio-radio jaringan KBR di kota Anda dan bisa ditonton pula di www.zeemi.tv.


Editor: Sasmito Madrim

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!