Foto: lakilakibaru.or.id

Apa kriteria laki-laki ideal?

Secara umum, masyarakat masih percaya laki-laki ideal adalah laki-laki yang kuat, mapan dan memiliki bentukan fisik laiknya tokoh komik Superman. “Konsep laki-laki ideal yang dipahami selama ini adalah sebuah utopia karena tidak ada laki-laki yang memenuhi kriteria itu,” jelas Bagia Saputra dari Relawan Aliansi Laki-laki Baru.

Pemahaman yang salah ini dinilai turut berkontribusi bagi kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan yang dilakukan laki-laki muncul akibat refleksi budaya patriakhi yang melahirkan hirarki di kalangan laki-laki serta hirarki antara laki-laki dan perempuan. Pemahaman semacam ini yang coba diubah oleh Aliansi Laki-laki Baru sejak dibentuk pada tahun 2009.  

Aliansi Laki-laki Baru menempatkan laki-laki sebagai aktor kunci yang berperan menciptakan keadilan gender dan pencegahan kekerasan berbasis gender “Sebelumnya, teman-teman di organisasi perempuan sudah lama membatu perempuan-perempuan korban kekerasan, tapi setelah mereka kembali ke keluarga, suami atau pasangannya, siklus kekerasan tetap terjadi. Itu karena laki-laki tidak diedukasi, Aliansi Laki-Laki Baru mengisi kekosongan itu,” jelas Bagia.

Bagia Saputra mengakui kesadaran akan adanya ketidakadilan terhadap perempuan belakangan mulai muncul di kalangan laki-laki. Kesadaran ini muncul melalui berbagai cara, antara lain karena menyaksikan penderitaan perempuan yang mereka cintai. Hal lain, karena terlibat dalam kerja-kerja bersama organisasi perempuan atau karena memiliki minat pada kajian perempuan.

Yandri Ome, penggerak Laki-Laki Baru di Desa Tuafanu, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Yandri mengatakan, materi-materi yang didapatnya dari Aliansi Laki-Laki Baru membuat dia sadar pekerjaan domestik perempuan bukan kodrati. “Sebenarnya kita juga bisa bantu pekerjaan istri, mencuci piring dan pakaian, menggendong anak dan bantu pekerjaan domestik lainnya,” ujar Yandri.

Bagi Aliansi Laki-laki Baru, satu hal yang saat ini masih menjadi tantangan adalah bagaimana merekonstruksi pemahaman mengenai maskulinitas dan feminitas. “Maskulinitas tidak harus selalu mengopresi pihak lain, sebagi kompensasi dari represi emosi akibat dari “penjara” maskulinitas yang tidak mengijinkan laki-laki membebaskan air mata. Sebalikanya fenimitas tidak harus pada posisi yang teropresi, menangis dan berada di bawah laki-laki” ujar Bagia Saputra.

Selanjutnya, edukasi yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk keberhasilan gerakan ini. "Melalui website dan social media, kita bagi artikel-artikel yang menawarkan pola pikir baru itu, kita juga ke sekolah-sekolah dan universitas untuk sosialisasi. Kita juga melalukan pelatihan untuk ayah, terkait pembagian peran dalam keluarga. Mengasuh anak tidak melulu kewajiban perempuan atau ibu," tutup Bagia.

Editor: Malika

#Ruang Publik KBR Senin-Jumat pukul 09.00 WIB di radio jaringan KBR atau Streaming kbr.id

Anda bisa terlibat dalam perbincangan melaklui sms/WA: 0812 118 8181, telepon bebas pulsa: 0800 140 3131 atau twitter: @halokbr. Usulkan tema yang menurut Anda menarik dan penting untuk dibahas dengan hastag HaloKBR 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!