Bappenas Ingatkan Pasar Lebih Waspadai Tiongkok daripada Donald Trump

Berdasarkan simulasi penghitungan Bappenas, sentimen pelemahan ekonomi Tiongkok ternyata lebih berpengaruh bagi Indonesia dibanding Trump.

Kamis, 15 Des 2016 18:24 WIB

Bendera Amerika Serikat dan Tiongkok. (Foto: Yunheisapunk/Creative Commons/CC-BY-NC-SA)


KBR, Jakarta - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai saat ini ada dua sentimen global yang akan mempengaruhi perekonomian Indonesia, yakni pelemahan ekonomi di Tiongkok dan dinamika ekonomi di Amerika Serikat pasca terpilihnya Presiden Donald Trump.

Bambang mengatakan, berdasarkan simulasi penghitungan Bappenas, sentimen pelemahan ekonomi Tiongkok ternyata lebih berpengaruh bagi Indonesia dibanding Trump. Ia menyebut alasannya adalah Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia.

"Kita lihat di sini, minus 0,72. Artinya risiko dari Tiongkok lebih besar daripada risiko Trump. Jadi kalau Bapak-Ibu di sini melihat Trump ngomong di TV kemudian nervous, sebaiknya nervous-nya dikurangi saja. Seharusnya lebih nervous kalau ada update berita dari Tiongkok. Isu utang swasta dan BUMN di Tiongkok, benar-benar patut diwasapdai," kata Bambang di Hotel Ritz Carlton, Kamis (15/12/2016).

Baca: BI Sebut Tiongkok Jadi Parameter Pertumbuhan Ekonomi   

Bambang mengatakan saat ini Tiongkok memang tengah berusaha menjaga pertumbuhan ekonominya dengan menekan investasi dari yang awalnya selalu di level dua digit menjadi hanya kisaran 6 persen.

Selama 20 tahun terkahir, Tiongkok mengalami kelebihan investasi dan itu tidak bersifat berkelanjutan atau sustainable. Hal itu disebabkan utang swasta dan perusahaan BUMN di Tiongkok membengkak, dan memberatkan ekonomi negara.

Bambang Brojonegoro menyebut, saat ekonomi di Tiongkok melemah investasi yang akan ditanamkan ke negara lain, termasuk Indonesia, juga bakal berkurang.

Simulasi Bappenas menunjukkan efek perlambatan ekonomi Tiongkok bisa mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga minus 0,72 persen.

Adapun di Amerika Serikat, kata Bambang, saat ini masih menunggu arah kebijakan arah kebijakan Presiden terpilih Donald Trump. Beberapa kebijakan yang disebutkan Trump saat kampanye memang bisa mempengaruhi perekonomian Indonesia, misalnya rencana memproteksi negara dari asing.

Menurut Bambang, kebijakan proteksi ekonomi AS akan membuat negara itu  mengurangi investasinya ke negara lain, termasuk Indonesia. Bahkan, kata Bambang, pengurangan investasi itu juga bisa berasal dari negara-negara lain yang turut terdampak oleh AS.

Berdasarkan simulasi Bappenas, situasi ekonomi AS akan menekan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga minus 0,41 persen.

Baca: Donald Trump Menang, Rupiah dan IHSG Anjlok   

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!