Ilustrasi: Anjungan migas Pertamina di Karawang. (Foto: Antara)


KBR, Jakarta-  Perusahaan tambang PT. Medco Energi Internasional  meminta pemerintah memangkas prosedur eksplorasi minyak untuk investor asing dipangkas. Direktur  Utama Medco Hilmi Panigoro mengatakan, pengurusan prosedur pengeboran minyak dan gas masih sangat rumit dan lama. Padahal, menurut dia, sampai sekarang negara masih masih kesulitan mencari investor dalam negeri untuk eksplorasi migas.

"Banyak sekali perusahan internasional yang hari ini mengurangi atau meninggalkan sepenuhnya eksplorasi produksi migas di Indoensia. Walaupun banyak teman-teman yang bilang biar saja mereka pergi. Saya sampaikan, sampai sekarang kita masih membutuhkan kehadiran mereka ini. Karena kalau kita bicara ekplorasi migas di Indonesia timur, satu sumur kosong biayanya bisa USD 100 juta dolar. Saya rasa tidak ada perusahaan Indoensia, termasuk Pertamina, yang mampu menanggung driver cost yang Rp 1 triliun lebih," kata Hilmi di Jakarta Convention Center, Kamis (24/11/16).

Hilmi mengatakan, saat ini mengurus eksplorasi migas sampai dengan produksi, diperlukan setidaknya 229 perizinan yang melibatkan 17 kementerian/lembaga, baik di tingkat pusat maupun daerah. Adapun durasinya, kata Hilmi, memerlukan  setidaknya 12 tahun untuk bisa memproduksi migas. Menurutnya, situasi itu justru menunjukkan kemunduran, karena pada sekitar 1970 sampai 1980, durasi yang diperlukan hanya 5 sampai 6 tahun.

Hilmi berujar, pemerintah berkewajiban memperbaiki iklim investasi di Indonesia, terutama dalam mengurus perizinannya. Menurutnya, meski peringkat kemudahan berusaha atau ease of doing business Indonesia naik dari peringkat 106 menjadi 91, itu baru menaikkan posisi dari "buruk sekali" menjadi "buruk". Adapun pada peringkat penegakan kontrak, Indonesia yang meningkat dari ranking 171 ke 166, juga tetap berpredikan dari "buruk sekali" menjadi "buruk".

Padahal, kata Hilmi, investor migas asing itu bisa diarahkan untuk mengelola potensi cadangan migas di wilayah timur Indonesia, karena cadangan di wilayah barat mulai menipis. Kata dia, di timur Indonesia, biaya eksplorasi hingga produksi migas biasanya akan membengkak, karena keterbatasan infrastruktur pendukung. Dari situasi itu, menurutnya, hanya investor asing yang mampu mendanai proyek pembangunan kilang, karena kemampuan investor lokal bena-benar terbatas.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!