Ilustrasi: Beras berkualitas buruk. (Foto: KBR)



KBR, Jombang – Badan Urusan Logistik Sub Divisi Regional Surabaya Selatan mengusulkan perubahan Standar Operasional Prosedur (SOP) pada survei kualitas beras untuk warga miskin (Raskin) diubah. Yakni, pada jumlah sampel raskin.

Pasalnya, pengambilan sampel yang hanya 15 persen dari total jumlah raskin yang akan disalurkan tak menggambarkan kualitas beras. Sehingga, menurut Kepala Bulog Sub Divre Surabaya Selatan Norman Susilo, minimnya jumlah sampel beras itu diduga menyebabkan beras berkualitas buruk masih tersebar di sejumlah titik di Jombang, Jawa Timur dalam beberapa bulan terakhir menjadi tak terpantau.

Ia mencontohkan, petugas hanya mengambil dan memeriksa contoh raskin sebanyak 15 persen dari setiap 8 ton beras yang hendak disalurkan ke warga.

"Mungkin dari sistem sampling kami yang hanya 15 persen sampai saat ini mungkin kami akan tambahkan, tingkatkan sampai ke 30 persen, kita akan usulkan ke pusat bahwa samplingnya agar ditambah untuk setiap kali survei kualitas. Baik masuk maupun pada saat keluar," kata Norman Susilo di Jombang, Rabu (12/10/16).

Ia mengeluhkan, usulan menambah persentase sampel itu tak kunjung beroleh respon dari Bulog pusat.

"Sampai saat ini belum ada perubahan SOP, pusat punya hitungan sendiri jadi berapa biaya yang dikeluarkan untuk sistem sampling dan berapa hasil yang didapat," imbuhnya.

Baca juga:

Untuk memperbaiki kualitas Raskin, kini Bulog Surabaya Selatan yang mengampu wilayah Kabupaten Jombang dan Kabupaten/Kota Mojokerto hanya mengandalkan pengetatan proses pemeriksaan kualitas, baik pada saat beras masuk maupun saat penyaluran.

Sejumlah temuan Bulog Surabaya Selatan menunjukkan terdapat penurunan kualitas raskin. Di antaranya terdapat kutu pada beras dan beras berbau apek. Ia menduga kondisi itu disebabkan beberapa faktor seperti cuaca, kelembaban gudang penyimpanan dan proses pemindahan beras dari satu gudang ke gudang lain.

Sebelumnya, warga di dua desa di Kecamatan Kabuh dan Bareng, Jombang mengeluhkan buruknya kualitas Raskin yang dibagikan Perum Bulog, beberapa waktu lalu. Warga mengaku menerima beras bersubsidi dengan kondisi berkutu, berbau apek, berwarna kuning kehitaman bahkan, ditemukan ulat di dalam kemasannya.

Pemerintah di tingkat desa telah melaporkan temuan tersebut ke pengawas dan Bulog setempat. Atas pengaduan ini, Kepala Bulog Sub Divre Surabaya Selatan Norman Susilo meminta warga roaktif dengan langsung mengadu ke petugas apabila menerima raskin yang tidak layak dikonsumsi.

Baca juga: Kualitas Buruk Raskin di Purbalingga





Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!