Rise for Climate, Bangun Kesadaran Perubahan Iklim Melalui Tokoh Lintas Agama

Isu perubahan iklim masih menjadi hal yang asing di Indonesia. Untuk itu dengan melibatkan tokoh lintas agama diharapkan masalah perubahan lingkungan menjadi isu yang populis bagi masyarakat Indonesia

Senin, 03 Sep 2018 15:32 WIB

Ilustrasi. (Foto: David Suzuki/Flickr/Creative Commons)

KBR, Jakarta - Tahun 2015 lalu negara-negara di dunia sepakat melahirkan sebuah perjanjian yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Paris.
Isi perjanjian tersebut adalah sebuah gerakan yang dilakukan banyak negara dalam menangani isu pemanasan global atau perubahan iklim.

Menindaklanjuti agar perjanjian tersebut dijalankan, sekaligus menyambut Konferensi Aksi Iklim Global pada tanggal 12-14 September 2018 di California,AS, sejumlah negara dunia termasuk Indonesia akan mengadakan aksi global serentak berjudul Rise For Climate. Aksi itu akan dilaksanankan pada Sabtu, 8 September 2018.

Yang menarik dari aksi Rise For Climate di Indonesia adalah tampilnya para tokoh lintas agama.

Mengapa tokoh agama dipilih dalam menyuarakan isu tersebut? Apa sebenarnya gerakan Rise For Climate itu?

"Kami ingin membuat isu perubahan iklim menjadi isu yang populis. Kami ingin teman-teman dari lintas agama menyuarakan mengenai pentingnya mulai peduli terhadap isu perubahan lingkungan kepada para umat dalam komunitas agama mereka," kata Juris Bramantyo, perwakilan dari Coaction Indonesia dalam acara Ruang Publik KBR (3/9/2018).

Coaction Indonesia (Koaksi Indonesia) merupakan lembaga think thank yang khusus mengawal agenda-agenda pembangunan berkelanjutan dan pelaksanaannya di Indonesia.

Hal serupa juga disampaikan Devin Maeztri, penanggung jawab Rise for Climate di Indonesia dan salah satu perwakilan organisasi 350.org Indonesia.

Devin mengatakan banyak orang-orang di Indonesia yang masih sangat mendengarkan pendapat dari para tokoh agamanya.

"Kami ingin mendorong para tokoh agama mengatakan kepada para umatnya bahwa perubahan iklim itu nyata dan telah terjadi," kata Devin.

Selain untuk merangkul komunitas-komunitas yang selama ini belum aware terhadap isu perubahan iklim, pelibatan tokoh agama juga untuk menciptakan persatuan antar umat agama di Indonesia.

"Ketika Asian Games digelar, kita bisa melihat bagaimana semua masyarakat bersatu tanpa pandang agama dan sukunya apa. Hal itu yang coba kami bangun dari gerakan Rise For Climate ini. Kami mau para pemuka dan pemeluk agama di Indonesia bersatu menghadapi musuh bersama, yakni perubahan iklim," kata Mikhail Gorbachev Dom, aktivis lingkungan dan kebhinekaan kepada KBR.

Hal yang mesti digarisbawahi, kata Mikhail, adalah bagaimana tokoh agama meningkatkan sikap peduli terhadap isu perubahan lingkungan agar tidak selalu dikaitkan dengan masalah azab.

"Kita mau gerakan ini adalah gerakan cinta kasih. Tokoh agama yang dilibatkan tidak bicara mengenai dosa atau ujaran kebencian atas imbas perubahan ekstrem yang terjadi di bumi kita, namun gerakan ini didasari sikap kepedulian kita terhadap masa depan bumi dan anak cucu kita yang kelak akan tinggal di dalamnya," kata Mikhail.

Gerakan untuk masa depan bumi

Aksi Rise For Climate merupakan gerakan global di berbagai negara yang mendorong para pemimpin di daerah---bukan hanya kepala daerah namun juga pemimpin akademisi, bisnis---untuk mendorong agar perjanjian Paris tahun 2015 lalu ditepati.

Target peserta Rise For Climate, kata Devin Maeztri, adalah para anak muda. Dengan total populasi anak muda di Indonesia sebesar 25 persen, aksi ini diharapkan menjadi gerakan peduli terhadap kondisi bumi yang akan mereka tinggali di masa depan.

Meski target mayoritasnya menyasar generasi muda, Devin mengatakan gerakan ini juga berlaku ke semua umur. Ia mencontohkan panitia Rise for Climate juga sudah meyiapkan diskusi-diskusi tentang perubahan iklim di kalangan ibu-ibu di berbagai kota, seperti Malang dan Yogyakarta.

Di Jakarta, aksi Rise For Climate akan diselenggarakan di @America pada 8 September 2018 mulai pukul 14.00 sampai 17.00 WIB. Kegiatan tersebut akan diisi diskusi dengan tema Energi Bersih Untuk Indonesia. Adapun pembicara yang hadir di dalam diskusi tersebut adalah Yenny Wahid, Romo Andang, serta Andhyta F. Utami.

Devin berharap aksi global Rise For Climate tanggal 8 nanti adalah awal untuk lebih peduli terhadap isu perubahan iklim.

"Kami berharap aksi ini tidak berhenti di tanggal 8, melainkan akan menjadi gerakan awal bagi masyarakat untuk terus peduli dan menjaga kondisi bumi," kata Devin.

Editor: Agus Luqman
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".