Operasi Tinombala Jalan Terus, Polisi Minta 7 DPO Poso Menyerah

"Semua kendaraan yang lewat kami periksa untuk mengetahui tujuan mereka, dan mengantisipasi masuknya warga sipil ilegal. Beberapa bulan lalu kami mencegah enam warga Cina gabung kelompok Santoso."

Jumat, 28 Jul 2017 16:39 WIB

Aparat TNI memeriksa identitas dan barang bawaan warga yang melintas di Pos Pengamanan Desa Pantangolembah, Poso Pesisir. (Foto: KBR/Aldrim Thalara)

KBR, Palu - Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah menyarankan kepada tujuh terduga teroris anak buah Santoso di Poso untuk menyerahkan diri kepada aparat keamanan.

Kapolda Sulawesi Tengah Rudy Sufahriadi mengatakan anak buah Santoso sebaiknya menyerahkan diri agar tidak lagi jatuh korban baik dari aparat maupun dari sipil.

Rudi menambahkan saat ini dalam operasi perburuan teroris melalui Operasi Tinombala, aparat kesulitan mengejar tujuh orang itu lantaran daerah yang harus disisir terlalu luas.

"Pertanyaannya, sisa DPO tujuh orang kok susah sekali? Ketika saya datang ke sini, DPO ada 30 orang. Santoso belum kena. Masalahnya, ketika jumlah mereka masih 30 orang atau 40 orang, ibaratnya luas kolamnya masih sama. Sektor 1, sektor 2, sektor 3 luasnya masih sama. Tempat di ajalan lari semua sama. Waktu itu anggotanya lebih banyak dari sekarang. Kalau kita ibaratkan, kolamnya besar ikannya banyak, yang mencari juga banyak, jadi tangkapannya juga banyak. Sekarang, kolamnya besar, ikannya sedikit, petugasnya juga sedikit. Tapi, kami tetap profesional, artinya kamu terus lakukan pengejaran," kata Rudy Sufahriadi kepada KBR, di Palu, Senin (24/7/2017).

Baca juga:


Perburuan kelompok teroris Santoso sudah dilakukan sejak 2013. Sebelumnya perburuan itu digelar dengan nama sandi Operasi Camar Maleo, dan kemudian berubah menjadi Operasi Tinombala yang merupakan operasi yang kini sedang berlangsung.
  
Operasi Tinombala dilakukan hampir di seluruh Polres dan Polsek sekitar Poso dan Palu. Di antaranya di kawasan Polsek Parigi Moutong.

Polsek Parigi Moutong ini berada di daerah perbatasan antara Palu menuju Poso yang memang menjadi satu-satunya akses lalu lintas menuju ke sana.

Kapolres Parigi, Siradjudin Ramli mengatakan di jalur Palu-Poso inilah beberapa teroris kelompok Santoso dibekuk, dan juga menangkap beberapa warga sipil yang berniat untuk ikut menjadi anggota Santoso.

"Operasi ini memang rutin dilakukan dengan jumlah petugas yang tentatif, sesuai kebutuhan. Seperti malam ini dilakukan operasi Tinombala tepat di depan Polsek Parigi. Semua kendaraan yang lewat kami periksa untuk mengetahui tujuan mereka, dan mengantisipasi masuknya warga sipil ilegal. Seperti beberapa bulan lalu kami berhasil mencegah warga asing asal Cina sebanyak empat orang yang berniat bergabung dengan jaringan Santoso," kata Siradjudin, di Parigi Moutong, Selasa (25/7/2017).

Kendati operasi tetap dilakukan secara berkala, Kapolda Sulawesi Tengah Rudy Sufahriadi mengatakan, Poso saat ini sudah dapat dikatakan aman. Ia mengatakan kepolisian juga sudah menerapkan pendekatan secara halus kepada masyarakat agar masyarakat tidak merasa canggung dan tetap memiliki kedekatan emosional.

"Kami lakukan pendekatan lunak, bukan hanya kepada masyarakat tapi juga kepada keluarga teroris yang sudah tertangkap. Kami lakukan pembinaan agar mereka tidak mengikuti paham terorisme seperti yang lain. Salah satunya pendekatan kami lakukan dengan mengajar mengaji, memberi bantuan door to door, dan pendekatan lainnya," kata Rudy.

Rudy menambahkan pembinaan dilakukan agar para eks teroris atau pengikut Santoso tidak kembali lagi menjadi teroris. Menurut Rudy, para teroris yang pernah tertangkap kemudian dilepas kembali, sering melakukan aksinya karena tidak ada pembinaan dan tidak diterima warga lain, sehingga paham radikal mereka timbul kembali.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Korea Utara Peringatkan Australia

  • CIA Ingatkan Korea Utara Mampu Serang Amerika dengan Rudal
  • Obama dan Bush Prihatinkan Kehidupan Politik di Amerika Serikat
  • Kota Raqqa Suriah Hancur