Kapolri: Marak Aksi Teror Lone Wolf, karena Hasutan Menebus Dosa dengan Jihad

Kapolri Tito mengatakan kelompok jihadis tunggal tanpa pimpinan (leaderless jihad) biasanya dilakukan bekas residivis (penjahat kambuhan) yang ingin bertaubat.

Senin, 10 Jul 2017 15:44 WIB

Kapolri Tito Karnavian. (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

KBR, Jakarta - Kapolri Tito Karnavian mengatakan maraknya aksi teror tunggal (lone wolf) saat ini merupakan efek dari orang-orang yang terkena hasutan untuk bertaubat dengan iming-iming surga dan penebusan dosa.

Kapolri Tito mengatakan kelompok jihadis tunggal tanpa pimpinan (leaderless jihad) biasanya dilakukan bekas residivis (penjahat kambuhan) yang ingin bertaubat. Termasuk pelaku peledakan bom panci di Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu 8 Juli 2017 lalu.

"Dari interview terhadap pelaku, kalau saya salah mohon di koreksi, itu dulunya mantan pengguna narkoba. Kemudian yang ada di Polsek Nagreg yang bawa parang itu bertato semua, dulu minum-minuman keras, preman. Katanya dalam rangka menebus dosanya. Jihad, siap mati. Kira-kira begitu," kata Tito usai Peringatan HUT ke-71 Bayangkara, di Monas, Jakarta, Senin (10/7/2017).

Baca juga:


Tito menjelaskan fenomena Lone Wolf yang saat ini marak terjadi di Indonesia, bukan hal baru di negara Barat. Pelaku, kata Tito, punya prinsip melakukan aksi serangan teror secara sendirian dengan mempraktikkan apa yang sudah dipelajari di internet.

Dari pemeriksaan polisi, pelaku bom panci Bandung bernama Agus Wiguna memperoleh kemampuan membuat bom dari internet. Polisi belum menemukan keterkaitan pelaku dengan kelompok jaringan lain, namun dari pemeriksaan, pelaku berniat masuk kelompok ISIS.

Tito menyebut, aksi teror dengan strategi 'Lone Wolf' itu juga tercermin pada penyerangan terhadap anggota Brimob di Masjid Falatehan dekat Lapangan Bhayangkara Mabes Polri pada awal Juli lalu maupun ancaman teror dengan bendera ISIS di Markas Polsek Kebayoran Lama.

"Saya sudah sampaikan, kita perlu membentuk kekuatan siber di Kominfo, Polri, TNI yang semua harus terintegrasi. Itu untuk melawan kelompok-kelompok yang menyebarkan paham radikal di internet," kata Tito.

Kapolri Tito Karnavian menambahkan anggota tim siber Polri harus meningkatkan kemampuan dan kewaspadaan, juga bersinergi dengan lembaga lain yang memiliki ruang gerak sama. Hal itu juga seperti perintah Presiden Joko Widodo, agar anggota polri dapat meningkatkan kemampuannya dan bersinergi dengan lembaga lain.

Istilah Lone Wolf digunakan untuk merujuk orang-orang yang melakukan tindakan kriminal secara sendirian dan kemudian bertobat. Istilah ini populer sejak awal abad 20 oleh penulis Louis Josep Vance. Vance menciptakan karakter Lone Wolf, nama alias dari Michael Lanyard, seorang bekas penjahat yang kemudian bertobat menjadi detektif.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau