Hendra: 'Maticgator, Inkubator Tukik'

“Kami prihatin daging penyu diambil dan telurnya dikonsumsi masyarakat. Kalau semua penyu dipotong, ke depan apa?"

Hendra, anggota tim Maticgator. Foto: KBR.

Kamis, 31 Mei 2018

KBR, Jakarta - Sebuah pulau seluas 100 kilometer persegi di sebelah selatan Pulau Jawa, menjadi rumah bagi ratusan penyu. Di sana, saban malam, penyu-penyu mendarat di pantai, menggali lubang, lantas mengubur telur-telurnya. Diperkiraan, sehari ada sejuta telur penyu siap ditetaskan. 

Nama pulau itu, Nusa Barong –yang masuk wilayah Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur. Untuk ke sana dengan kapal kecil, butuh tiga hingga lima jam perjalanan laut. 

Bagi masyarakat desa setempat, penyu begitu berarti. Jamil, nelayan di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, bercerita tiap kali musim penyu bertelur, ia dan beberapa kawannya berjaga semalaman di sepanjang pantai; menunggui penyu bertelur. 

“Kami kerahkan dari anggota untuk mencari penyu yang naik,” ujar Jamil.

Jamil adalah Wakil Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Perlindungan dan Pelestarian Penyu Indah Lestari. Dia dan 24 anggotanya bertugas melindungi penyu dari aksi jahat pencuri daging dan telur penyu.

Kelompok ini sendiri lahir dari kesadaran masing-masing tentang betapa terancamnya populasi penyu. Sebab selama bertahun-tahun warga leluasa mengambil telur dan menjual dagingnya. 

“Kami prihatin daging penyu diambil dan telurnya dikonsumsi masyarakat. Kalau semua penyu dipotong, ke depan apa? Nanti penyu habis,”

- ucap Jamil jengkel.

Hingga pada 2013, Dinas Perikanan datang ke desa dan memaparkan sejumlah aturan yang melindungi penyu. Jamil pun tergerak dan berniat membentuk kelompok. Mula-mula ia mengajak enam nelayan untuk bergabung, tapi malah dibilang gila.   

“Kami dibilang orang-orang gila saat melarang. Tapi lama-lama kami ajak dan akhirnya ada perubahan. Telur penyu tak lagi diambil,” katanya mengenang. 

Kelompok Jamil akhirnya resmi terbentuk pada 2014. Tiap tahun, anggotanya terus bertambah menjadi 24. Ia pun sengaja mengajak para mantan pencuri dan penjual daging penyu, masuk dalam kelompok. 

“Kami hampiri ke rumah dan diajak ikut kelompok kami. Alhamdulilah sekarang aman di Jember untuk masalah penyu,” kata Jamil bangga. 

Penyu adalah bio-indikator sebuah perairan. Jika ada banyak penyu, itu artinya terumbu karang dalam kondisi baik. Ini karena penyu merupakan predator alami bintang laut –yang mana bintang laut musuh utama terumbu karang. 

Penyu yang bisa mengendalikan populasi bintang laut agar tak berlebihan, secara otomatis mengontrol ekosistem laut. 

Itu mengapa keberadaan penyu dilindungi. Misalnya oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pangawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Aturan-aturan di atas terang menyebutkan; penyu berikut bagian-bagiannya termasuk telurnya merupakan satwa yang dilindungi oleh negara. 

Tapi rupanya, persoalan tak berhenti di situ. Global warming turut mengancam keberadaan penyu. Secara alamiah, satu betina butuh kawin dengan enam jantan untuk bisa bertelur. Hal lain, suhu permukaan bumi yang kian panas, membuat telur-telur penyu itu menetaskan tukik-tukik betina. 

Ketidakseimbangan antara jumlah tukik jantan dan betina itulah yang kemudian mendorong Hendra dan beberapa seniornya di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, membuat Maticgator.


Maticgator ini bentuknya seperti kotak kayu. Di bagian depan-atas, ada dua tombol dengan keterangan; betina jantan. Cara kerjanya, telur penyu yang telah diambil, dimasukkan dalam Maticgator. Jika ingin menetaskan tukik betina, maka suhu tinggi dipakai. Sebaliknya, jika jantan harus dengan suhu rendah plus air –demi menjaga kelembapan.

“Di alam rata-rata telur menetas 60-90 hari. Jadi dengan maticgator, bisa setting jantan atau betina dan waktu penetasan dipangkas,”

- jelas Hendra.

Hendra mengatakan, riset Maticgator dimulai sejak 2010. Dibantu seorang dosennya yang juga peneliti, mereka berkali-kali mencoba menyempurnakan alat itu. Dananya, berasal dari hasil menang lomba yang digelar kampus dan pihak swasta.

“Kami dapat Rp12 juta dan digunakan untuk riset. Dari hasil riset kami ikutkan event lain lagi Indocement Award dan dapat Rp15 juta.”

Lima tahun bereksperimen, Maticgator jadi. Dengan daya 200 watt, alat ini mampu menampung 200 telur penyu untuk ditetaskan sesuai jenis kelamin yang diinginkan.

Untuk yang pertama, Maticgator digunakan di Pantai Taman Kili-kili, Trenggalek, Jawa Timur. Dulu, daerah itu termasuk konservasi penyu, tapi hilir-mudik kapal tongkang membuat penyu-penyu takut mendekat ke pantai.

Masalah juga terjadi di Pantai Puger, Jember. Di sana, perburuan telur dan daging penyu selama bertahun-tahun membuat populasi menurun drastis. 

Mencoba mengatasi problem itu, Dinas Kelautan dan Perikanan setempat membeli Maticgator bikinan Hendra seharga Rp50 juta untuk digunakan di sejumlah lokasi. Harapannya, keberadaan penyu-penyu kembali berdatangan.

Kini, ada enam kabupaten yang sudah menggunakan Maticgator; Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Trenggalek, dan Pacitan.

Setahun dipakai, Jamil –Wakil Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Perlindungan dan Pelestarian Penyu Indah Lestari, bercerita keberadaan penyu tak lagi langka. Setahun tiga kali, puluhan penyu bertelur di Pantai Puger, Jember.

“Alhamdulilah tambah tahun penyu banyak naik. Kalau dulu, enggak ada penyu ke pantai. Sekarang anggota kami berjaga semalaman di bibir pantai cari penyu bertelur,”

- ujar Jamil.