Puluhan Warga Aceh Timur Mengungsi Akibat Ledakan Sumur Minyak

Kata dia, aktivitas pengeboran minyak mentah marak digeluti warga pada 2015 lalu. Meski sempat dilarang oleh Pemkab Aceh Timur akan tetapi sebagian warga diam-diam tetap mengebor secara tradisional.

Rabu, 25 Apr 2018 20:12 WIB

Sejumlah sepeda motor pekerja hangus terbakar di lokasi sumur minyak tradisional di Dusun Kamar Dingin Desa Pasir Putih, Ranto Panjang Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Rabu (25/4). (Foto: ANTARA/ Rahmad)

KBR, Aceh Timur - Puluhan warga di Dusun Kamar Dingin, Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Panjang, Kabupaten Aceh Timur mengungsi ke rumah keluarga dan kerabat, pasca terbakarnya sumur minyak tradisional di kawasan tersebut. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh (BPBA) Teuku Ahmad Dadek mengatakan, evakuasi warga terus dilakukan menyusul tingginya kobaran api di lokasi kejadian.

Ia juga telah memerintahkan BPBD Aceh Timur, Kota Langsa dan BPBD Aceh Tamiang untuk memasok kebutuhan logistik para pengungsi.

"Saya dengan dinas sosial akan bertolak ke sana karena pihak kecamatan di sana membutuhkan bantuan-bantuan, massa panik. Memang mereka tidak mengungsi ke suatu tempat, tapi mereka mengungsi di rumah keluarganya yang berdekatan di situ. Makanya perlu kami samperin mereka (pengungsi)," kata Ahmad Dadek menjawab KBR, Rabu (25/4).

"Jadi, BPBD dan Dinas Sosial di kabupaten Aceh Timur sudah siap di sana. Gak banyaklah, mungkin sekitar 20-an Kepala Keluarga (KK) yang mengungsi di situ," imbuhnya.

Kata dia, warga di Dusun Kamar Dingin terus dievakuasi ke lokasi aman. Terlebih, dari sumur yang terbakar menyembur lidah api setinggi 75 meter dan masih sulit dipadamkan.

"Bayangkan dari pukul 02.00 WIB Pagi tadi dipadamkan, tapi apinya belum bisa dijinakkan sampai sekarang. Kami terus berupaya, supaya rumah-rumah penduduk disini tak ludes terbakar dilalap semburan api."

Petugas medis menggunakan kereta saat membawa salah seorang korban kebakaran sumur minyak ilegal asal Kabupaten Aceh Timur, provinsi Aceh, Rabu (25/4). (Foto: ANTARA/Ampelsa)

Catatan sementara BPBA, korban tewas akibat peristiwa ini bertambah menjadi 18 orang sementara 40an lebih luka-luka. Diperkirakan korban terdampak akan bertambah mengingat pendataan dan evakuasi masih dilakukan.

Kendati menurut Kepala Pelaksana BPBA Teuku Ahmad Dadek, proses evakuasi sempat terkendala api yang membesar. Termasuk, saat mengevakuasi korban tewas yang kini sudah berhasil diidentifikasi di antaranya Riskal, Al Husairi dan Adnan Saputera. Di mana jenazah korban berada di tengah kepungan api.

Kepala Polisi Sektor Ranto Peurelak, Ayyub menyatakan jenazah korban tewas dan luka-luka dibawa ke tiga rumah sakit terdekat. Antara lain Rumah Sakit Abdul Azis Peureulak, RS Zubir Mahmud dan RS Graha Bunda Idi Rayeuk. Polisi pun memperkirakan masih ada korban yang belum berhasil dievakuasi akibat ledakan berujung kebakaran tersebut.

Baca juga:


Pengeboran Tradisional

Karena kondisi itu, ia pun menduga masih ada korban yang terjebak di sekitar sumur minyak yang terbakar tersebut. Muhibuddin, salah satu warga yang juga tokoh masayarakat daerah itu memperkirakan, masih ada korban yang belum ditemukan karena kesulitan meloloskan diri. Sebab kata dia, minyak mentah masih memenuhi area sumur galian warga. Sehingga, api pun lebih mudah menyebar.

Kata dia, aktivitas pengeboran minyak mentah marak digeluti warga pada 2015 lalu. Meski sempat dilarang oleh Pemkab Aceh Timur akan tetapi sebagian warga diam-diam tetap melakukan pengeboran tradisional itu.

"Sistem orang mengebor tradisional ini ke mana ada minyak, maka ke situ orang," kata Muhibuddin kepada KBR, Rabu (25/4/2018).

"Jadi yang lainnya pengebor itu pindah ke titik itu. Kegiatan (di daerah) ini dilakukan sejak akhir-akhir 2017 lalu, karena tadinya daerah Pertamina (eks lahan pertamina). Kalau di Ranto Peureulak ini bisa dibilang sudah lama lah secara tradisional ini," imbuhnya.

Warga yang mengebor, kata dia, paling tidak harus menginap selama 15-20 hari di lokasi. "Dan, terkadang juga ada yang sampai berbulan-bulan baru menyembur minyaknya ke atas," tutur Muhibuddin.

Muhibuddin melanjutkan, alat yang digunakan warga untuk mengambil minyak di perut bumi itu cukup unik. Lazimnya mengandalkan cara tradisional di mana seluruh alat merupakan ciptaan sendiri. Seperti, pipa besar yang dibentuk seperti mata kail untuk kedalaman lebih 30 meter, lantas dibor perlahan-lahan, selanjutnya dipasang pipa kecil di dalamnya dengan bantuan alat kompressor untuk mendorong minyak naik atau, menyembur ke atas permukaan tanah.

"Dan, para korban itu memang sudah berlama-lama bermalam di lokasi, ternyata pas menyembur pada malam itu langsung musibah terbakar. Ada yang bilang api akibat bor yang terlalu dalam, tetapi ada sebagian informasi di sana juga yang ditimbulkan oleh sumber api lain di sana. Entah mana yang benarnya kita tunggu polisi yang usut."

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.