Ilustrasi: Tempat pembuangan sampah Putri Cempo, Solo. (Foto: KBR/Yudha S.)


KBR,Solo- Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Solo membutuhkan biaya ratusan milyar rupiah. Investor PLTSa di Solo, Erlan Suherlan, mengatakan membutuhkan  lahan untuk pembangunan  sekitar 2 hektare. '

Erlan mengatakan memiliki hak membangun dan mengoperasikan PLT sampah selama 20 tahun.

“Nilai investasi butuh biaya 417 Milyar rupiah. Itu dari konsorsium dan bantuan perbankan. Kalau daerah lain di luar Solo ikut pasok sampah ya tidak bisa. Kita hanya pakai sampah yang ada di lokasi ini, sampah lama maupun sampah baru. Kalau ada pasokan sampah dari luar Solo ya tidak bisa menyalahi aturan," kata Investor PLTSa di Solo, Erlan Suherlan, Kamis (16/03).

Erlan melanjutkan, "kalau sampah baru di Solo sekitar 200an ton per hari ya kita tambah pakai sampah lama hingga kuota 450 ton sampah per hari untuk kebutuhan PLT sampah terpenuhi. PLT sampah ini jelas masih bisa pakai sampah lama, meski sudah puluhan tahun menumpuk. Selama masih ada unsur organik, karbonnya, untuk menghasilkan energi..”

Pemkot Solo dan investor mulai menggarap pembangunan PLTSa di Tempat Pembuangan sampah akhir Putri Cempo. PLT sampah yang memproduksi sekitar 10-12 megawatt listrik ini membutuhkan sampah sekitar 450 ton per harinya. Listrik yang dihasilkan  di Solo dijual ke PLN dengan perkiraan Rp 71 Milyar per tahun.

Pembangunan PLT sampah di Solo mulai digarap tahun ini dan dijadwalkan beroperasi awal   2019. TPA Putri Cempo Solo yang beroperasi sejak  1986 ini sudah menampung sekitar 1,5 juta ton sampah. Ketinggian bukit sampah yang ada di lokasi tersebut sekitar 6-10 meter.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!