India Guncang Akibat Krisis Uang Tunai

Pemerintah menarik pecahan uang bernilai tinggi dari sistem keuangan negara.

Senin, 21 Nov 2016 11:46 WIB

Antrian warga India untuk menukarkan uang lama dengan uang baru pasca pemerintah menarik uang pecaha

Antrian warga India untuk menukarkan uang lama dengan uang baru pasca pemerintah menarik uang pecahan 500 dan 1000 rupee. (Foto: Bismillah Geelani)



India terguncang akibat krisis uang tunai parah menyusul keputusan pemerintah untuk menarik pecahan uang bernilai tinggi dari sistem keuangan negara.

Pemerintah  menggambarkan tindakan itu sebagai serangan gerak cepat terhadap uang hitam yang merupakan hasil kejahatan korupsi dan kejahatan lainnya. 

Tapi seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, kelangkaan uang tunai telah menggangu kehidupan sehari-hari warga.

Saya berada di luar bangunan Reserve Bank of India di New Delhi. Saat ini pukul 8 pagi. Meski bank baru buka pukul 9 tapi lebih dari tiga ratus orang sudah antri di sini.

Di antara mereka ada Mohammad Mustaqeem, 60 tahun. Ia mengelola sebuah toko pakaian yang sudah tiga hari ini tidak buka. 

“Tidak ada transaksi di pasar. Satu-satunya yang kami lakukan saat ini adalah mengantri di sini untuk mendapatkan uang tunai. Karena tanpa uang, kami tidak bisa membeli makanan. Toko kelontong tidak mau lagi memberikan utangan sehingga kami tidak bisa mendapatkan susu, sayuran dan lainnya,” keluh Mustaqeem. 

“Saya mengidap diabetes tapi sudah tiga hari ini tidak minum obat karena saya tidak punya uang tunai untuk membayar tukang obat. Tidak ada yang mau menerima uang lama.”

Di bank lain, Shobha Devi, 45 tahun, kesal karena lambatnya penanganan.

Ini adalah bank ketiga yang dia kunjungi pagi ini dan berharap di sini dia bisa mendapat uang tunai.

Sejak pekan lalu, sudah terjadi antrian panjang di luar bank, mesin ATM dan kantor pos di seluruh negeri.

Menyusul keputusan pemerintah untuk menarik uang kertas pecahan 500 dan 1.000 rupee dari peredaran, jutaan orang bergegas untuk menukar uang lama mereka.

Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan keputusan ini diperlukan untuk menindak keras korupsi dan uang hitam.

“Ada saatnya dalam sejarah perkembangan suatu negara dibutuhkan tindakan yang kuat dan tegas. Untuk mematahkan cengkeraman korupsi dan uang hitam, kami memutuskan kalau pecahan 500 dan 1.000 rupee yang beredar saat ini, tidak lagi bisa digunakan mulai tengah malam ini,” jelas Modi. 

“Ini berarti pecahan yang sudah tertutup unsur-unsur anti-nasional dan anti-sosial akan menjadi sepotong kertas tak berharga.”

Tapi perdana menteri menjelaskan masyarakat yang punya pecahan uang ini masih punya waktu sampai akhir tahun untuk menukarnya di bank dan kantor pos.

Tapi ada pembatasan soal jumlah yang bisa ditukar dan ditarik dari bank pada satu waktu.

Meski begitu langkah ini disambut baik banyak ekonom, ahli keuangan dan masyarakat kebanyakan yang memuji Perdana Menteri Modi.

“Ini adalah langkah bersejarah. Kita semua harus mendukungnya karena kita tahu bahwa 20 sampai 40 persen dari perekonomian kita berada dalam ekonomi hitam yang memakan sistem ekonomi kita sampai lemah,” tutur Rajiv Kumar dari Pusat Kajian Kebijakan yang berbasis di New Delhi.

“Faktanya adalah ini keganasan yang membusuk dari sistem kita dan itu sebabnya orang-orang dari kelas menengah memuji Modi. Karena ketika Anda menemukan ada yang ganas, Anda siap untuk menanggung sedikit rasa sakit dari kemoterapi dan radioterapi yang Anda jalani.”

Tapi dampak keputusan ini sangat jelas: krisis keuangan yang mendalam yang mengganggu kehidupan masyarakat. Selain itu makin kerasnya suara-suara yang menyuarakan perbedaan sikap.

Jurnalis senior Shivam Vij menjelaskan.

“Menurut saya dari hari ke hari, orang kehilangan kesabaran atas skema ini. Sentimen yang menyebut ini adalah ketidaknyamanan kecil demi kebaikan yang lebih besar, akan berkurang dari hari ke hari. Penderitaan orang-orang akan melampui ketidaknyamanan kecil ini,” kata Vij. 

“Sampai kemarin setidaknya terjadi 25 kasus kematian akibat langkah ini; termasuk bunuh diri, serangan jantung, dan orang tua yang pingsan karena lama mengantri. Bisakah Anda bayangkan jika 25-30 orang tewas dalam serangan teroris, kita akan menyatakan perang dengan Pakistan.”

Uang pecahan 500 dan 1.000 rupee adalah pecahan yang paling banyak digunakan, dimana digunakan lebih dari 80 persen transaksi di India.

Jadi penarikan tiba-tiba ini telah menyebabkan krisis uang tunai parah.

Dan ini juga tidak memecahkan masalah uang hitam kata Jayati Gosh, profesor ekonomi di Universitas Jawaharlal Nehru di New Delhi.

“Pertama, kita harus mengakui kalau uang hitam bukanlah simpanan yang disimpan di bawah tempat tidur dan sebagainya. Itu adalah sebuah proses, itu adalah transaksi. Yang harus Anda lakukan adalah membatasi transaksi yang menciptakan uang hitam. Pelaku pasar gelap tidak menyimpan uang tapi mereka membeli emas, valuta asing, real estate, atau menaruh uangnya di luar negeri.“

Partai-partai oposisi juga menyuarakan penolakan terhadap langkah itu dan telah membentuk sebuah front bersatu untuk menuntut pemulihan.

Tapi pemerintah menolak tuntutan oposisi dan memastikan ada langkah-langkah cepat untuk meminimalisir kesulitan yang dialami masyarakat.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Menko Wiranto Bakal Tangkap Tentara OPM

  • Kapolri, Evakuasi Di Papua Ajang Bersih-Bersi Pendulang Liar
  • Nazaruddin Sebut Setnov Terima Duit e-KTP
  • Puluhan Calon PPS di Rembang Terindikasi Anggota Parpol