Anak-anak sedang belajar di Sekolah Tanpa Batas Kabul. (Foto: Mudassar Shah)

Anak-anak sedang belajar di Sekolah Tanpa Batas Kabul. (Foto: Mudassar Shah)

Di Afghanistan diperkirakan ada sekitar 60 ribu anak yang bekerja di jalanan Kabul untuk membantu keluarganya.

Ini berarti banyak generasi muda Afghanistan yang tidak sempat mencicipi bangku sekolah.

Tapi Sekolah Tanpa Batas, mengubah nasib beberapa anak yang kurang beruntung itu.

Mudassar Shah menyusun kisahnya untuk Anda.

Di suatu Jumat pagi di Kabul, Qudsia yang berusia 7 tahun sudah berada di jalanan. Dia membawa tas punggung tapi itu bukan tas sekolah.

Qudsia lalu mengeluarkan dua potong kain dan sebuah semprotan dari tasnya.

“Saya bekerja membersihkan kaca mobil di jalanan utama kota. Ibu saya tidak bekerja sementara ayah punya toko sayuran. Setiap hari saya mendapatkan sekitar 10 ribu rupiah dan itu saya berikan pada ibu,” tutur Qudsia.

Qudsia bekerja lima jam setiap hari dan tidak pernah libur. 

Tiga puluh satu persen warga Afghanistan melek huruf dan hanya 12 persennya diantaranya perempuan.

Karena bekerja sebagai pembersih kaca mobil, Qudsia tidak punya waktu untuk bersekolah.

Tapi Qudsia bisa bisa belajar di sini... di Sekolah Tanpa Batas. Setiap Jumat siang setelah selesai bekerja, dia belajar di sana.

“Saya duduk di kelas tiga dan saya ke sekolah setiap Jumat. Para gurunya  adalah pekerja keras dan sangat berdedikasi. Karena itu saya yakin suatu hari nanti saya bisa jadi dokter. Nanti saya bisa mengobati para pasien miskin seperti perempuan tua di lingkungan saya, gratis!” tekad Qudsia.

Sekolah Tanpa Batas dikelola Relawan Perdamaian Afghanistan dan didanai LSM Belanda, Child Rights.

Sekolah ini terbuka bagi pelajar dari keluarga miskin dan etnis yang beragam dan menjadi tempat berkumpul, membaca dan belajar.  

Seperti Qudsia, kebanyakan pelajar di sini harus bekerja, menjadi pedagang asongan di jalanan atau di pasar.

Di sekolah itu ada lebih dari 100 pelajar yang mengikuti pelajaran bahasa Dari, matematika, serta menjahit.

Setiap Jumat siang, pelajar sekolah negeri yang duduk di kelas 9 dan 10 datang kemari untuk mengajar.

Bagi Kulsoom yang berusia 12 tahun, ini adalah hari keduanya di Sekolah Tanpa Batas. Dia mengaku beruntung.

“Sepupu mengajak saya bergabung kemari tapi ayah saya tidak setuju. Tapi kemudian guru saya bertemu dengan ayah dan meyakinkan dia. Akhirnya ayah membolehkan saya belajar di sekolah ini.”


Zikrullah duduk di kelas 9. Dia dulu berjualan permen karet di jalanan selama dua tahun. Tapi selama sembilan bulan terakhir, dia mengajar di sekolah ini.

“Masyarakat seharusnya tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka juga harus memikirkan orang lain, apa yang bisa mereka lakukan untuk orang lain. Saya sekarang kelas 9 dan saya bisa mengajar anak-anak kelas 2 dan 3. Adalah tanggung jawab saya untuk mengajar mereka,” kata Zikrullah Ahmadi. 

Enam guru lainnya menjadi relawan pengajar di sekolah ini.

Zarghona Jan yang berusia 21 tahun adalah guru paling populer di sini. Dia sangat ingin meningkatkan pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Di siang hari, Zarghona adalah pelajar kelas 11. Di malam hari dia mengajar anak-anak yang lebih kecil secara gratis.

“Saya sudah mengajar di sini selama tiga tahun, tak lama setelah Taliban membunuh ayah saya. Meski setelah itu hidup kami sangat menderita tapi saya memutuskan untuk membantu orang yang membutuhkan. Karena itu saya mengajar di sini.”

Semua pelajar bersekolah di sini secara gratis dan mereka tidak memakai seragam.

Guru seperti Zarghona mengatakan sekolah ini memberi kesempatan kepada pelajar miskin dan anak jalanan untuk mendapat pendidikan.

Karena itu dia mengunjungi rumah-rumah untuk meyakinkan orangtua agar mau menyekolahkan anak-anak mereka.

“Saya ingin bekerja untuk warga miskin yang tinggal di daerah terpencil agar kehidupan mereka lebih baik. Agar mereka bisa menyuarakan masalah mereka pada dunia. Mimpi saya perdamaian bisa terwujud di Afghanistan. Karena itu saya mengajar agar murid-murid saya bisa membawa kemakmuran bagi negara ini,” kata Zarghona Jan.

Di Kabul, sekolah tanpa batas ini adalah salah satu langkah menuju mimpi itu.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!