Kanada Diminta Ambil Kembali Sampahnya di Filipina

Pengiriman sampah dari Kanada dalam skala besar menyebabkan aroma tak sedap di Filipina. Aktivis lokal mengatakan pembongkaran ini ilegal.

Senin, 10 Agus 2015 12:00 WIB

Foto: Madonna Virola

Foto: Madonna Virola

Pengiriman sampah dari Kanada dalam skala besar menyebabkan aroma tak sedap di Filipina. Aktivis lokal mengatakan pembongkaran ini ilegal.

Lima puluh kontainer sampah rumah tangga, termasuk sampah dapur dan popok orang dewasa bekas, pertama kali tiba di Filipina pada 2013.

Sejak itu kontainer-kontainer itu berada di pelabuhan Manila sampai beberapa hari lalu ketika beberapa kontainer dibawa untuk dibuang di daerah perbukitan di Provinsi Tarlac.
 
Medilyn Manibo bersama 36 ribu orang lain menandatangani petisi online yang meminta Kanada mengambil kembali sampah mereka.

“Ini jelas tanda pemerintah Kanada tidak bertanggung jawab dengan membiarkan sampahnya dibuang di sini. Dan warga Filipina seharusnya tidak membiarkan sampah itu dibuang dan diproses di sini,” ungkap Medilyn.
 
Pemilik perusahaan daur ulang yang mengapalkan kontainer itu, Chronic Inc., membantah semua tuduhan kalau mereka mengirim sampah rumah tangga.

Jim Makris bersikukuh kontainernya hanya berisi sampah daur ulang yang sebagian besar plastik, yang kemudian diproses di pabrik daur ulang lokal miliknya.

Tapi petugas bea cukai menemukan kontainer itu dipenuhi sampah rumah tangga seperti popok orang dewasa bekas pakai.

Di bulan Maret dan Mei tahun ini, para aktivis menggelar aksi unjuk rasa di Manila menuntut sampah-sampah itu dikapalkan kembali ke Kanada.

“Berdasarkan Konvensi Basel, pembuangan ini ilegal dan dilarang,” kata Anna Kapunan dari kelompok Ban Toxins yang memimpin aksi unjuk rasa itu.
 
Konvensi Basel adalah kesepakatan internasional yang ikut ditandatangani Kanada dan Filipina.
 
Tujuannya untuk mencegah pengiriman material berbahaya dari negara maju ke negara berkembang.
 
Kementerian Luar Negeri Filipina baru-baru ini mengumumkan akan mengajukan protes diplomatik ke pemerintah Kanada.
 
Sementara protes terus berlangsung, beberapa dari sampah itu dibuang di Provinsi Tarlac sebelum dihentikan pejabat daerah.

Tuntutan telah dilayangkan terhadap importir lokal, Chronics Incorporated di Filipina tapi belum ada tuntutan terhadap perusahaan di kanada.
 
Anggota Ban Toxins Anna Kapunan berharap pembuangan ini yang terakhir. “Skenario terburuk adalah sampah itu akan dibuang di sini di Filipina. Dan ini bisa jadi contoh bagi pengiriman lain yang akan datang ke mari. Itu yang ingin kami cegah.”

Anggota legislatif negara itu telah mengajukan resolusi ke Dewan Perwakilan Rakyat untuk menginvestigasi kasus ini.
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing