Neelam dua kali sebulan dia mengadakan pertemuan dengan para perempuan yang suaminya hilang akibat

Neelam dua kali sebulan dia mengadakan pertemuan dengan para perempuan yang suaminya hilang akibat perang antara militan Taliban dan pemerintah.(Foto: Mudassar Shah)

Setelah Malala Yousafzai, seorang gadis di Lembah Swat menarik perhatian dunia karena upayanya memerangi kekerasan para ekstrimis.
 
Neelam Ibrar Chattan yang berusia 21 tahun mengadakan pelatihan resolusi konflik bagi anak-anak dari keluarga yang bergabung dengan Taliban - kelompok yang berperang melawan pemerintah.
 
Dia berharap ini akan memutuskan rantai generasi baru dengan terorisme.
 
Pada 2013, Neelam dianugerahi Paiman Trust Gold Award oleh Uni Eropa karena mengupayakan perdamaian.

Setiap pagi Neelam menyiapkan sarapan bagi ibu dan adik lelakinya. Tapi dia sendiri tidak ikut sarapan.
 
Setelah selesai, dia bergegas menuju pintu untuk pergi.
 
Saat akan pergi, ibunya Mariam Bibi membacakan beberapa ayat Al Quran dengan harapan agar dia terlindungi. Ayah Neelam meninggal dunia lebih dari 10 tahun silam karena serangan jantung.
 
“Saya mendorong Neelam karena ayahnya dulu punya cita-cita menjadi pekerja sosial. Saya ingin anak saya berperan dalam masyarakat di daerah ini. Selain untuk mewujudkan cita-cita sang ayah. Saya tahu orang-orang tidak suka dia pergi keluar rumah dan bekerja untuk masyarakat, tapi saya tidak peduli. Saya percaya pada putri saya,” tutur Mariam Bibi.
 
Setiap bulan Mariam Bibi memperoleh 800 ratus ribu rupiah dari menjahit pakaian. Setengah dari uang itu dia berikan pada putrinya untuk membeli alat-alat menggambar untuk pelatihan yang disebutnya sebagai: ‘Perdamaian untuk Generasi Baru’.

Neelam mengadakan kegiatan ini lima belas kali sebulan di daerah yang berbeda.
 
“Saya melihat anak-anak berumur 12 dan 13 tahun di desa saya bergabung dengan militan Taliban. Tujuan mereka agar bisa mendapatkan uang atau punya senjata sehingga orang lain takut pada mereka. Saya ingin menyelamatkan generasi saya dari terorisme dan mengajarkan mereka tentang perdamaian,” kata Neelam.
 
Neelam mengunjungi para perempuan yang anak-anak, suami atau saudara lelakinya berjuang untuk Taliban.
 
Dua kali sebulan dia mengadakan pertemuan dengan para perempuan yang suaminya hilang akibat perang antara militan Taliban dan pemerintah.
 
Khalida yang berusia 42 tahun jarang melewatkan pelatihan ini. Dia berasal dari sebuah keluarga yang secara tradisional mendukung militan Taliban. Suaminya bergabung dengan Taliban dan tidak pernah pulang.
 
“Neelam mendorong saya untuk menjalani hidup dengan gembira dan menyekolahkan anak-anak saya. Dia juga mendorong saya untuk menjauhkan anak-anak dari senjata dan terorisme,” kata Khalida.
 
Setelah berbincang-bincang dengan para perempuan, Neelam pergi untuk melakukan kegiatan lain. Kali ini dia mengadakan acara menggambar bagi anak-anak di pinggiran Mingora. Anak-anak di sini tidak punya kesempatan belajar menggambar dan melukis di sekolah.
 
Neelam  berkeyakinan kreativitas merupakan salah satu cara untuk mengajari anak-anak untuk ‘membangun’ bukan ‘merusak’.
 
Salah satu tangan Saad Ali yang berusia 11 tahun patah akibat bermain dengan senjata mainan. Hari ini dia menggambar dua wajah desanya menggunakan pensil warna hijau dan abu-abu.
 
“Yang ini desa yang damai, tidak ada terorisme dan perang. Ini adalah tempat yang damai dan indah. Sementara yang satunya, gambar tentang tempat yang dilanda perang dan suasananya tidak menyenangkan,” kisah Saad Ali.
 
Setelah pembantaian di sekolah di Peshawar pada 16 Desember tahun lalu, pemerintah membolehkan para guru membawa senjata. Ini sesuatu yang dianggap Neelam sebagai sebuah kesalahan besar,.
 
Juni lalu seorang pelajar remaja tewas setelah gurunya secara tidak sengaja menembaknya waktu sang guru sedang memeriksa senjatanya.

“Saya meminta semua orangtua dan pejabat pemerintah melarang senjata di sekolah. Saya takut anak-anak lain bisa tewas seperti putra saya. Sekolah adalah tempat belajar dan tidak seharusnya senjata masuk sekolah,” pinta Sardar Ali adalah ayah pelajar tersebut.
 
Itu salah satu dari banyak perjuangan Neelam untuk menciptakan Lembah Swat yang damai.
 
“Kebanyakan orang mengatakan perempuan tidak bisa melakukan sesuatu yang positif dalam masyarakat kita. Ini mendorong saya untuk membuktikan kalau anggapan ini salah. Saya bekerja untuk memperjuangkan hak-hak dasar anak seperti hak hidup dan hak mendapat pendidikan. Saya berhasil menjangkau lebih dari 500 anak sejauh ini, yang secara langsung atau tidak mengalami dampak terorisme. Setidaknya, keluarga-keluarga ini bisa menjalani hidup yang lebih baik karena usaha saya,” kata Neelam.
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!