Skema nomor plat mobil ganjil genap berhasil mengurangi kepadatan di Jalanan New Delhi. (Foto: Bismi

Skema nomor plat mobil ganjil genap berhasil mengurangi kepadatan di Jalanan New Delhi. (Foto: Bismillah Geelani)

Di ibukota India, New Delhi, tengah berlaku skema penjatahan mobil berdasarkan nomor plat. Tujuannya menurunkan tingkat polusi udara yang sudah sangat mengkhawatirkan.

Bukan hanya polusi, kebijakan ini juga telah mengurangi sepertiga jumlah mobil yang melintas di jalanan dan mengurangi kemacetan lalu lintas secara signifikan.

Pemerintah pun berniat melanjutkan skema ini selama dua pekan setiap bulannya. 

Tapi seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, banyak yang merasa skema ini tidak akan berpengaruh besar dalam mengurangi polusi udara di Delhi.

Joginder Singh, salah satu relawan, berdiri di pinggir jalanan Delhi sembari memegang seikat mawar. 

Bunga itu ia berikan pada orang-orang yang tak mematuhi aturan penjatahan mobil --sebuah kebijakan baru pemerintah. 

Aksi ini punya misi; membuat udara kota lebih aman untuk dihirup. 

”Ini cara yang sopan untuk mengimbau orang untuk tidak melanggar peraturan lalu lintas. Dan kami lihat cara ini berhasil,” kata Singh.

Selain para relawan, ribuan polisi di seluruh kota juga turun ke jalan untuk memastikan uji coba ini berjalan sukses.

Pengendara yang tidak mematuhi aturan akan dikenakan denda sekitar 400 ribu rupiah. 

Mukesh Kumar salah satu pengendara yang melanggar. Dia punya mobil hybrid. Tapi baginya, aturan ini mestinya tidak berlaku untuk mobilnya. 

Program penjatahan mobil ini dikenal dengan ‘skema ganjil genap’. Dimana kendaraan dengan plat nomor ganjil boleh melintasi jalanan di tanggal-tanggal ganjil dan plat nomor genap di tanggal genap.

Tapi ada pengecualian; kendaraan roda dua, pengemudi perempuan, beberapa hakim dan politikus dibebaskan dari skema ini.

Program tersebut diuji coba selama dua pekan pada Januari lalu. Tujuannya menurunkan tingkat polusi udara yang sudah sangat tinggi.

Hanya saja, tak sedikit yang mempertanyakan keefektifan program ini. 

Anomita Roy, dari Pusat Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan yang berbasis di New Delhi, mengatakan program ini berguna, setidaknya mencegah situasi menjadi lebih buruk. 

”Skema ini membantu kita mengurangi angka polusi. Saat program ini diberlakukan, angka polusi turun dibandingkan November dan Desember, saat cuaca jauh lebih baik. Tapi bukan berarti kita sudah berhasil mengatasi masalah ini karena angka polusinya sudah sangat berbahaya,“ ungkap Roy.

Namun, dampak yang kelihatan dari skema ganjil genap ini berkurangnya kemacetan di jalanan Delhi.

Institut Penelitian Jalan Raya menyebut, skema ini telah membuka ruang di jalanan sekitar 35 persen. Dampaknya waktu tempuh rata-rata perjalanan berkurang secara signifikan.

Dan ini, kata Gubernur Delhi, Arvind Kejrival, menjadi alasan mengapa aturan ganjil-genap akan kembali diberlakukan selama dua pekan. Bahkan kata dia, masyarakat sendiri yang meminta.  

“Masyarakat mengikuti skerma ini bukan karena takut didenda. Mereka mengerti pentingnya program ini yang bisa membuat jalanan lebih longgar. Jarak tempuh yang biasanya dua jam bisa ditempuh satu jam berkat program ini. Itu sebabnya masyarakat ingin program ini kembali diberlakukan, bahkan ada yang ingin program ini berlaku seterusnya,” kata Kejrival. 

Pada tahap pertama, langkah itu mendapat dukungan masyarakat dan politik yang luar biasa. Tapi kali ini, dihujani kritik.

Banyak yang berpendapat, pengecualian terhadap kendaraan roda dua membuat tujuan semula tak tercapai. Padahal jumlah motor dua kali lipat dari jumlah mobil dan menghasilkan polusi lebih banyak. 

Sementara pihak lain mengatakan, pemerintah perlu memperkuat sistem transportasi publik terlebih dahulu.

Jurnalis dan blogger Shivam juga satu suara. Ia menyebut pemerintah telah membohongi rakyat.

”Tujuan program ini adalah untuk mengurangi polusi tapi ini belum tercapai. Lupakan data, kita semua punya hidung. Sudahkah kita merasakan berkurangnya polusi? Kita disuguhkan propaganda yang menyebut skema ini akan mengurangi polusi. Tapi dengan rapi tujuan program ini bergeser dari polusi menjadi kemacetan jalan, yang sebenarnya bukan tujuan skema ini.”

Tapi Anomita Roy dari Pusat Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan, menegaskan meski  hanya mengurangi kemacetan, ini adalah kontribusi yang signifikan terhadap pengendalian pencemaran.

”Saat kendaraan terjebak macet dan mesin tetap hidup, polusi jadi dua kali lipat. Pada saat yang sama, apa yang kita hirup saat berada di jalan, sebenarnya lebih tinggi dari apa yang nampak,” tutup Roy.

Apa pun argumen yang mendukung atau menentang skema ganjil-genap ini,  ada kesamaan pendapat yang menyebut; kebijakan ini seperti pemadam kebakaran semata. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!