Vonis Mati Terduga Mata-Mata Tingkatkan Ketegangan India Pakistan

Pengadilan militer Pakistan menghukum mati terduga mata-mata India.

Senin, 24 Apr 2017 10:00 WIB

(Foto: Indi Samarajiva)

(Foto: Indi Samarajiva)



Ketegangan kembali meningkat di antara dua negara Asia Selatan, Pakistan dan India. Ini setelah Pakistan pekan lalu menghukum mati warga India bernama Kalbhushan Jadhav dengan tuduhan melakukan spionase dan terorisme.

India dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan mengingatkan Pakistan kalau eksekusi tetap dilanjutkan akan memperburuk hubungan yang sudah memanas. 

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, menyusun laporan berikut dari Karachi. Pakistan.

Dalam video ini, perwira angkatan laut India bernama Kulbhushan Jadhav membuat pengakuan yang mengagetkan. Dia mengaku adalah mata-mata India untuk Pakistan.

Video ini kemudian dijadikan bukti dalam sebuah persidangan militer, yang pekan lalu menghukum mati Jadhav karena aktivitas spionase dan sabotase. 

Jadhav dalam video itu juga mengakui mendukung pemberontakan nasionalis Baloch di barat daya Pakistan dan terlibat dalam terorisme di pusat komersial Karachi. Tujuannya agar bisa bertemu pemberontak Baloch dan berkolaborasi dengan mereka. 

Menurutnya kegiatan ini dilakukan untuk badan intelijen India, Sayap Penelitian dan Analisis India atau RAW.

Dalam video itu Kulbhushan Jadhav bercerita memulai operasi intelijen pada 2003 dan mendirikan usaha kecil di Chabahar, Iran. Di kota itu dia bisa tinggal di sana dan tanpa terdeteksi.

Dia bepergian ke Karachi pada tahun 2003 hingga 2004 dan melakukan beberapa tugas dasar di India untuk RAW. Jadhav mengatakan pada akhir 2013 dia direkrut RAW. 

Pakistan telah lama menuduh agen mata-mata India RAW mendanai pemberontakan dengan kekerasan di provinsi kaya mineral Balochistan.

“Ini tidak lain adalah terorisme yang disponsori negara. Hanya ada sedikit contoh di dunia ini, seorang perwira senior terlibat dalam kegiatan semacam ini dan tertangkap,” kata juru bicara militer Pakistan Letnan Jenderal Asim Bajwa saat mengumumkan penangkapan Jadhav.

Dia mengklaim Jadhav berencana menghancurkan proyek koridor ekonomi senilai 600 triliun rupiah di Balochistan. Proyek yang dianggap akan membuat ekonomi Pakistan unggul dari India.

Asim Bajwa mengatakan India menargetkan pelabuhan Gwadar di Balochistan dan menyusupkan 30 hingga 40 agen RAW. “Para agen ini masuk dari pantai Pakistan dekat Gwadar. Mereka juga bertugas menghidupkan kembali pemberontakan nasionalis yang sekarang sekarat di Balochistan,” tuduh Asim Bajwa.

Tapi India dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menyebut tuduhan terhadap Jadhav itu dibuat-buat. Mereka beralasan video pengakuan itu sudah diedit dan keasliaannya diragukan.

Menteri Luar Negeri India, Sushma Swaraj, mengatakan kepada parlemen bahwa agen Pakistan menculik Jadhav saat dia sedang berbisnis di Iran. Menteri juga menyebut Jadhav tidak mendapatkan pengadilan yang adil.

“Saya ingin berbagi keprihatinan dengan DPR mengenai laporan tentang seorang warga India. Kulbhushan Jadhav dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer Pakistan dengan tuduhan yang dibuat-buat,” kata Sushma Swaraj.

Kedua negara bertetangga ini sudah lama saling tuduh melakukan spionase.

Di India saat ini ada 53 orang Pakistan yang ditahan dengan tuduhan menjadi mata-mata. Sementara Islamabad juga menangkap puluhan orang India dengan tuduhan yang sama.

Komnas HAM Pakistan menyebut banyak terduga mata-mata disiksa sampai mati di penjara di kedua negara. 

Tapi India tidak pernah mengukum mati terduga mata-mata sementara Pakistan pernah mengeksekusi satu orang pada 1999.

Di New Delhi, Swaraj memperingatkan akan konsekuensi serius jika Pakistan tetap melaksanakan eksekusi itu.

Pemerintah India katanya tidak punya pilihan selain menganggap hukuman itu jika dilakukan sebagai tindakan pembunuhan berencana. “Pemerintah dan rakyat India akan melihat kasus ini secara serius karena ada warga negara kami yang menghadapi hukuman mati di Pakistan, tanpa proses hukum dan melanggar norma-norma dasar hukum, keadilan dan hubungan internasional,” katan Sushma Swaraj.

Putusan terhadap Kulbhushan Jadhav datang di saat yang sangat penting. Saat ini India dan Pakistan berencana melanjutkan dialog yang telah lama dinanti mengenai isu-isu penting. Di antaranya perselisihan mengenai Kashmir dan proyek bendungan yang kontroversial.

Tapi untuk saat ini, hukuman mati Jadhav akan semakin menghambat prospek kedua negara menyelesaikan ketegangan yang semakin dalam.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau