Masjid Perempuan Pertama di India

Masjid Ambar didirikan oleh seorang perempuan yang luar biasa, Shaista Ambar.

Senin, 13 Mar 2017 11:24 WIB

Masjid Ambar di kota Lucknow India. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Masjid Ambar di kota Lucknow India. (Foto: Jasvinder Sehgal)


Di India, perempuan tidak dianjurkan untuk ke Masjid secara teratur meski ada tempat khusus untuk mereka.

Tapi satu Masjid di kota Lucknow India utara melakukan hal yang sebaliknya.

Masjid Ambar didirikan oleh seorang perempuan yang luar biasa, Shaista Ambar.

Koresponden Asia Calling KBR, Jasvinder Sehgal bertemu dengan Shaista dan menyusun kisah berikut ini.

Ini Jumat siang di Masjid Ambar di Kota Lucknow. Suara Azan baru saja berkumandang di siang yang terik ini.

Para perempuan pun bergegas untuk mengambil wudu.

Lantai dua Masjid itu dikhususkan bagi perempuan yang mau bersembahyang.

Warga lokal bernama Rabia mengatakan dia datang kemari setiap Jumat. Tapi bagi Rabia, Masjid Ambar bukan hanya sekedar tempat untuk berdoa.

“Ini adalah Masjid terbuka perempuan pertama India tempat para perempuan bisa bersembahyang. Di sini, mereka melakukan berbagai aktivitas keagamaan dan sosial,” jelas Rabia.

“Ada pelajaran khusus untuk belajar tentang hak-hak perempuan seperti yang digambarkan dalam Al-Quran dan konstitusi India. Masjid ini telah menjadi pusat komunitas bagi perempuan.”


Shaista Ambar, 55 tahun, pendiri Masjid Ambar juga ikut solat Jumat hari itu.

Shaista mendirikan Masjid ini pada 1997 untuk menangkal apa yang disebutnya sebagai lingkungan patriakal yang kuat.

Shaista mengingat kembali inspirasi awal pendirian Masjid itu.

“Saat itu bulan Ramadhan. Saya sedang mencari Masjid agar putra saya yang berusia delapan tahun bisa sembahyang. Akhirnya saya menemukan satu Masjid tapi saya dipaksa pergi karena perempuan tidak diizinkan berada dekat Masjid,” tutur Shaista.

“Saya merasa kesal apalagi saat diberitahu hanya laki-laki yang dibolehkan membangun Masjid. Saya menganggap ini sebagai tantangan dan membeli sebidang tanah. Saya menjual perhiasan saya untuk membangun Masjid ini.”

Dalam beberapa bulan terakhir, ada beberapa kampanye yang menuntut perempuan boleh masuk ke dalam tempat-tempat suci agama di seluruh negeri, termasuk ke dalam kuil Hindu dan Masjid.

Agustus lalu, Pengadilan Tinggi di Mumbai membolehkan perempuan masuk ke bagian suci dari Masjid Ali Haji yang terkenal di kota itu. Sebelumnya ini dilarang.

Rabia mengatakan ruang sembahyang khusus perempuan harus disediakan.

“Di India dan negara berkembang lainnya, orang tidak menyadari pentingnya Masjid bagi perempuan. Di banyak negara maju, ada pengaturan pemisahan bagi perempuan Muslim. Ini memberi mereka kebebasan beragama dan ruang untuk beribadah,” kata Rabia.


Setelah salat Jumat, sekelompok perempuan menemui Shaista. Yang mengejutkan mereka bukan Muslim tapi penganut Hindu.

Salah satunya, Rampati Devi yang berusia 72 tahun. Untuk sampai kemari, dia harus menempuh perjalanan sejauh 24 kilometer bersama menantu perempuannya.

Rampati bercerita kalau Shaista sudah seperti putrinya sendiri.

Rampati adalah pemegang kartu bantuan dari pemerintah. Kartu ini bisa digunakan untuk membeli gandum, beras dan bensin bersubsidi. Tapi untuk mendapatkannya sering harus melewati birokrasi yang berbelit-belit dan pejabat yang korup.

Di sinilah peran Shaista. Dia membantu memastikan para perempuan dalam masyarakat mendapatkan jatah mereka tanpa kesulitan.

Selain menghadiri ceramah tentang hak-hak perempuan, para perempuan di Masjid Ambar juga bisa mendapatkan konseling perkawinan.

Seperti yang dilakukan Sofia Khan yang berusia 32 tahun.

“Suami saya adalah pegawai negeri dan kerja di Delhi. Setelah beberapa bulan kami menikah, mertua saya mulai ribut soal mahar,” jelas Sofia. 

“Terjadi beberapa kali pertengkaran di rumah. Saya dipaksa keluar dari rumahnya saat usia perkawinan kami satu tahun. Sekarang Shaista sedang membantu saya menyelesaikan masalah ini.”

Untuk membantu perempuan yang membutuhkan bantuan medis, Shaista juga telah membangun wisma dekat Masjidyang jaraknya tak jauh dari rumah sakit terbesar di Lucknow.

Perempuan dari desa-desa terpencil bisa tinggal di wisma ini dengan gratis.

Dan tak hanya itu. Shaista sekarang juga melengkapi Masjid itu dengan panel tenaga surya.

“Pemasangan panel surya di atap Masjid ini tidak hanya membantu mengurangi pemakaian listrik juga meningkatkan kualitas udara dengan mengurangi jejak karbon,“ kata Shaista.

Dan bulan ini Masjid Ambar akan merayakan ulang tahunnya yang ke-20.


 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Menristek Minta Dosen Mundur Karen HTI, Pengamat: Itu Ngawur

  • Jokowi : Pengadaan Alutsista Harus Lewat G to G
  • Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Anti Terorisme
  • Terus Lakukan Intimidasi Penggusuran, Warga Dobrak Gerbang PT KA Bandung

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.