Buaian untuk Selamatkan Bayi Perempuan di India

Gerakan ini berharap bisa menyelamatkan bayi-bayi baru lahir yang terlantar ini dan menemukan rumah baru bagi mereka.

Senin, 16 Jan 2017 10:56 WIB

Anak yang ditelantarkan di buaian. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Anak yang ditelantarkan di buaian. (Foto: Jasvinder Sehgal)


Dalam masyarakat India yang patriarkal ada kecenderungan untuk lebih menyukai bayi laki-laki.

Ini menyebabkan ratusan orangtua setiap tahun menelantarkan bayi perempuan mereka yang baru lahir.

Sebuah insiatif benama ‘Buaian untuk Bayi yang Tidak Diinginkan’ berupaya melawan tren itu. Gerakan ini berharap bisa menyelamatkan bayi-bayi baru lahir yang terlantar ini dan menemukan rumah baru bagi mereka.

Koresponden Asia Calling KBR, Jasvinder Sehgal, mengunjungi kota Udaipur untuk mencari tahu lebih jauh. 

Saat ini saya sedang berada di meja resepsionis rumah sakit daerah di Udaipur.

Dokter, perawat dan pasien tampak lalu lalang…tapi yang menarik perhatian saya adalah sebuah buaian yang berada di pojok ruangan. 

Tiba-tiba sebuah bel berbunyi dan saya melihat dua perawat bergegas menuju buaian itu.

Di dalamnya ada bayi baru lahir yang terbungkus kain oranye.

Saya bertanya pada perawat apa yang terjadi dan ini penjelasan suster senior, Kalpana Kumari.

“Begitu bayi ditaruh di buaian, dua menit kemudian bel akan berbunyi yang menginformasikan kalau ada bayi yang ditaruh di sana. Kami tidak bisa tahu siapa yang menaruh bayi itu. Kemudian bayi itu kami bawa untuk diperiksa kesehatannya. Kalau sang bayi sehat akan segera dibawa ke panti asuhan,” tutur Kalpana.

Vimla Suhalka, juga perawat di tempat ini.

“Kebanyakan bayi adalah perempuan. Saya merasa sedih setiap kali ada bayi yang ditaruh di sana dan juga kasihan pada ibunya. Bayi-bayi itu lucu, murni dan cantik. Biasanya umur bayi yang kami terima tiga atau empat hari tapi pernah ada bayi berumur satu hari,” ungkap Vimla.  

Begitu bayi dinyatakan sehat, dia kemudian dijemput petugas Mahesh Ashram. Ini adalah lembaga adopsi yang memulai inisiatif ‘Buaian untuk Bayi yang Tidak Diinginkan’.

Deepak Singh Deora bekerja di lembaga itu. Salah satu tugasnya membawa ambulance untuk menjemput bayi-bayi itu.

“Kami memulai program buaian ini pada 2011 dengan tujuan agar orang-orang yang tidak menginginkan anaknya, bisa memberikannya ke kami bukan ditelantarkan begitu saja. Saya baru saja menerima seorang bayi dan akan membuat laporan ke polisi. Setelah bayi perempuan ini bebas secara hukum, kami akan mencari keluarga yang mau mengadospinya,” jelas Deepak.

Di panti asuhan Mahesh Ashram beberapa anak sedang bermain dengan gembira.

Diantara mereka ada Jainel yang berusia tiga tahun. Dia sedang berkunjung ke rumah lamanya ini bersama orangtua angkatnya.

Pankaj Saldaar adalah ayah Jainel.

“Hidup kami berubah setelah mengadopsi dia. Seharusnya program adopsi terus didorong karena ini tidak hanya membantu anak-anak yang ditelantarkan tapi juga memberikan kehidupan baru bagi pasangan tanpa anak,” kata Pankaj.

Ria Saladaar adalah ibu Jainel. Dia bercerita kalau sangat bersyukur bisa mengadopsi Jainel karena sang putri telah mengubah hidupnya dan membawa kebahagian bagi keluarganya.

Di India, menelantarkan bayi adalah perbuatan melanggar hukum dan siapa saja yang dinyatakan bersalah akan dihukum tujuh tahun penjara.

Tapi bayi-bayi yang baru lahir, terutama bayi perempuan, terus saja ditolak.

Kemiskinan dan mahar adalah alasan utama orangtua tidak menginginkan mereka karena dianggap sebagai beban. 


Devendra Agrawal dari Mahesh Ashram mengatakan mereka sudah merawat 150 bayi sejak 2011.

Inisiatif ini berjalan baik dan bahkan menarik perhatian pemerintah.

“Dari 150 bayi, 138 telah diadopsi oleh orangtua yang membutuhkan setelah menyelesaikan formalitas hukum. Pemerintah negara bagian terkesan dengan skema yang sedang kami kerjakan di seluruh negara. Beberapa buaian telah ditaruh di beberapa tempat berbeda,” jelas Devender.

Menurut Departemen Pengembangan Perempuan dan Anak India, hampir dua ribu anak perempuan dibunuh setiap hari - sebelum atau sesaat setelah dilahirkan.

Skema ‘Buaian untuk Bayi yang Tidak Diinginkan’ memang tidak bisa menyelamatkan semua bayi tapi sejauh ini telah menyelamatkan banyak nyawa.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR