Ucapan Bocah Tiga Tahun Bikin Bapaknya Berhenti Merokok

“Hasilnya sungguh di luar pekiraan kami, dapat 11, 6 juta rupiah lebih, dan bisa buat beli motor.”

Kamis, 28 Sep 2017 16:52 WIB

“Ayah rokok murah, obatnya yang mahal,”  kata Keyla, tiga tahun, anak pasangan Rusli dan Dita Sari. Ucapan itu disampaikan Keyla berulang-ulang setiap kali melihat bapaknya akan merokok. “Saat itu dia baru belajar berbicara. Dia lihat iklan di TV, itu bikin saya trenyuh,” cerita Rusli satu setengah tahun kemudian. Ucapan itu lalu membuatnya membulatkan tekad untuk berhenti merokok. Sesungguhnya sang istri sudah berulangkali meminta sang suami untuk berhenti menghisap rokok sejak lama, namun belum berhasil benar.  “Dulu saya melarang suami merokok karena dia kurus. Saya tidak berdebat tapi minta dia agar gemuk, salah satunya dengan berhenti merokok, tapi baru berhasil setelah tersentil anak saya,” tambah Dita Sari.

Dokter RS  Persahabat dr. Feni Fitriani Taufik, Sp mengatakan untuk mendorong orang tua berhenti bisa menggunakan anak-anak untuk menyentil, sebaliknya untuk menegur yang muda bisa dilakukan yang sepuh. “Cara ini cukup efektif, anak-anak yang masih kecil menegur orang tuanya.”

Dapat Satu Motor

Selepas memutuskan berhenti Rusli memiliki ide untuk mengumpulkan uang yang biasanya dikeluarkan untuk membeli rokok. “Di rumah ada akuarium cukup besar, itu kami tutup kami lubangi seperti celengan dan suami bilang, ini nanti menjadi tempat uang rokokku,” tambah Dita yang menyebut aksinya sebagai the power of 20 ribu. Satu setengah tahun berlalu, sampai kemudian mereka memutuskan untuk membuka akuarium yang masih tertutup stiker. “Hasilnya sungguh di luar pekiraan kami, dapat 11, 6 juta rupiah lebih, dan bisa buat beli motor.”


Cerita ini sempat viral di media sosial pada July 2017 lalu.  Ribuan orang membagi dan puluhan ribu lainnya menyampaikan komentarnya. Menurut Dita, banyak yang lantas meniru langkahnya. “Mereka kemudian cerita, sudah dapat segini, seru...” lanjut Dita. 

Kepala Unit Komunikasi dan Pengelolaan Pengetahuan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Ruddy Gobel mengatakan situasi serupa yang terjadi di sebagian besar keluarga Dita-Rusli banyak dialami oleh keluarga yang anggotanya merokok, terutama dari kelompok masyarakat miskin.  “Karena mereka mengeluarkan setiap hari,  dalam jangka panjang sangat besar jumlahnya.” Menurut Ruddy pada kelompok miskin yaitu pada sekitar 10,64% populasi, memiliki pengeluaran terbesar untuk beras yaitu mencapai sekitar 20 persen. “Tetapi pengeluaran terbesar kedua setelah beras adalah untuk rokok yaitu 11,70 persen pada tahun 2007 dan meningkat terus.” tambah Ruddy. Kondisi berlaku di tingkat nasional, baik di perkotaan maupun pedesaaan.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Penembak Brimob di Timika Berjumlah 15 Orang

  • Ahli: PNPS Penodaan Agama Langgar HAM Warga Ahmadiyah
  • Jokowi Tunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Dialog Antaragama
  • Tak Dapat Bantuan KIS, Puluhan Pemulung Geruduk Gedung DPRD Sumut