Audio Perpetua: Perjuangan Tunanetra Meraih Kesempatan Kerja

Ketika sebuah film dokumenter tidak hanya meninggalkan Anda dengan perasaan senang atau sedih.

Senin, 03 Jul 2017 08:00 WIB

Carol dalam film dokumenter Audio Perpetua.

Carol dalam film dokumenter Audio Perpetua.

Pernahkan Anda menonton sebuah film dokumenter dan merasa mengenal para tokohnya? Dan bertanya-tanya apa yang terjadi setelah itu? Apakah film dokumenter itu berdampak pada kehidupan mereka atau tidak?

Sebuah inisiatif yang berbasis di Jakarta ingin memastikan kalau sebuah film dokumenter tidak hanya meninggalkan Anda dengan perasaan senang atau sedih. Good Pitch ingin mengubah perasaan itu menjadi perubahan sosial.

Nicole Curby bertemu dengan tim di belakang film dokumenter Filipina berjudul Audio Perpetua untuk mencari tahu lebih jauh. 

“Orang-orang memanggil saya Carol Catacutan. Catacutan dalam bahasa Filipina berarti  menakutkan,” kata Carol. Saya bertanya apa itu benar? Dan dia menjawab, “Saya selalu bilang sebaiknya Anda takut pada saya, karena saya orang yang sangat tangguh.”

Belum lama ini saya bertemu Carol di Jakarta. Saat itu dia memakai kardigan ungu muda dan senyuman hangat menghiasi wajahnya. Tidak nampak menakutkan. Tapi saya bisa merasakan kalau Carol adalah orang yang pantang menyerah dan tangguh. 

Dia mengklaim sebagai satu-satunya tunanetra di Filipina yang pernah menulis skrip untuk televisi.

“Ini media yang sangat bagus, jadi seperti orang buta yang bercerita pada orang yang bisa melihat. Saya juga menulis dua novel roman dan sudah terbit. Ketika saya terlibat dengan organisasi ini, saya merasa ini seperti sebuah panggilan, sebuah misi, jadi saya berikan semuanya,” tutur Carol.

Saat ini Carol mendedikasikan waktunya untuk ATRIEV, sebuah organisasi yang berbasis di Manila. Lembaga ini melatih orang-orang dengan gangguan penglihatan agar bisa memakai komputer dan teknologi lain.

Tujuannya agar mereka punya keterampilan dan bisa bekerja secara profesional. Pada akhirnya ini akan membuat mereka bisa hidup mandiri.

“Ketika kami mulai melatih tunanetra cara memakai komputer, ini membuka banyak kesempatan. Mungkin dulu Anda tidak bisa bayangkan ada programer tunanetra, tapi sekarang kami punya programer junior dan pengembang perangkat lunak. Mereka adalah lulusan kami. Kami punya agen call center, petugas transkrip dan asisten virtual. Jadi peluang ini ada karena mereka belajar di ATRIEV,” kata Carol.

Filipina adalah salah satu ibu kota call center di dunia, dimana ada 1,2 juta orang bekerja di industri ini. Itu berarti ada banyak lowongan pekerjaan di bidang jasa dan teknologi. Tapi punya keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan hanyalah rintangan pertama yang harus diatasi.

Perusahaan sering enggan mempekerjakan orang dengan gangguan penglihatan. Dan kalaupun ada yang mau, perusahaan kerap memperlakukan mereka tidak setara dengan staf lain.

“Beberapa orang tidak begitu sabar kepada orang dengan gangguan penglihatan, beberapa bahkan sangat merendahkan. Padahal mereka juga tidak mau seperti itu. ‘Anda tidak perlu menggurui saya, saya bisa melakukan pekerjaan saya.’ Jadi di sana kesulitannya,” jelas Ivy Baldoza. 

Saat ini dia sedang membuat film dokumenter berjudul Audio Perpetua. Film ini tentang perjalanannya mengikuti para peserta di ATRIEV.

“Selalu ada pertanyaan ke kami, mengapa kita harus mempekerjakan orang dengan disabilitas ketika bisa mempekerjakan orang-orang yang sangat mampu? Jadi film dokumenter ini penting karena kami ingin menunjukkan dan menciptakan kesadaran kalau Anda bisa mempekerjakan orang-orang disabilitas,” jelas produser film, Melanie Entuna.

Setelah tiga tahun syuting dan produksi, pembuatan film dokumenter itu kini berada di tahap akhir. Tapi Melanie mengaku belum puas jika hanya merilis film ini dan berharap yang terbaik.

Ivy dan Melanie bermitra dengan Good Pitch, sebuah lembaga yang berbasis di Jakarta. Ini adalah  lembaga nirlaba yang memfasilitasi pendanaan dan jaringan untuk mendorong perubahan lewat film.

“Kami ingin memberi workshop soal sensitivitas bagi orang yang bisa melihat sehingga mereka tahu bagaimana menghadapi orang dengan gangguan penglihatan. Kami ingin mendidik pengusaha cara mempekerjakan dan memperlakukan tunanetra saat berada di lingkungan profesional. Kami ingin menciptakan kesadaran melalui pemutaran film terutama di sekolah-sekolah. Kami mencari dukungan teknologi dan peralatan,” kata Melanie.

Dan Melanie memastikan para pemain film itu tetap bisa menikmati film ini. 

“Selain membuat film dokumenter, kami juga membuat deskripsi audio tentang film ini. Tujuannya: menciptakan pengalaman luar biasa bagi mereka. Dalam deskripsi audio ini, para pengisi suara menggambarkan seluruh adegan yang terjadi. Ini akan jadi pengalaman bagi mereka,” jelas Melanie.

Bagi Carol, adalah sebuah kehormatan bisa bermain di film ini. Meski dia mengaku agak aneh harus diikuti kru film selama dua tahun. Ini mungkin menghalangi geraknya tapi tentu saja tidak menghalangi ketangguhannya. 

“Kami selalu mengatakan kepada mereka, ‘sebaiknya kalian keluar dari jalan orang buta, jika tidak, kami akan menginjak kamera kalian. Jadi hati-hati!” kata Carol sambil tertawa.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.