Ibu Polisi Korban Mako: Saya Lihat Jenazahnya, Saya Kuat-kuatkan saja

Syukron Fadhli, jadi salah satu korban polisi yang tewas dalam ricuh Mako Brimob. Belum lagi sebulan keluarga bangga, lantaran Syukron ditugaskan di satuan khusus kepolisian, harapan itu keburu pupus.

Umayah, ibu Syukron (kiri) dan Triyanto, ayah Syukron (kanan). (Foto: KBR/Ika)

Minggu, 27 Mei 2018

- [SAGA] Ibu Polisi Korban Mako: Saya Lihat Jenazahnya, Saya Kuat-kuatkan saja

KBR, Kebumen - “Ini bunga sudah disiapkan,” gumam seorang polisi, Minggu (13/5/2018) jelang siang di kantor Polres Kebumen, Jawa Tengah.

Mata polisi itu mengarah ke belasan keranjang dan beberapa kantong bunga tabur yang menganggur di atas meja. Pelengkap ritual ziarah itu disiapkan untuk Kapolri Tito Karnavian dan istrinya.

Tapi, rentetan bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, membuat kunjungan orang nomor satu di Kepolisian itu batal.

Lawatan ke Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, ini sebetulnya diniatkan untuk mengunjungi keluarga polisi korban rusuh di Mako Brimob Kepala Dua, Depok, Jawa Barat. Pada 8 Mei lalu, selama lebih dari 30 jam, jantung markas pasukan elit kepolisian tersebut dikuasai narapidana terorisme. Insiden itu menewaskan lima polisi dan seorang napi.

Seorang polisi yang tewas adalah Syukron Fadhli. Polisi berusia 21 tahun dan berasal dari Desa Ngasinan, Kecamatan Bonorowo, Kebumen.

Di rumahnya, ucapan belasungkawa, karangan bunga, dan kursi masih berjajar di halaman dengan beratap tenda datar. Tamu berdatangan, beberapa di antaranya berseragam polisi. Sebagian dari mereka, merupakan Detasemen Khusus 88 Antiteror.


(Ucapan belasungkawa di halaman rumah Syukron di Kebumen, Jawa Tengah. Foto: KBR/ Ika Manan)

Umayah, ibu Syukron, mengatakan kedatangan Kapolri Tito Karnavian, sesungguhnya yang paling dinanti keluarga.

“Iya, padahal sudah disiapkan,” tutur ibu Syukron, Umayah saat ditemui KBR.

Sepasang mata ibu dua anak itu masih redup ketika sepekan lalu saya bertandang ke sana. Sekalipun berkata ikhlas, kehilangan anak pertamanya tetap saja jadi hal yang tak dinyana.

“Kamis sebelum ini (kabar kematian), masih teleponan, ngobrol panjang. Saya tanya, kamu sehat? Sehat, Mak, katanya.”

“Saya lagi piket pagi, sebentar lagi pulang, Mak,” begitu Umayah menirukan ucapan sang anak.

Hingga, kabar kematian Syukron sampai ke telinga keluarga, sepekan setelahnya. Yazid, paman Syukron, mendapat telepon dari Jakarta. Lukman Hakim—kakak sepupu sekaligus wali siswa Syukron di Jakarta, lantas mengabarkan; Syukron meninggal dalam tugas jaga di Mako Brimob.

“Saya video call, itu diangkat tapi nggak mau bicara, langsung dimatikan. Sampai tiga kali. Lalu Lukman yang menghubungi saya, menyampaikan kondisi terakhir Syukron,”

- kata Yazid saat ditemui KBR di Kebumen.


(Foto Syukron--yang paling kanan--terpampang bersama deretan potret lain yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kebumen, Jawa Tengah. Foto: KBR/ Ika Manan)

Syukron, adalah korban polisi dengan usia paling muda. Belum sebulan ia ditugaskan di Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri.

Sang ibu mengatakan, tak paham tentang satuan antiteror bergengsi di kepolisian tersebut. Yang ia tahu, anak sulungnya itu, sejak lulus SMP sudah bertekad masuk angkatan, entah TNI atau Polisi.

“Hari Selasa kejadian, itu saya tahu dia ditugaskan. Syukron bilang, saya masuk ke bagian ini, tapi namanya orang kampung kan tahunya kerja, dia punya cita-cita masuk polisi, yasudah itu. Tapi saya nggak tahu lagi. Saya nggak tahu itu,” kata Umayah mengingat.

Tapi malang tak dapat ditolak, kabar duka itu datang kelewat cepat. Berita berpulangnya Syukron diterima keluarga pada Rabu sore—sehari setelah rusuh pecah di kompleks seluas 75 x 50 meter tersebut. 

“Lukman hanya cerita, Syukron kecelakaan di Mako Brimob waktu menjalankan tugas. Karena waktu itu antara napi dengan petugas di situ tidak seimbang sehingga ada kerusuhan massal,” tutur Yazid.

Sementara Umayah tak mengerti, oleh teroris di Mako Brimob itu anaknya dibedil di bagian kepala.

“Saya sempat melihat jenazahnya. Saya kuat-kuatkan saja, hanya muka. Saat melihat wajahnya, ya sudah,”

- ungkap Umayah pasrah.

Menurut laporkan kepolisian, Syukron tewas dengan luka tembak pada kepala bagian kiri atas kuping, tembus kepala sebelah kanan. Ada juga luka lecet di paha kanannya. Sang paman melihat luka itu di jenazah keponakan.

“Ada memang luka di sekitar di atas telinga, tembus begitu. Dan ada luka sedikit di bagian yang lain. Tidak semacam jenazah yang lain, kan kalau di berita itu seperti sadis,” cerita Yazid, paman Syukron.

Saat ditawan puluhan jam itu, para teroris disebut melontarkan bertubi ancaman juga permintaan bocoran informasi dari polisi. Sumber KBR di kepolisian menyebut, saat diancam teroris tersebut, Syukron memilih ditembak ketimbang dilukai di bagian leher dengan pecahan kaca, seperti korban polisi lainnya.

Syukron dikenal tak banyak bicara, namun diam-diam gigih. Keinginan bergabung ke TNI atau Polisi tak kenal surut. Kata Umayah, anaknya itu rutin melakukan latihan fisik; berlari dan olah raga lain.

Sebelum masuk ke Kepolisian, ia terlebih dulu mendaftar TNI AD. Tapi gagal, karena usianya tak memenuhi syarat. Setahun setelahnya, Syukron kembali menempa diri bersama kakak sepupunya, Lukman Hakim. Kakaknya ini, merupakan anggota TNI AD. Dan ketika mendaftar di Kepolisian, ia lolos.

Maret 2018 Syukron menempuh pendidikan di Lido. Sepekan kemudian dapat jatah libur, ia sempatkan pulang kampung ke Kebumen. Lantas pada 23 April, ia memulai tugasnya dengan apel di Polda Metro Jaya. Pekan kedua Mei, ia harus berdepan-depan dengan puluhan teroris yang ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua. Hingga menemui ajal dengan luka tembak di kepala.

Kapolri Tito Karnavian memberikan penghargaan kenaikan jabatan luar biasa sekaligus bantuan rumah ke enam anggota yang tewas dalam sekapan narapidana teroris di Mako Brimob.

Sementara, kini, harapan keluarga bertumpu pada adik Syukron, Hafid Habiburrahman.

“Sekarang dia tinggal satu-satunya milik saya,” ucap Umayah lirih.


(Keluarga Syukron antara lain Bibi Syukron (kiri); Umayah, Ibu Syukron (kedua kiri); Triyanto, ayah Syukron (ketiga kiri); Hafid Habiburrahman, adik Syukron (kanan). Foto: KBR/ Ika)

Bungsu yang sekarang jadi anak semata wayang keluarga itu duduk di Kelas 3 SMP. Keinginannya sama seperti sang kakak; jadi polisi. Mengetahui itu, utusan Densus 88 yang sore itu ke rumah Syukron, menitipkan pesan.

“Ini generasi Syukron, Syukron junior. Tugas kamu sekolah yang baik, jaga kesehatan,” kata perwakilan Densus 88 tersebut.

“Yang paling utama ada lima nilai dasar Densus 88; niat ikhlas beribadah kepada Allah, berbakti kepada orangtua, disiplin dan kerja keras, rendah hati, peduli, dan respect sama orang, lalu kelima taat kepada hukum,” lanjut utusan Densus 88 tersebut seraya mengajak tos yang disambut dengan lima jari Hafid.