Abdul Walid: 'Manisnya Madu Asli Sumbawa'

“Para petani kini tidak lagi kesusahan menjual produk madu. Ketika panen, enggak perlu ke pengepul. Karena saya siap menampung."

Abdul Walid (kiri) bersama petani madu di Desa Sempe, Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa. Foto: KBR.

Kamis, 31 Mei 2018

KBR, Jakarta - Desa Sempe, Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa, terletak di bawah Gunung Batu Lanteh. Terisolir dari jalan aspal. Untuk ke sini, harus melalui jalan menanjak pebuh batu, pasir, dan tanah merah.

Mayoritas profesi warganya adalah bertani. Selain sayuran, di luar masa tanam, mereka juga memanen madu untuk tambahan penghasilan.

Bagi pemuda Desa Sempe, mencari madu sudah menjadi tradisi. Seperti yang dilakoni Abdul Walid, kala usianya 15 tahun –bersama sang paman ia mencari sarang lebah. Dari pamannya itulah, Walid belia belajar bagaimana memanen madu.

“Sampai saya menginap bersama paman di hutan demi hasilkan (madu) untuk keperluan belanja sehari-hari,” kenang Walid. 

Hasil mencari madu, dijual ke pengepul. Jika tak ada pengepul, maka madu dibiarkan begitu saja. Kalaupun dibeli, harganya murah. Sebotol madu cuma dihargai Rp10 ribu.

Sampai kemudian ketika SMA, Walid berkawan dengan anak seorang pengusaha madu. Dia sering ke rumah temannya di Sumbawa Barat. Perlahan dia belajar mengenal bisnis madu.

“Saya sering diajak ke rumahnya. Di situ diajak bantu pasang-pasang label. Terus di situ saya berpikir, loh kenapa Sempe enggak bisa?”

Waktu itu, usia Walid beranjak 19 tahun dan menjajal jadi pengusaha madu asli Sumbawa. Sebab ia resah, melihat di Sumbawa Barat banyak orang mengeruk keuntungan besar dari madu. Mereka punya merek sendiri, tidak dijual ke pengepul seperti yang desanya lakukan. Produk itu lantas punya identitas dan dicari orang.

Dia pun berpikir, mengapa Sempe tidak bisa menjual madu dengan nama sendiri? 

“Kenapa ada sumber daya alam tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya? Di kampung saya belum ada yang memanfaatkan (madu). Tahunya menjual ke pengepul di Sumbawa,”

- tukasnya kesal.

Berbekal modal nekat, Walid lantas membawa sepuluh jerigen madu dari desanya ke Sumbawa untuk dijual. Meski tak punya pasar, tapi tak membuatnya habis akal. Ia lantas memanfaatkan media sosial Facebook. Dua minggu diiklankan, madunya tetap tak dilirik pembeli.

“Lumayan lama (terjualnya). Sampai saya jenuh. Apa saya bisa mengembalikan modal? Sampai harga terendah saya coba jual.”

Hingga dia bertemu Kepala Dinas Kehutanan. Olehnya, Walid disarankan membentuk kelompok tani dan membuat merek sendiri. Dia kemudian mendekati para petani madu di desanya, berusaha meyakinkan mereka untuk tidak menjual madu ke pengepul. 

Madu-madu itu ia kemas sendiri. Ia namai produknya MAS –Madu Asli Sumbawa. Produknya lantas diikutkan dalam pameran di Jakarta. Sejak itulah pintu usahanya terbuka. Kini Walid bisa menjual hampir 2 ton madu per tahun.

“Seratus botol saya bawa ke Sumbawa, enggak sampai tiga hari produk (MAS) sudah habis. Sekarang madu MAS sudah sampai Jakarta, Bandung, Alor, Bali.” 


Usai dari pameran, usahanya lantas dilirik Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbawa serta Jaringan Madu Hutan Sumbawa. Walid diajak bergabung dengan JMHS. Ia kerap mengikuti pelatihan dan cara berbisnis. 

“Supaya madu tidak cepat rusak, kadar airnya rendah. Lalu harus pakai sarung tangan, karena kalau pakai tangan, bakteri akan mencemari madu,” jelas Walid. 

Ilmu yang dia dapat ia ditularkan pada 40 petani binaannya. Mereka inilah yang setiap kali panen memasok madu untuk produk MAS. Walid memberlakukan sistem bagi hasil dengan para pencari madu. Satu botol berukuran 1,5 liter dibeli dengan harga Rp66 ribu. Setiap tahunnya juga, Walid memberikan bonus kepada para petani tapi itu bergantung seberapa banyak madu yang dijual.

“Para petani kini tidak lagi kesusahan menjual produk madu. Ketika panen, enggak perlu ke pengepul. Karena saya siap menampung dan saya akan terima dalam bentuk apapun,” ucapnya bangga. 

Kini, para petani madu binaan Walid juga menjual madu beserta sarangnya. Satu dari 40 petani yang bergabung dengan Walid adalah Hijir. 

“Kami menjual (madu) harganya enggak tetap. Tergantung antara penjual dan pembeli. Kalau sekarang, kami tetap setor ke ketua kelompok kami,” pungkas Hijir. 

Petani madu lainnya, Satri Mochlis, mengatakan sosok Walid dikenal tangguh karena berhasil mengajak para pemuda Desa Sempe ikut bergerak. 

“Syukur alhamdulilah dengan adanya kelompok ini membantu pemuda-pemudi. Sebelum ada kelompok ini, terserah harga jualnya berapa. Tapi sering dipatok rendah,”

- ujar Mochlis.

Perlahan namun pasti, Walid dan para petani binaannya telah mereguk manisnya peluang bisnis madu. Selain dijual melalui media sosial, kini MAS juga dititipkan di Galeri Kelompok UMKM Sumbawa. Mimpi Walid ingin menjadikan desanya sebagai sentra wisata pembuatan madu.