Berkoalisi dengan Lawan

Politik sangat dinamis. Yang dulu kawan, bisa jadi lawan. Koalisi bisa dengan partai mana pun, sesuai dinamika politik di setiap daerah, dan ini menuntut koalisi yang berbeda pula.

Senin, 08 Jan 2018 05:20 WIB

Ilustrasi: koalisi parpol

Ilustrasi: koalisi parpol

Ini adalah hari pertama pembukaan pendaftaran pasangan calon gubernur dan pemilihan kepala daerah serentak. Tenggat waktu yang diberikan KPU tak lama, hanya sampai tengah malam pada 10 Januari mendatang. Sejak beberapa waktu lalu, geliat partai politik mulai terasa di sejumlah daerah - kasak kusuk sana sini, menggalang koalisi, mencari dan mengusung calon yang dianggap bisa meraup dukungan. 

PDI-Perjuangan sudah menyebut calon yang diusungnya di sejumlah daerah, sementara Partai Demokrat juga mengumumkan 17 pasang nama yang bakal diusung dalam Pemilihan Gubernur tahun ini. Peta politik di setiap daerah juga berbeda-beda. Di Jawa Barat, koalisi sudah terbentuk antara Partai Nasdem, PPP, PKB dan Partai Hanura, juga ada koalisi Partai Demokrat dan Partai Golkar serta koalisi Partai Gerindra, PKS dan PAN. Di Jawa Timur, pemetaannya lain lagi. Koalisi Partai Gerindra, PAN dan PKS justru terancam bubar karena belum bersepakat soal nama kepala daerah yang akan diusung. Di Jawa Timur, hitung-hitungan politik berubah lagi seiring pengunduran diri calon wakil gubernur Abdullah Azwar Anas. 

Dari sini terlihat jelas: politik sangat dinamis. Yang dulu kawan, bisa jadi lawan. Koalisi bisa dengan partai mana pun, sesuai dinamika politik. Peta kekuatan partai berbeda-beda di setiap daerah, dan ini menuntut koalisi yang berbeda pula. Partai mungkin menjalankan apa kata pepatah ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. 

Kita sebagai pemilih juga tak perlu menjadi terlalu fanatik pada satu partai tertentu, karena toh sikap partai bisa berubah sesuai angin bertiup. Dengan begitu kita tak perlu bersitegang dengan sesama karena partai politik, karena toh partai politik bisa berubah arah. Yang pasti, kita mesti cermat mencari tahu latar belakang serta visi misi setiap calon yang akan dipilih dalam Pilkada. Karena pilihan kita menentukan bagaimana nasib daerah kita. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Selama ini kita sering mendengar berita mengenai orang yang meninggal akibat penyakit diabetes, sehingga menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit yang ditakuti.