Ponpes Kebon Jambu Cirebon, Pencetak Ulama Perempuan

Masriyah Amva selalu mengedepankan kesetaraan gender saat membimbing ribuan santrinya

Masriyah Amva saat memberi tausiyah di hadapan ratusan santrinya di Pesantren Kebon, Jambu, Cirebon, Jawa Barat. (Foto: KBR/Taufik)

Kamis, 12 Desember 2019

Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy Cirebon sudah 12 tahun dipimpin oleh ulama perempuan. Masriyah Amva, yang memimpin 1600-an santri, selalu mengedepankan kesetaraan gender kepada seluruh santrinya, laki-laki atau perempuan. Jurnalis KBR Astri Yuana Sari berkunjung ke pesantren ini.  

- Ponpes Pencetak Ulama Perempuan
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Cirebon- Di hadapan ratusan santri laki-laki yang mondok di Pesantren Kebon Jambu, Masriyah Amva bicara tentang keseteraan gender.

Sudah 12 tahun Masriyah Amva menjadi Ibu Nyai atau pemimpin pesantren ini, setelah suaminya meninggal dunia.

Di masa awal, tak mudah bagi ia memimpin pondok pesantren ini.Banyak tokoh agama memandangnya sebelah mata. Bahkan banyak pula orangtua santri yang memindahkan anaknya ke pesantren lain, hanya karena tak mau dipimpin perempuan.

Namun waktu membuktikan, Kebon Jambu semakin berkembang. Tiap tahun, jumlah santri terus bertambah. Saat ini hampir 2000 santri sekolah di sini. Bahkan laki-laki adalah santri mayoritas.

“Akhirnya banyak mata yang melihat, ternyata perempuan itu bisa setara dengan laki-laki, walaupun di ranah-ranah yang tidak menerima perempuan. Nah perjalanan hidup saya ini kemudian menjadi contoh bagi kesetaraan. Dan saya juga membawa nilai-nilai kesetaraan di dalam pesantren ini. Ternyata hidup ini perlu adanya kesetaraan di antara laki-laki dan perempuan,” ujarnya.

Saily Rahmah, menantu Masriyah, belajar banyak soal kesetaraan gender. Saily merasa, ajaran-ajaran itu ikut membentuk dirinya menjadi lebih kuat sebagai perempuan.

Akhirnya banyak mata yang melihat, ternyata perempuan itu bisa setara dengan laki-laki, walaupun di ranah-ranah yang tidak menerima perempuan

- Pemimpin Pesantren Kebon Jambu Al Islamy Cirebon, Masriyah Amva

Ma'had Alyatau pendidikan setara perguruan tinggi di Pondok Kebon Jambu, menjadi sarana bagi Masriyah untuk mewujudkan cita-citanya mencetak ulama-ulama perempuan.

“Dari perjalanan saya ini, saya menganggap bahwa ulama-ulama perempuan ini perlu diangkat. Karena sebetulnya mereka banyak, tapi tidak bisa terangkat. Saya kalau tidak mengangkat diri untuk hidup, saya mungkin tenggelam,” katanya.

Versi Marsiyah, ulama perempuan tak hanya mereka yang berjenis kelamin perempuan. Tapi juga ulama laki-laki yang punya pemahaman soal isu perempuan.

Di pesantren ini seluruh pengajar baik ustad atau guru dan dosen harus punya pemahaman tentang kesetaraan gender.

“Di sini nggak boleh dosennya itu yang punya 2 istri atau 3 istri, itu nggak boleh. Trus dosennya harus punya wacana-wacana tentang perempuan, dan pembela perempuan, itu yang disyaratkan oleh rektor kita. Karena perjuangan kita ini masih sangat berat. Dan kita sudah melihat banyak titik-titik terang keberhasilan. Dan mulai banyak orang menerima, mulai banyak orang sadar,” jelas Marsiyah.

Pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy Cirebon, Masriyah Amva, berharap Islam semakin indah bersama ulama-ulama perempuan.

“Ini saya berharap ajaran agama kita semakin lebih indah dibawa oleh para perempuan-perempuan ini. Kemudian lebih lembut, lebih toleran, dan lebih memperhatikan masalah-masalah perempuan yang banyak sekali, yang berhubungan dengan kekerasan seksual, dengan diskriminasi. 


Santri semester enam Ma’had Aly Kebon Jambu, Muhamad Ridwan semula antipati terhadap isu kesetaraan gender. Posisinya sebagai laki-laki yang kerap identik dengan pemimpin dan hal yang diunggulkan membuatnya merasa keadilan gender adalah ancaman. Namun semua berubah saat ia nyantri di Kebon Jambu 

“Pada awalnya, saya menganggap gender itu suatu ketakutan. Karena manusiawi sebagai laki-laki kita biasanya selalu diunggulkan, selalu memimpin, selalu mengatur, selalu lebih di atas. Tapi ketika ada pemahaman baru tentang keadilan gender, kita semakin sadar bahwa keadilan gender itu ternyata sebuah keniscayaan, bukan lagi sebuah ketakutan,” kata Ridwan.

Kini Ridwan mengaku siap menyebarluaskan ide kesetaraan gender saat jadi ulama kelak. 

“Sepertinya Allah menakdirkan pondok ini suatu saat akan menjadi kiblat pemimpin perempuan yang memang bisa bersama-sama dengan laki-laki. Artinya, laki-laki menerima dan perempuan pun tidak ingin menghancurkan kehidupan laki-laki,” ujarnya.