Bahaya E-Waste untuk Iklim

Sampah elektronik atau e-waste juga menjadi sumber emisi, sehingga bumi makin panas

Foto: Tina Rataj/Unsplash

Jumat, 06 November 2020

Ada berapa banyak perangkat elektronik di rumahmu? Ini memang penunjang kehidupan kita, praktis pula. Tapi sampahnya semakin meningkat seiring perkembangan teknologi. Tidak hanya menggunung, sampah elektronik atau e-waste juga menjadi sumber emisi, sehingga bumi makin panas.

Foto: Hannah Sears/Unsplash

KBR, Jakarta- Hidup di zaman modern ini serba praktis ya.

Mau menghangatkan makanan? Nggak perlu cari panci dan nyala-in kompor, cukup pakai microwave

Banyak peralatan elektronik yang membantu kita berkegiatan sehari-hari.

Makan, kerja, sampai santai main game pun banyak ditunjang peralatan elektronik.

Sadar tak sadar, kita makin ketergantungan pada perangkat elektronik.

Baru saja beli smartphone baru, eh sudah keluar yang lebih canggih dan menggoda untuk dibeli.

Ingat-ingat juga sampah elektroniknya lho..

Global E-waste Statistic Partnership pada tahun 2020, mengeluarkan laporan terbarunya.

Laporan ini dirilis WHO, UN University, International Telecommunication Union dan International Solid Waste Association.

Di laporan itu tertera jelas: setiap komponen elektronik yang jadi sampah, mengandung material yang bernilai dan beracun.

Sebut saja lemari es dan AC. Komponennya mengandung Kloro-fluoro-karbon (CFC), Hydro-chloro-fluoro-carbons, dan gas rumah kaca yang kuat yang bisa memperburuk krisis perubahan iklim.

Manager Kampanye Iklim Eksekutif Nasional WALHI, Yuyun Harmono bantu menjelaskan isi laporan tadi.

Misalnya di data Global E-Waste ya. Itu di tahun 2014, itu setiap orang di dunia itu dia menghasilkan sampah elektronik jumlahnya 6,4 kg per orang. Jumlah ini meningkat di tahun 2019 misalnya dia menjadi 7,3 kg per kapita. Jadi per orang di seluruh dunia itu menghasilkan sampah elektronik jumlahnya 7,3 dari sebelumnya 6,4.

Dalam laporan ini disebut, sampah elektronik dunia saat ini mencapai 53,6 juta ton.

Padahal tahun 2014 hanya 9,2 ton.

Dan Asia adalah wilayah yang paling banyak menghasilkan sampah elektronik di dunia, pada tahun 2019.

Semakin hari, konsumsi peralatan listrik dan elektronik terus meningkat karena masyarakat modern membantu meningkatkan kualitas hidup.

Proyeksi dengan rate yang sama gitu, di tahun 2030 jumlahnya bisa menjadi 9 kg per kapita itu. Jadi jumlahnya akan terus naik karena seiring juga dengan banyaknya penggunaan elektronik ya, gadget dan lain-lain.

Konsumsi ini juga berbanding lurus dengan pertambahan jumlah penduduk.

Tahun 2030, dunia diperkirakan akan menghasilkan hampir 75 juta ton sampah elektronik.

Artinya terjadi peningkatan nyaris 40 persen…

Belum lagi, daur ulang sampah elektronik masih minim.

“Jadi sampah elektronik yang bisa dikelola dan didaur ulang dengan baik, itu jumlahnya cuma 17,4 % dari keseluruhan jumlah sampah elektronik itu. Ada 82,6 % yang itu berakhir di tempat pembuangan sampah ya.“

“Itu berakhir dibakar dan dikelola dengan tidak berkelanjutan gitu.“

Sampah elektronik juga termasuk penghasil emisi perusak lapisan ozon bumi.

“Cara kita mendapatkan material yang digunakan untuk produksi smartphone ataupun gadget yang lain, itu juga berpengaruh terhadap berapa jumlah emisi yang dihasilkan. Kalau kita hitung semua misalnya, handphone kita itu berasal dari material apa saja sih misalnya gitu. Di sana ada alumunium misalnya, di sana ada baterai ya yang dibuat dari lithium-ion, di sana juga ada plastiknya kan begitu.”

Itu baru dari aspek bahan baku.

Belum lagi kalau kita lihat energi yang dipakai untuk menghasilkan barang elektronik tertentu.

“Apakah dia berasal dari energi fosil, baik itu minyak bumi atau batubara gitu ya. Atau barang itu diproduksi dari energi yang bersih, energi yang terbarukan. Itu juga berpengaruh berapa emisi yang dihasilkan.”

Foto: Crish Dickens/ Unsplash

Menurut Yuyun, penghitungan jumlah emisi yang dihasilkan suatu barang seharusnya dilihat dari analisis daur hidupnya atau life cycle analysis. Artinya nggak cuma melihat dari sisi konsumen seperti jumlah penggunaannya, tapi juga dari sisi produsen: bagaimana mereka menghasilkan produknya?

Ada data menarik ya misalnya dilihat kalau produksi smartphone saja itu bisa menghasilkan sekitar 117 kg CO2 per orang dalam jangka waktu 3 tahun. Diasumsikan bahwa ya si handphone ini bisa bertahan sampai 3 tahun gitu ya. Nah 117 kg CO2 ekuivalen ini, ini dihitung dari produksi dari istilahnya itu daur hidup si barang ini gitu ya. Jadi dari awal mulai pengambilan ekstraksi bahan mineralnya, produksi di pabriknya, sampai kemudian penggunaan oleh si konsumennya.Ini data lama sekitar tahun 2013 ya. Satu master thesis dari Royal Institute of Technology Swedia.

Hmm… di rumah ada TV, smartphone, laptop,kulkas,dispenser..

Bagaimana membereskan urusan sampah elektronik ini ya…

Dari sisi produsen, inovasi yang dia maksud itu bukan seberapa cepat dia memproduksi barang-barang yang baru. Harusnya seberapa baik itu diproduksi dengan mempertimbangkan ekstraksi sumber daya atau material, dia menggunakan energi bersih dan energi terbarukan dalam proses produksinya.

Pemerintah, dia mengatur itu, dia mengawasi itu, dia meregulasi itu supaya memastikan bahwa si produsen bener-bener melakukan itu. Nah peran pemerintah juga misalnya mengintegrasikan dalam kebijakan. Supaya memfasilitasi konsumen juga.

Kalau kita, konsumen, harus gimana?

Rafa Jafar yang masih 17 tahun sudah berpikir juga soal sampah elektronik.

Salah satu permasalahan elektronik waste yang kita hadapi.. Selain memang belum tahu mana yang e-waste dan bukan e-waste adalah masyarakat masih belum tahu e-waste harus dikemana-in dan harus diapakan.

Rafa bahkan sempat membuat survey konsumen yang menunjukan sampah elektronik kebanyakan berujung…

Paling banyak itu disimpan, terus diberikan pada tukang loak, yang paling banyak ketiga dibuang. Tiga cara ini adalah tiga cara yang menurut aku salah, karena memang nggak proper caranya.Disimpan, racun dalam e-waste bisa mengkontaminasi ruangan kita. Diberikan ke tukang loak, kita nggak tahu sama tukang loak diapain, dibakar, dikubur, kita nggak tahu. Dibuang, dicampur sama sampah yang lain, kita juga nggak tahu bakal di kemanain, bakal diapain.

Padahal, sekali lagi, sampah elektronik itu berbahaya bagi lingkungan dan Kesehatan kita.

Misalnya kandungan Lithium Cobalt Oxide dalam baterai.

Jadi bayangkan ada e-waste dalam rumah kita. Kita tidak menggunakan protection apapun, kita pegang saja, kena kulit kita. Itu bisa iritasi kulit.

Rafa lantas mendirikan komunitas E-waste RJ yang mengelola sampah elektronik dari rumah tangga atau komunitas.

Caranya, dengan menyediakan titik pengumpulan sampah elektronik.

Nantinya sampah akan diolah oleh perusahaan pengolah sampah elektronik bersertifikasi.

Kita komunitas E-waste RJ mengumpulkan sampah elektronik di skala rumah tangga atau komunitas, dengan menyediakan wadah khusus sampah elektronik, yang selanjutkan akan diberikan pada perusahaan pengolah khusus sampah elektronik yang sudah tersertifikasi oleh KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) untuk dilakukan pembongkaran, pemilahan, dan daur ulang. Bukan e-waste RJ yang mengolah.

E-waste RJ ini bukan satu-satunya juga lho. Ada juga Lembaga atau komunitas lain yang bergerak di bidang pengelolaan sampah elektronik.

Yang jelas, sampah elektronik mesti kita Kelola secara lebih cermat.

Demi kesehatan kita, demi bumi kita.