Upaya Perempuan Nahdlatul Ulama Melawan Rokok

Nahdlatul Ulama (NU) dikenal akrab dengan rokok. Namun perempuan NU yang tergabung dalam Fatayat NU memilih jalan berbeda

Farida Salahuddin Wahid memberi ceramah subuh soal bahaya rokok kepada santri di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. (foto: KBR/Taufik)

Rabu, 20 November 2019

Nahdatul Ulama kerap diidentikkan dengan rokok. Namun Pesantren Tebuireng yang notabene pesantren Keluarga Gus Dur tegas melarang konsumsi rokok. Ceritanya bersama Jurnalis KBR Siti Sadida Hafsyah.  

- Upaya Perempuan Nahdlatul Ulama Melawan Rokok
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Jombang- Nahdlatul Ulama (NU) dikenal akrab dengan rokok. Bahkan muncul guyonan soal imbauan no smoking atau dilarang merokok menjadi NU smoking alias NU merokok. Kiayi NU juga relatif lebih lentur soal aturan dilarang merokok ini.

Namun, kelompok perempuan Fatayat NU justru mendukung pengendalian konsumsi rokok. Gerakan ini dimulai dari pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dari pesantren yang didirikan keluarga Gus Dur inilah, gerakan perempuan NU melawan rokok mulai digaungkan.

Pesantren Tebuireng sudah mengajak para santrinya berhenti merokok sejak 1990. Tapi baru pada 2015, ada aturan dan sanksi yang tegas. Istri pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Farida Salahuddin Wahid adalah tokoh dibalik gerakan pengendalian konsumsi rokok di pesantren ini.

Ada satu ustad di sini yang mengajar, dia merokok gak ada berhentinya. Lama-lama beliau sakit sampai meninggal. Pada waktu mau meninggal, dia panggil semua santrinya. ‘Jangan ada yang merokok! Nanti seperti saya’,” kata Farida memulai cerita.  

Sekarang pun kalau ada tamu yang merokok di dalam, saya pun tidak segan-segan

- Pengasuh Ponpes Tebuireng - Farida Salahuddin Wahid

Kata Farida, aturan ketat ini berlaku tak hanya bagi santri, tapi juga guru dan pembina serta semua yang berkunjung ke pesantren. Termasuk warung-warung yang persis berada di seberang pesantren yang terletak di pinggir jalan raya ini.

Saya sendiri yang memberikan pelajaran PHBS, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Antara lain sehatnya itu ya sehat dari asap rokok. Pelajaran itu saya berikan kepada para pembina-pembina santri. Sekarang pun kalau ada tamu yang merokok di dalam, saya pun tidak segan-segan. Saya minta tolong dimatikan. Mungkin kalau pembina agak sungkan. Kalau saya gak ada ampun,” tegasnya.

Aturan dilarang merokok ini berlaku juga bagi mereka yang mau berziarah ke makam Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.  Berbagai poster larangan merokok juga tersebar di berbagai titik di seluruh pesantren dan areal pemakaman keluarga.


Makam Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur

Aturan Berlaku Universal


Aturan dilarang merokok bagi para santri ini ditegakkan oleh guru dan pembina. Kepala  Pondok Putra Pesantren Tebuireng Iskandar menjelaskan edukasi larangan merokok diberikan kepada seluruh santri baik laki-laki dan perempuan.

"Jadi kita memang pertama yang kita edukasi ini kan pembina, guru, dan pengurus. Harapannya setelah kita mengedukasi, nanti dia akan mengedukasi adik-adik binaannya," kata Iskandar.

Tak hanya di Pesantren Tebuireng, larangan merokok juga diterapkan di 9 sekolah yang terintegrasi dengan Pondok Pesantren. Wakil Kepala Kesiswaan SMA Abdul Wahid Hasyim, Ni'maturrohmah mengatakan, santri yang kedapatan merokok akan mendapat sanksi. Terberat mereka bisa langsung dikeluarkan dari pesantren.

Bagi santri atau siswa yang tertangkap tangan merokok, maka dia akan langsung diboyong. Artinya akan langsung dipoin, kemudian tanpa ada toleransi lagi. Karena sebelumnya sudah ada peringatan. Bisa dipulangkan. Jadi pertama kita ajak komunikasi, biasanya kami melalui BK, wali kelas, kalau di sekolah. Kalau di pondok kita panggil pembina, tahap kedua. Kemudian tahap ketiganya sudah final,” katanya.

Siswa kelas 12 Madrasah Aliyah atau setara SMA, Rizki Adzaky nyantri di Tebuireng. Dulu ia merokok. Namun sejak ada aturan dan larangan merokok di pesantren, ia memutuskan berhenti.

Kadang anak pesantren itu lebih suka beli rokok daripada beli kitab. Tapi, kalau kita sudah masuk ke pondok pesantren, yang pondok pesantren itu tidak boleh merokok. Ya kita harus patuh, harus bersih kita, tidak boleh merokok. Ini peraturan dari pengasuh kita,dari guru kita. Iman kita diuji di situ,” kata Rizki.  

Harapan saya sangat besar, terutama pada Fatayat juga, agar mereka bisa menjadi agen perubahan

- Sinta Nuriyah Wahid

Gerakan Fatayat NU


Perempuan Fatayat NU bersama Sinta Nuriyah Wahid saat deklarasi mendukung pengendalian konsumsi rokok di Indonesia. (Foto: Fatayat NU)


Program pengendalian konsumsi rokok oleh Pesantren Tebuireng tak lepas dari peran perempuan NU yang tergabung dalam organisasi Fatayat NU. Sinta Nuriyah, istri Gus Dur yang dikenal sebagai tokoh NU, ikut mendorong gerakan perempuan melawan rokok.

Ia bahkan ikut menandatangani lembar dukungan perlindungan remaja dan anak-anak dari bahaya rokok yang digelar oleh Fatayat NU se-Jabodetabek pada Agustus 2019 lalu.

Harapan saya sangat besar, terutama pada Fatayat juga, agar mereka bisa menjadi agen perubahan. Terutama buat anak-anak muda, agar semuanya itu bisa diarahkan ke kegiatan-kegiatan yang positif,” kata Sinta Nuriyah.



Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, angka prevalensi perokok pemula rentang usia 10-18 tahun mencapai 9,1 persen. Ini artinya naik dibandingkan tahun 2013 yaitu di angka 7,2 persen.

Tingginya angka prevalensi perokok pemula ini juga tak lepas dari murahnya harga rokok di pasaran. Karena itulah Fatayat NU mendorong dan mendukung pemerintah untuk menaikkan harga rokok hingga tak terjangkau bagi anak dan remaja.

Perjuangan Fatayat NU mengurangi konsumsi rokok berlanjut di lingkungan keluarga. Di Depok, Yuminah Rahmatullah, Ketua Fatayat NU Depok, memasang sejumlah poster bahaya rokok bagi kesehatan di rumahnya. Ia pun tak segan menegur orang merokok, lengkap dengan dalilnya.

Apabila terdapat tuntunan dan penghalang dalam satu perkara, maka didahulukan penghalang itu. Misalnya perempuan dituntut untuk solat namun ada penghalangny yaitu haid, maka dahulukan haid. Jika seorang dituntut merokok namun ada penyakit, maka dahulukan penyakitnya. Artinya tidak boleh merokok,” kata Yuminah.

Suami Yuminah dulu perokok. Ia tak ingin anaknya ikut jadi perokok.

 Jadi anak-anak suka kumpul di sini. Jadi kalau ada yang merokok saya langsung keluar, mohon jangan ada yang merokok ya di sini. Boleh main boleh kumpul, tapi untuk merokok jangan,” tegasnya.