Nasib Petani Tembakau di Pulau Lombok

Petani mitra maupun swadaya sulit mendapat penghidupan layak karena ketidakpastian harga tembakau. Pandemi Covid-19 makin membuat nasib mereka terpuruk.

Aktivitas petani tembakau di desa Beleka, Lombok Tengah, NTB (Foto: KBR/Ida Rosanti)

Jumat, 09 Oktober 2020

Lombok Tengah adalah satu dari dua daerah penghasil tembakau Virginia di Pulau Lombok. Tembakau jenis ini disebut-sebut sebagai ‘emas hijau’ karena bernilai ekonomis tinggi, sehingga bisa membuka lapangan kerja bagi 36 ribu keluarga petani di Pulau Lombok. Apakah para petani tembakau hidup segemerlap si emas hijau ini? Ida Rosanti mencari tahu dan berbincang dengan para petani.

- Nasib Petani Tembakau di Pulau Lombok
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR,Lombok Tengah - Warga Desa Beleka, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, terlihat sibuk.

Ada yang memetik, mengangkut, menggelantang sampai mengoven tembakau.

Bulan Agustus-September memang waktunya panen tembakau, setelah beberapa bulan lalu ditanam.

80 persen dari 11 ribu warga di desa ini adalah petani tembakau.

Salah satunya Iyah.

Sudah nyaris 3 dekade ia mulai menanam tembakau di lahan miliknya seluas 1 hektar.

Bagi Iyah, menanam tembakau memakan banyak energi selama masa pertumbuhan 6 bulan.

Mulai dari membeli bibit, memberi pupuk, merawat hingga mengeluarkan uang untuk upah buruh.

Sementara nilai jualnya tidak tinggi.

“Tidak pernah kita dapat harga tinggi. Apalagi tahun 2010 lalu anjlok sekali harganya. Seperti panen kemarin, Rp2,5 juta paling tinggi. Kadang-kadang Rp1 juta per timbang. Dibeli yang daun pertama ada yang Rp600 ribu ada yang Rp1 juta per timbang. Yang pemetikan daun kedua Rp 1,5 juta sampai Rp2 juta. Mentok sudah itu harganya,” kata Iyah.

Petani tembakau di Lombok

Iyah termasuk petani swadaya, yang tak bermitra dengan perusahaan rokok.

Akibatnya, negosiasi penjualan tembakau kerap tak lancar.

Misalnya, perusahaan bisa mengurangi pembelian jika stok tembakau di gudang sudah penuh atau menentukan harga sesuka hati.

“Kita jual di tempat. Pengepul yang beli. Kalau kita bawa ke gudang tidak bermitra, bukan grade tembakau (yang dilihat), gradenya orang (petani) di gudang itu. Jadi dihargakan lebih rendah kalau kita yang antar ke gudang. Di lapangan harganya Rp2 juta kalau kita bawa ke gudang kadang harganya kurang. Tembakaunya juga diacak-acak,” ujarnya.

Tahun 2010 lalu, Iyah rugi 250 juta karena harga tembakau oven anjlok.

Iyah lantas banting setir – pergi ke Malaysia jadi TKI demi membayar utang.

“Waktu itu saya dililit utang sampai jual sawah segala. Rumah saya juga saya jual dan saya bangun rumah lagi di sini,” kenangnya.

Petani lainnya, Sukri punya nasib serupa.

Ia punya 3 hektar lahan tembakau.

Tapi tembakau oven milikinya sering dihutang oleh pengepul – bahkan pernah tak dibayar.

“Kalau stoknya banyak, diutang. Sering saya tidak dibayar. Banyak kerugian. Tapi kita minjam dari bank untuk modal usaha (menanam tembakau)," tuturnya.

Pemerintah punya skema yang diniatkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau.

Namanya DBHCHT atau Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.

Total ada Rp 295 miliar DBHCHT yang diterima provinsi Nusa Tenggara Barat.

Tapi Lombok Tengah hanya kurang dari 20 persen. Itu pun tak sepenuhnya untuk petani.

Padahal secara aturan, 60 persen dari pungutan negara tersebut harusnya kembali ke petani.

Petani tembakau yang sudah puluhan tahun seperti Sukri berharap negara hadir saat harga tembakau terpuruk.

- Nasib Petani Tembakau di Lombok Tengah
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Saifudin sudah menjadi petani tembakau mitra selama bertahun-tahun.

Ini artinya, ada kontrak antara petani dengan perusahaan rokok, dengan jaminan pemasaran tembakau oven.

Petani pun mendapatkan bantuan pupuk serta pembinaan dari perusahaan.

Di Lombok Tengah, ada 2.568 orang petani yang jadi mitra berbagai perusahaan rokok pada tahun 2020 ini.

Tapi Saifudin mengeluhkan harga jual tembakau yang tak sebanding dengan kerja keras 6 bulan merawat tembakau.

“Kalau daun kedua bisa Rp2,9 juta. Belum (bagus), kalau bagus Rp3,2 juta. Sekarang ini belum stabil harga tembakau ini. Saya mitra PT Djarum. Keuntungan Rp40 juta di 3 hektar. Tapi itu kecil (keuntungan) tidak sesuai dengan pekerjaan. Kalau tembakau harga Rp4,7 juta (1 timbang) ada lah (untung),” katanya.

Petani tembakau perempuan di Lombok

Di Lombok Tengah, banyak juga petani perempuan yang harus bekerja sendirian mengurus lahan tembakau.

Suami mereka pergi bekerja ke luar negeri demi menambal keuangan keluarga.

Supiati hanya menanam tembakau di areal tanam seluas 25 are.

Tembakau basah langsung dipetik dan dijual ke pengepul di lokasi.

Hasilnya, tipis.

“Tidak cukup untuk biaya hidup sampai musim tanam tembakau kembali. Sehingga suami memutuskan untuk pergi bekerja ke luar negeri. Rp 10 juta kita dapat (kalau harga bagus). Itu tidak cukup sampai tanam tembakau tahun depan,” katanya.

Meski Lombok Tengah dikenal sebagai ‘surga’-nya tembakau Virginia, yang kerap disebut emas hijau, nyatanya kehidupan petani tak gemerlap.

Luas areal tanam tembakau di Lombok Tengah pun berkurang sejak terjadi harga anjlok pada 2019 lalu.

Petani yang merugi saat itu, banyak yang masih terlilit utang sampai sekarang.

Dari lahan tersisa seluas 9 ribuan hektar, sepertiganya adalah lahan para petani yang bermitra dengan perusahaan rokok.

Ada lima perusahaan yang beredar di sana: Bentoel, Djarum, Budi Jaya Santosa dan Sumber Rizki.

Artinya, masih ada 2/3 areal tanam tembakau yang dikelola petani swadaya yang nasibnya jauh lebih anjlok dibandingkan petani mitra.

Anak petani tembakau di Lombok

Kondisi pandemi Covid-19 pun makin memukul penghidupan warga Lombok Tengah.

Pelaksana Kepala Desa Beleka, Holan Hasri bercerita, banyak pengrajin kerajinan tangan yang lantas beralih profesi jadi buruh tanam di kebun tembakau.

“Akhirnya masyarakat beralih lah ke tembakau. Sebanding lah, antara tembakau dan kerajinan tangan ini,” ujar Holan.

Tapi itu pun sulit, karena lahan tanam tembakau terus menyusut pasca anjloknya harga tembakau pada 2019 silam.

Akibatnya, petani mitra maupun swadaya kelimpungan lantaran kualitas tembakau ikutan merosot.

“Kita datang ke pemerintah daerah di Dinas Pertanian. Jawabannya sekedar iya-iya saja. Membantu, katanya. Tapi kan, tidak bisa seperti itu Pemda ini. Kita dibiarkan saja. Kemarin kan banyak yang mengeluh petani ini yang tidak kita tau mau dibawa kemana tembakau kita, itu yang sudah oven malah. Kalau basah tidak ada yang beli. Pemda ini kelihatan kurang memperhatikan petani tembakau baik mitra dan swadaya, terutama swadaya,” katanya.

Perusahaan rokok pun tengah mengurangi jumlah petani mitra lantaran kuota pembelian tembakau dibatasi dari perusahaan induk.

“Misalnya dari PT Bentoel induknya di Amerika. Dia memberikan kuota 8000 ton pembelian tembakau 2020. Terpaksa harus dikurangi petani mitranya. Itu yang miris. Kasihan, kan. Istilahnya PHK. Tahun lalu kuotanya 9000 ton, kan. Dikurangi 1000 ton,” katanya

Petani tembakau perempuan di Lombok sedang panen.

Peneliti yang juga eks petani tembakau, Jopi Andriyani menilai menanam tembakau itu seperti mengadu nasib.

“Seperti orang main lotre. Kalau keberuntungan itu datang, ya untung, kalau lagi buntung, ya buntung. Ada simbolis yang sering digaungkan, yang tiga M itu. Yang pertama Makkah kalau untung, Malaysia kalau rugi, Mati kalau naas. Salah satu contoh di tahun 2010 sampai dia masukkan dirinya ke dalam oven tembakau. Dan bukan hanya satu atau dua itu. Banyak kasus yang terjadi efek dari tembakau ini,” tutur Jopi.

Namun petani tembakau di Desa Beleka belum tergerak untuk lepas dari tembakau.

Yang mereka tagih adalah negara memperbaiki sistem pemasaran tembakau, supaya petani tembakau tak melulu apes.

“Ini kan yang harus jelas dari pemerintah ini harus menyediakan pangsa pasar. Seandainya petani ini diminta menanam yang lain, kira-kira apa yang akan ditanam petani ini,” pungkasnya.