Membangun Rumah Ramah Lingkungan

Ada banyak jalan menuju Roma. Ada banyak cara pula orang menunjukkan kepeduliannya pada lingkungan. Kali ini, Podcast Climate Tales mengajak kita ‘bedah rumah’ Minisponsible House yuk.

Minisponsble House milik Denia Isetianti. (Foto: IG Cleanomic)

Jumat, 16 Oktober 2020

Perubahan iklim menggiring masyarakat di seluruh dunia, lebih peduli terhadap lingkungan. Banyak pihak yang berkontribusi mengkampanyekan pentingnya manusia memerhatikan kondisi bumi. Mulai dari aksi tanam pohon, sampai imbauan untuk menerapkan pola hidup lebih sehat. Founder Cleanomic, memiliki rumah berkonsep ramah lingkungan, disebut Minisponsible House.

- Membangun Rumah Ramah Lingkungan
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Foto: Vivin Solar/Unsplash

“Kita pengen punya rumah yang bisa menampung air hujan, punya sumur resapan, airnnya bisa di recycle, terus juga pakai solar panel, dan seterusnya. Jadi deh rumah ini”

Kamu mau juga punya rumah kayak gitu?

Intip ini dulu: ‘Minisponsible House’ milik Denia Isetianti, pendiri Cleanomic, sebuah platform digital yang mendukung gaya hidup berkelanjutan.

“Jadi Minisponsible House adalah rumah yang kita bangun dan desain dengan konsep ramah lingkungan. Kenapa kita tertarik dengan konsep rumah seperti ini. Sebenarnya berawal dari Cleanomic. Dari situ itu aku belajar bahwa sebenarnya dampak lingkungan yang terjadi sehari-hari itu luas banget. Nggak cuma terbatas pada sampah yang kita hasilkan. Tapi termasuk juga penggunaan air, listrik, dan itu aku kepikiran gimana caranya aku merenovasi rumah yang lebih ramah lingkungan”.

Kesadaran untuk punya aksi ramah lingkungan dipicu dari kesadaran soal adanya jejak karbon.

Kita, manusia, tak terhindar dari punya jejak karbon.

Yang bisa kita lakukan: menguranginya

“Jadi setiap orang itu sebenarnya punya jatah mengeluarkan atau meng-emit karbon kan. Dan jejak karbon itu, salah satu yang mengakibatkan perubahan iklim atau pemanasan global itu adalah manusia di bumi ini. Antara lain sebenarnya secara individual jejak karbon kita keluarkan terutama kalau di rumah adalah penggunaan listrik”

“Jadi Minisponsible House adalah rumah yang kita bangun dan desain dengan konsep ramah lingkungan. Nggak cuma terbatas pada sampah yang kita hasilkan. Tapi termasuk juga penggunaan air, listrik, dan itu aku kepikiran gimana caranya aku merenovasi rumah yang lebih ramah lingkungan”.

- Denia Isetianti - Pemilik Minisponsible House

Sebelum kita mengintip rumah Denia, tahukah kamu berapa banyak emisi yang dihasilkan dari rumahmu?

“Ini kalau dari statusnya UNEP tahun 2019”.

UNEP adalah Badan PBB di bidang lingkungan hidup.

Dan ini kajian UNEP berjudul Global Status Report 2019.

“Ada 11 % dari sektor bangunan ini dihasilkan dari industri manufaktur bahan bangunan seperti baja, semen, kaca. 36 % di antaranya adalah penggunaan energi. 39 % di antaranya adalah emisi karbon dioksida dari proses-proses bangunan dan konstruksi lainnya”

Itu Veby Vanadilla, dari tim Analisis Data Informasi Teknologi Rendah Karbon di Kementerian Lingkungan Hidup.

Angka-angka barusan lebih tinggi dibandingkan data tahun 2018.

“Dari literatur lain juga menyebutkan hunian ini mengambil 22 % dari penggunaan energi. Sementara untuk emisi yang ada dari hunian itu ada yang langsung dan tidak langsung, 6-11 %. Ini untuk keduanya, termasuk proses konstruksinya. Mungkin angkanya tidak banyak kalau dibandingkan dengan sumber emisi lainnya. Tapi ternyata tetap berkontribusi”

Sesedikit apa pun, rumah kita tetap berkontribusi terhadap pelepasan emisi gas rumah kaca.

Dan yang sedikit-sedikit ini... lama-lama bisa jadi gunung!

Lantas apa yang bisa dilakukan?

“Untuk bangunan bisa menerapkan ‘Green Architecture’, ‘Low Energy House’, ‘Passive House’, ‘Zero Energy House’. Apapun namanya, apapun judulnya, selama dia mendukung konsumsi listrik yang minim untuk bisa menjadi salah satu solusi”

Kuncinya di situ: konsumsi listrik yang sedikit.

Foto: Margot Polinder /Unsplash

Hasilnya nyata, kata Denia, pemilik rumah Minisponsible House. Tagihan listrik di rumahnya berkurang.

“Penggunaan solar panel itu biasanya memang sudah diperhitungkan akan menghemat listrik, tagihan listrik kita rata-rata itu sudah 50 persen setiap bulannya”.

Denia masih juga memakai listrik yang dikelola PLN di waktu-waktu tertentu.

“Kalau misalnya mataharinya nggak ada, dia nggak nyimpen energi listriknya. Jadi kayak menggunakan si listrik PLN lagi kalau malam. Jadi solar panel aku nyala ketika siang doang ketika ada matahari”

Soal air, Denia dan Minisponsible House juga tak main-main.

Air pun didaur ulang!

“Misalnya buat mandi, terus kayak cuci piring, itu semua kita tampung lagi ke dalam satu bak reservoir, untuk kemudian disaring ulang. Terus kita salurkan lagi untuk air flush kamar mandi. Jadi kayak air dari cuci piring atau dari kamar mandi gitu itu nggak langsung dibuang ke saluran pembuangan air kota”

Semua yang ada di Minisponsible House ini dipikirkan matang.

“Kita juga menampung air hujan. Nah menampung air hujan itu kita juga punya sistem sendiri. Yang air hujan itu tuh ditampung, masuk ke bak reservoir yang sama dengan si grey water tadi, untuk kemudian disaring dan digunakan lagi.

Termasuk soal perabot.

Banyak barang-barang di rumah ini, kayak lantai, dapur, terus juga kayak custom furniture itu menggunakan barang-barang dari kayu recycle.

…dan keluarga lah yang menyulap kayu recycle itu jadi perabot!

Aduh.. tapi bangun rumah kayak gitu kan mahal…

Hayo, ngaku, mikir gitu kan…

“Memang betul ada biaya-biaya tambahan untuk mengimplementasikan fitur ramah lingkungan itu. Tapi menurut aku biaya-biaya tersebut itu bisa dikompensasikan dengan yang lain”

“Hal yang lain” itu adalah bebas dari perasaan bersalah pada bumi….

Kalau misalnya kita enggak tahu peduli lingkungan itu penting, kita nggak akan pernah peduli. Dan kalau kita nggak peduli, kita nggak akan pernah berubah. Alasan personal aku adalah aku pengen anak-anak aku nanti punya masa depan yang baik gitu dari sisi lingkungan jugaMereka bisa menikmati apa yang bisa aku nikmati sekarang. Kalau bisa makan lebih baik”