Melambat Bersama Slow Fashion

Industri Fashion adalah polutan terbesar kedua di dunia, setelah minyak dan gas. Tak heran karena dalam prosesnya prosesnya Industri ini banyak mengesampingkan kelestarian lingkungan.

Foto: Markus Spiske/ Unsplash

Jumat, 09 Oktober 2020

Industri Fashion adalah polutan terbesar kedua di dunia, setelah minyak dan gas. Tak heran karena dalam prosesnya prosesnya Industri ini banyak mengesampingkan kelestarian lingkungan. Podcast Climate tales kali ini akan mengajak anda menelusuri kaitan fashion cepat dan dampaknya pada perubahan lingkungan secara nyata.

- Melambat Bersama Slow Fashion
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Foto: Markus Winkler/Unsplash

KBR, Jakarta- Industri Fashion adalah polutan terbesar kedua di dunia, setelah minyak dan gas. Setiap tahun, konsumsi pakaian secara global mencapai 80 miliar potong. Padahal untuk membuat 1 kaos, dibutuhkan setidaknya 20 ribu liter air. Ini setara dengan air yang kita gunakan mandi selama 3 tahun.

Faktanya, industri fashion cepat menjadi salah satu penyumbang perubahan iklim saat ini. Perubahan item fashion di setiap musim, membuat industri ini mengganti temanya dalam jangka waktu relatif singkat. Dampaknya, semakin banyak pakaian yang dijual dengan harga terjangkau dan tak kadang itu berakhir menjadi limbah pakaian.

Bahkan, jika mengacu pada penelitian Elen Macarthur pada 2017 lalu, industri fashion menghasilkan emisi gas yang lebih merusak dibanding gabungan industri pelayaran dan penerbangan. Jumlah limbah dari aktivitas pembuatan baju dan celana di seluruh dunia semakin meningkat, seiring dengan makin banyaknya juga air bersih terbuang demi mengikuti tren ini.

Saya bertemu Nila Patty, Head of Research & Education Zero Waste Indonesia yang menjabarkan tentang bahaya fast fashion pada lingkungan dan perubahan iklim secara luas.

"Pembuatan tekstile itu memang butuh banyak sumber daya dan recource. Apalagi misalnya pakaiannya menggunakan pewarna. Kita lihat industri tekstil kalau kita liat di citarum yang membuang limbah di sungai. Jadi bayangkan 1 kaos yang kita pakai bisa berdampak sangat luas pada lingkungan," kata Nila.

Misal di Indonesia, pabrik tekstil masih sering kita lihat tidak punya sistem pengolahan limbah yang benar. Akhirnya limbah yang masih punya kandungan berbahaya dilepas begitu saja ke sungai. Dampaknya bisa kemana-kemana. Belum lagi isu deforestasi hutan kita yang beralih fungsi menjadi hutan penghasil produk yang nantinya menjadi bahan baku rayon dan ujung-ujungnya tekstil juga,”

Nila mengatakan, berdasarkan riset, diketahui produksi pakaian bertambah dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir. Inilah yang membuat pakaian terbuang lebih cepat sebab, konsumen akan memilih produk yang paling trendi dan up to date untuk dibeli.

Alur distribusi bahan baku fast fashion ini juga menyumbang emisi cukup besar. Nila mencoba menggambarkannya....

“Bayangin kain yang dibuat di Indonesia, di transport ke India atau China, lalu ditransport lagi ke Thailand misalnya untuk packaging lalu kemudian dikirim lagi ke Eropa untuk di pasarkan. Bayangkan berapa banyak emisi yang terbuang. Jadi tidak heran jika industri ini menyumbang poluter cukup besar daripada Industri minyak,”

Lalu bagaimana kita bisa berkontribusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim mulai dari lemari?

"Jadi hal yang paling mudah tentunya, gunakan apa yang kita sudah punya di rumah. Jadi kita itu di rumah kalau buka lemari, pasti banyak nih. Pasti ada kesumpel-sumpel di belakang nggak kelihatan. Kadang-kadang belum pernah kepake karena tag-nya masih ada di sana gitu. Jadi pakaian-pakaian yang sudah kita beli, ini harus kita pakai memang. Kalau misalnya mau mengurangi, mau membantu mengurangi efek dari perubahan iklim atau efek dari crisis deeplations. Jadi pengurangan sumber daya dikarenakan industri tekstil, ya pakai yang sudah kita punya. Itu yang pertama,"

"Yang kedua, kalau memang harus punya pakaian baru, cari alternatif sebelum membeli. Misalnya meminjam. Meminjam itu satu alternatif kalau misalnya mau ke kondangan atau ada acara apa gitu ya, bisa meminjam. Kalau meminjam teman, minjam saudara, atau meminjam siapa terserah. Sekarang yang kedua menyewa. Sekarang banyak tuh tempat persewaan pakaian, udah mulai banyak kan sekarang. Itu bilangnya Thrift Shop, itu bisa digunakan di sana,"

"Yang ketiga adalah menukar, misalnya tukar baju. Kalau ikutan tukar baju nggak perlu apa sih namanya harus ikutan acara tukar baju gitu ya.Tukar baju itu bisa kapan aja sama siapa aja. Itu salah satu cara untuk memperbaharui lemari kita, tanpa mengurangi emisi di sana. Selain itu mungkin memperbaiki pakaian. Kadang-kadang ada peninggalan ada yang bolongnya kecil gitu ya. tapi kita yang kaya 'Aduh bolongnya kecil, ya sudah diperbaiki saja. Toh juga tukang permak juga banyak pasti di rumah gitu kan. Jadi, bagaimana caranya kita untuk memperpanjang umur pakaian, sehingga bisa kita gunakan berkali-kali gitu. Intinya sih di situ,"

Foto: Markus Winkler/Unsplash

Zero Waste Indonesia menyadari bahwa dampak perubahan iklim dari industri ini cukup besar. Karenanya mereka menggagas sebuah gerakan dengan tajuk tukar baju dan mulai dari lemari. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk tidak membeli baju baru dalam jangka waktu 6 bulan.

Dari kegiatan tukar baju selama 2019 lalu, terkumpul sebanyak 13.500 pakaian dengan berat 5,4 ton atau sebanding dengan 1 ekor ikan paus biru. Jika dinilai, ini setara dengan menghemat biaya sebesar Rp 2,3 miliar untuk belanja baju baru.

"Jadi dengan menukar baju kita sudah bisa banget memberikan dampak yang sangat luar biasa di sana. Dan tentunya saya berterima kasih banget kepada teman-teman yang nanti akan mendengarkan podcast ini, yang telah mengikuti tukar baju. Karena teman-teman ini sudah berkontribusi sangat luar biasa terhadap pengurangan daripada sampah tekstil,"

"Kalau misalnya kita ngomongin apa bahan kain untuk sampah tekstil, kita sudah menyelamatkan sebesar 3 kali lapangan sepakbola untuk total kainnya. (Jadi merasa lumayan seperti pahlawan nih). Benar, harus iya iya. Jadi kalau dipikir-pikir itu hal yang kecil loh kita kalau tukar baju tuh kan bawa bajunya 5 potong. Bawa baju 5 potong nanti dikurasi dikurasi, dan nanti yang lolos boleh menukar baju setara dengan pakaian yang lolos tadi. Yang tidak lolos nanti kita kembalikan ke orangnya gitu. Dengan beberapa potong pakaian tersebut secara kolektif dari 4.500 orang yang datang, kita sudah bisa berkontribusi yang sangat-sangat besar untuk penyelamatan daripada sampah tekstil,".

"Jadi banyak sekali yang bisa kita lakukan walaupun terlihat kecil secara individual, Tapi ketika kita semua melakukan hal tersebut, itu dampaknya sangat luar biasa sih.

Dari kegiatan tukar baju selama 2019 lalu, terkumpul sebanyak 13.500 pakaian dengan berat 5,4 ton atau sebanding dengan 1 ekor ikan paus biru.

- Nila Patty - Head of Research and Education Zero Waste Indonesia

Gerakan mulai dari lemari. (foto: Zero Waste Indonesia)

Salah satu pelaku slow fashion adalah Maira. Ia mulai tertarik dengan kampanye tukar baju dan mulai dari lemari yang dicanangkan oleh Zero Waste Indonesia beberapa bulan terakhir. Berbagai informasi tentang dampak fast fashion membuat hatinya tergugah dan memulai pola hidup slow fashion.

"Tahun ini memang nggak pernah belanja gitu. Jadi mikir dua kali kalau misalnya mau beli baju. Jadi pakai baju yang ada aja. Karena kan memang waktu itu melihat postingan di Tukar Baju kan ada yang satu pabrik ternyata ambruk. Pokoknya banyak banget postingan Tukar Baju yang bikin hati tergugah,"

Menurut Maira, ada banyak dampak yang ia rasakan setelah menerapkan pola hidup slow fashion. Selain mood lebih stabil dan perasaan tenang ia juga bisa menghemat pengeluaran. Total 8 bulan sudah Maira tak membeli pakaian baru.

"Biasanya itu kalau buka lemari itu, kalau lemarinya acak-acakan kayaknya mood-nya yang tadinya bagus jadi aduh, kayaknya mesti pakai baju yang mana? Jadi bingung sendiri. Mood-nya tiba-tiba bisa berubah. Kalau ini jadi lebih.. Moodnya itu bisa lebih bagus, lebih lega. Terus melihat warna warni bajunya bisa bermacam-macam warna. Kayaknya jadi lebih enak. Jadi aku cuma kadang sometimes aku suka tulis gitu. Jadi apa yang kamu lihat baik belum tentu baik. Jadi mulai dari kamu sendiri bisa melakukan apa buat alam,"

Jadi, keputusan ada di tangan anda. Apakah ingin menumpuk baju dan merusak bumi? Atau menerapkan pola hidup fashion lambat dan bersama-sama menjaga bumi kita satu-satunya...