Polisi Penjaga Mangrove dari Pandansari

Dusun Pandansari punya cara untuk menjaga hutan mangrove tetap lestari. Puluhan warga setempat dilibatkan sebagai petugas pengaman agar tanaman itu tak dijarah atau ditebang pencuri. Maklum saja harga kayu mangrove di pasaran bikin lidah tergiur. Berikut

SAGA

Rabu, 09 Okt 2013 18:02 WIB

Author

Rumondang Nainggolan

Polisi Penjaga Mangrove dari Pandansari

pandansari, mangrove, brebes, polisi mangrove

KBR68H - Dusun Pandansari punya cara untuk menjaga hutan mangrove tetap lestari. Puluhan warga setempat dilibatkan sebagai petugas pengaman agar tanaman itu tak dijarah atau ditebang  pencuri. Maklum saja harga kayu mangrove di pasaran bikin lidah tergiur. Berikut kisah warga setempat melindungi kampung mereka dari ancaman abrasi.

"Saya melakukan sebagai satgas Jaga Segara tanpa upah demi keamanan atau demi keselamatan desa saya, Desa Pandansari. Jangan sampe kena abrasilah," terang Romli. Dia adalah anggota Satuan Tugas Jaga Segara alias polisi mangrove di Dusun Pandansari, Brebes, Jawa Tengah. Usianya yang menginjak 60 tahun tidak menghalanginya untuk tetap bekerja. "Untuk menggerakkan orang muda-muda. Orang tua semangat kok muda-muda gak semangat," tambahnya. 


Alasan ancaman abrasi atau erosi di pantai akibat hantaman gelombang laut, mendorong polisi mangrove lainnya, Supardi ikut terlibat. “Hati saya merasa tergugah mbak melihat desa saya yang mau hilang. Jadi saya dengan masyarakat tanpa digajipun saya sukarela menanam dan menjaga. Agar desa saya tidak sampai hilang." Petani bawang ini sadar, jika abrasi terus menggerus pantai desa, ladang bawang yang menjadi tumpuan hidup sebagian warga Pandansari juga ikut terancam. “Jadi secara otomatis kalau pantainya mendekat ke pertanian, itu nanti akan terintrupsi air laut mbak, jadi tanahnya akan asin dan tidak bisa ditanami bawang," tuturnya.

Sejak 1987 hingga 2007 areal desa yang hilang akibat abrasi sudah lebih dari 850 hektar.   Trisno Dinoto, anggota polisi mangrove lainnya mengenang  desa mereka selalu tergenang air saat banjir rob melanda. Itu terjadi sebelum penanaman mangrove digalakan sejak empat tahun silam. "Nyampe ke desa. Di sini itu desanya aja kalau musim air pasang bisa selutut, masuk aspal. Di jalan aspalnya saja sudah selutut. Tapi sekarang alhamdullilah sudah adalah empat tahunan di sini, udah mendingan, belum pernah lihat air langsung masuk ke desa. Ah..perbedaannya jauhlah dari yang dulu."

Abrasi dan banjir rob yang terjadi membuat usaha tambak warga hancur. Supardi bercerita bagaimana penduduk dusunnya  begitu terpuruk. "Kesejahteraan masyakat di sini drastis mbak turunnya, jadi gak bisa melanjutkan ke SMA, biayanya itu mahal terus mata pencaharian hilang. Jadi memang abrasi dampaknya ke masyarakat memang sangat besar sekali. Sebagian besar masyarakat sini petani tambak setelah terkena abrasi banyakan pindah ke nelayan, petani bawang."

Bahkan menurut Romli, akibat  penghasilan berkurang, sebagian warga berpikir untuk transmigrasi. Mengadu peruntungan ke luar desa.

Pencurian Mangrove

Kini lahan yang sempat mengalami abrasi seluas 30 hektar telah ditanami lebih dari 1 juta pohon mangrove. Tapi persoalan tak lantas tuntas. Dari masalah abrasi kini persoalan bergeser ke pencurian kayu mangrove. Segelintir orang tergiur dengan harga kayu mangrove yang mahal di pasaran. Ketua Kelompok Masyarakat Mangrove Sari, Rusjan bercerita, ”Mangrove sudah rusak tetapi masyarakat nelayan desa sekitar, desa tetangga tidak peduli dengan kerusakan dan tidak peduli dengan masalah kami. Jadi begitu nelayan melaut dia kosong, gak dapat tangkapan, dia pulangnya gergaji kayu, ngambilin kayu. Mengapa demikian? karena kayu bakau itu panasnya luar biasa, bisa dibikin arang untuk menyetrika, bakar sate, dijual diumumpun satu meter kubik 300 ribu. Jadi kalau nelayan pulang udah dapat dua kubikpun ya dapat 600 ribu, itukan kemungkinan lumayan."

Atas alasan itulah polisi mangrove dibentuk sejak 3 tahun silam. Mereka direkrut dari warga sipil setempat. Polisi mangrove yang kini berjumlah 30 orang itu  rutin melakukan patroli di sepanjang pesisir pantai Dusun Pandansari. "Kita bagi dalam enam kelompok mbak, enam tim. Jadi dibagi, satu tim enam orang. Kita melakukan kegiatan rutin pengawasan pantai dari orang-orang yang usil menebang, kadang menebang ada juga lewat darat kemudian patroli di laut juga ada. Jadi karena kami punya tiga perahu untuk patroli ya alhamdullilah setiap saat ada laporan mendadak dari pihak masyarakat ada penebangan liar, ada pencurian kayu ya sekaligus juga ada informasi sekarang jamannya hp, cepat," jelas Rusjan.

Hasilnya cukup memuaskan. Berbagai usaha pencurian kayu mangrove berhasil digagalkan,  kata Rusjan, "Tetangga desa mencuri kayu, pakainya perahu, nah masyarakat kami tahu 'yang ditutupi itu apa?' tau-tau yang ditutupi itu kayu, akhirnya laporan, kami kejar, kena. Saya ancam 'jenengan mau saya pidanakan laporkan ke Polres atau mau cukup damai karena sudah ada Perdes. Wah dia ampun-ampunan 'mohon maaf Pak saya tidak tahu', 'loh inikan sudah disosialisasikan', 'udah Pak saya jangan dilaporkan ini kayunya saya kembalikan'. Jadi saya sita kayunya waktu itu banyak ada kurang lebih 10 kubik, kita jual untuk kas."

Agar pencurian kayu mangrove bisa diminimalkan, aturan pun dibuat imbuh Ketua Kelompok Masyarakat Mangrove Sari ini, ”Peraturan Desa itu diantaranya kita dilarang menebang dan sanksi hukumnya denda 100 juta atau kurungan sekitar dua tahun, bunyinya seperti itu. Kemudian ada Perdes lagi apabila masyarakat butuh menebang atau mengambil, kita memotong satu menanam dua puluh. Jadi kita potong satu, tanam dua puluh. Itu sudah jadi aturan, jadi masyarakat yang mau nebangpun sekarang sudah permisi sama kami."

Rusjan dan warga Pandansari kini mulai menikmati hasil dari kerja keras mereka. Awalnya tak mudah mengajak dan libatkan warga merawat dan melestarikan hutan mangrove.

Mangrove Hancur

Dusun Pandansari terletak di Desa Kaliwlingi. Dusun ini berjarak sekitar 10 kilometer dari Kecamatan Brebes, Jawa Tengah. Sebagian besar warganya bekerja sebagai petambak. Pada 1990-an budi daya tambak udang windu begitu berjaya di dusun ini. Tingginya harga udang membuat warga berlomba membuka lahan tambak baru dengan menebang hutan mangrove di sepanjang areal pantai.

Ketua Kelompok Masyarakat Mangrove Sari, Rusjan bercerita, "Setelah udang windunya tidak sehat lagi, sudah tidak ramah lingkungan lagi karena banyaknya pencemaran sehingga tidak bertumbuh dengan baik, tau tau semakin ke sana rob itu semakin besar, semakin tahun rob itu debitnya semakin tinggi mbak. Lambat laun tambak-tambak yang dulunya bisa tertahan oleh mangrove karena mangrovenya sudah berkurang tadi dibuka untuk lahan tambak sehingga mudah rusak."

Kondisi ini menjadi ironi. Pasalnya menurut Rusjan, pada 1987 dusunnya pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah karena keberadaan hutan mangrove. Tidak ingin menunggu bencana abrasi datang, sekelompok warga kemudian bangkit membentuk Kelompok Masyarakat Mangrove Sari pada 2008. Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) merupakan organisasi yang turut mendampingi kelompok ini.

Koordinator IPPHTI Kabupaten Brebes, Mashadi menjelaskan,”Kami mencoba mendekatkan dengan teman-teman bahwa yang namanya abrasi mau tidak mau yang namanya perubahan iklim itu suka tidak suka pasti akan terjadi karena ini adalah fenomena alam dan sudah merupakan kejadian yang luar biasa di dunia ini. Makanya kami mencoba mendekatkan almarhum Pak mertua, yang sudah satu tahun sama Pak Rusjan, kita kumpul sama tokoh-tokoh sepuh terus mencari jalan keluarnya seperti apa. Setelah itu kami memfasilitasi untuk membuat film dokumenter. Setelah IPPHTI rakernas di Yogya teman-teman semua kumpul ada dari berbagai macam lembaga. Pada waktu itu saya bawa film dokumenter 12, saya bagikan pada teman-teman NGO dan koordinator daerah lain dan yang tertarik itu Yayasan KEHATI."

Hingga kini IPPHTI dan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) adalah dua lembaga yang terus mendampingi Kelompok Masyarakat Mangrove Sari dalam berbagai kegiatan mereka yang terkait dengan mangrove.

Namun menurut Ketua Kelompok Masyarakat Mangrove Sari, Rusjan, awalnya tidak mudah menyadarkan seluruh warga akan pentingnya mangrove. “Masyarakat tadinya itu was-was mbak, tadinya ragu-ragu karena ini merupakan kejadian alam mbak. Artinya yang namanya kejadian alamkan jangankan manusia, jadi bayangan masyarakat itu 'masak sih abrasi yang sebesar ini hampir masuk ke kampung cukup hanya dengan menanam mangrove yang pertumbuhannya itu sangat lambat'. Mangrove itu usia 5 tahun saja paling hanya sekitar 2-3 meter mbak, jadi bayangan masyarakat seperti itu, jadi kurang yakinlah. Mintanya masyarakat kalau pemerintah mau membantu, mau peduli dengan kami ya mestinya dibuatkan alat pemecah ombak."

Trisno Dinoto, salah satu warga yang sempat pesimis. "Dari awalnya juga masyarakat gak langsung tanggap, katanya kalau nanam mangrove ya sama saja bohong, kena ombak juga. Tapi setelah dicoba membuahkan hasil seperti ini akhirnya masyarakat juga sadar semua."

Libatkan Warga

Untuk meyakinkan warga akan pentingnya hutan mangrove, sosialisasi pun gencar dilakukan. Mulai berbincang langsung sampai lewat pertunjukan kesenian tradisional. Koordinator IPPHTI Kabupaten Brebes, Mashadi bercerita, "Seperti sintren ini setiap kita kumpul, setiap kumpul kayak gini masyarakat satu kampung keluar semua karena di sini hanya ada 360an KK (Kepala Keluarga-red), jaraknya dekat, wilayah juga tidak terlalu luas. Jadi mana kala keramaian kumpul di situ mereka akan datang semua. Nah dari proses datang ini mereka akan melihat oh ini kegiatannya mangrove, ternyata kegiatan ini positif, kita dapat perhatian dari kawan-kawan daerah lain, teman-teman desa lain atau mungkin atau mungkin kabupaten lain bahkan teman-teman dari Jakarta aja peduli yang mereka tidak punya pohon mangrove. Dari proses penyadaran pelan-pelan ini akhirnya kawan-kawan sudah mulai sadar. Artinya kalau mau nebang hanya sekedar untuk keperluan dapur. Misalkan untuk kayu bakar kalau misalnya gasnya gak ada atau minyaknya mahal."

Seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan mangrove, kasus pencurianpun  bisa ditekan. Ketua Kelompok Masyarakat Mangrove Sari, Rusjan, "Jadi masyarakat yang mau menebangpun sudah permisi mbak sama kami. Jangankan masyarakat yang nyata-nyata memang membeli kayu yang hasil itu yang sudah pada roboh. Masyarakat yang punya sendiri, milik sendiri, tambaknya sendiri mau nebang membutuhkan itu permisi mbak, 'mohon maaf Pak saya membutuhkan bakau 3 batang untuk kepentingan ini', 'ya udah monggo tapi jenengan tetap nanam'. Jadi sekarang masyarakat sudah latah tetap serba permisi."

Keberadaan polisi mangrove pun mulai diakui. Buktinya mereka kerap diikutkan dalam patroli yang dilakukan berbagai instansi seperti dinas kelautan dan perikanan.  Trisno Dinoto senang bisa melakukan sesuatu untuk dusunnya. Ia berharap perlengkapan kerjanya sebagai polisi mangrove bisa ditambah lembaga pemerintah terkait. "Kita butuh seragamlah, seragam baru juga topinya. Paling tidak ada pentungan, namanya kita berpatroli tangan kosongkan kayaknya, barangkali yang di sana melawan."

Dengan kembali lebatnya hutan mangrove, kekhawatiran warga Pandansari akan abrasi pantai mulai berkurang. Ekonomi warga setempat  yang mengandalkan hasil laut pun  kembali bergairah. Trisno Dinoto dengan semangat bercerita, "Penghasilan nambah kayak kepiting  lebih banyak karena hidupnya berlindung di mangrove-mangrove itu, kita juga kalau pasang jaring di situ hasilnya lebih banyak. Kalau dulu mah susah kayaknya, mau ke laut aja susah karena ombaknya besar. Kalau sekarang enggak, sudah mendingan jadi ombak itu udah pecah dulu karena kena mangrove itu." (Rur)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Arab Saudi Akan Gratiskan Vaksin Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Polemik TNI 'cawe-cawe' Copoti Baliho Rizieq Shihab

Kabar Baru Jam 8

Wagub DKI Ingatkan Sanksi Bagi Penolak Tes Covid-19 di Petamburan