Studio Dapur, Upaya Mendongkrak Derajat Anyaman Bambu

Studio Dapur berusaha mengangkat derajat anyaman bambu itu ke level lebih tinggi, bahkan di jual ke luar negeri

Produk anyaman bambu produksi Studio Dapur, Tasikmalaya, Jawa Barat. (foto: Taufik/KBR)

Rabu, 04 September 2019

Selama bertahun-tahun kerajinan anyaman bambu di Tasikmalaya, Jawa Barat tak berubah, begitu-begitu saja. Nilai jualnya pun rendah. Alain Bunjamin dari Studio Dapur berusaha mengangkat derajat anyaman bambu itu ke level lebih tinggi, bahkan di jual ke luar negeri. Jurnalis KBR Agus Luqman menemui anak muda dan para perajin yang dibinanya di Tasikmalaya Jawa Barat.

  

- Mendongkrak Derajat Anyaman Bambu
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Tasikmalaya- Kami mendaki salah satu bukit kecil di Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Ditemani warga lokal setengah baya bernama Toto, menyisir puluhan anak tangga batu berkelok-kelok. Di atas bukit setinggi 20-an meter itu terdapat rimbunan tanaman bambu tumbuh subur. Batangnya menjulur ke berbagai arah, rata-rata sepanjang 10 hingga 12 meter.

“Ini bambu tali semua. Bambu itu ada yang lingkaran diameternya 10 cm. Kalau ini bambu bombong, untuk anyaman tidak bisa... Kalau yang itu udah bisa ditebang,” kata Toto menjelaskan.

Kebun bambu itu milik warga. Biasanya dijual untuk bahan baku kerajinan bambu. Di Tasikmalaya, banyak warga yang berprofesi sebagai perajin. Toto sudah puluhan tahun jadi perajin bambu.

Tangannya cekatan membuat besek untuk hajatan, bakul nasi, tampah, sampai keranjang.

“Ini bambu sudah siap pakai. Yang usia 8 bulan. Kalau terlalu tua kurang bagus, ujarnya.

 

Sayangnya, kerajinan bambu di Tasikmalaya berkembang lambat. Padahal bambu di daerah ini melimpah. Alain Bunjamin melihat potensi ini. Ia dan dua temannya mendirikan Studio Dapur sejak 2016 untuk memberdayakan perajin serta meningkatkan kualitas kerajinan bambu Tasikmalaya.

Alain percaya, bambu adalah material ramah lingkungan yang punya banyak potensi.

“Sebagai desainer saya sedih melihat kualitas produknya, mulai kualitas bahan sampai kualitas desainnya, bentuknya. Itu stagnan, puluhan tahun tidak berkembang. Bentuk yang sama, sampai di foto zaman Belanda itu dulu juga ada bentuk yang sama. Kok tidak berkembang, membosankan banget,” kata Alain.  

Studio Dapur menggandeng perajin bambu lokal seperti Toto supaya terus belajar. Alain mengaku kemampuan warga Tasikmalaya mengolah bambu adalah aset yang perlu dipertahankan agar tak punah.

“Kalau Pak Toto ini tidak dibantu berkembang, untuk membuktikan kalau skill-nya bermanfaat di industri bambu, skill-nya akan punah. Tidak ada yang meneruskan. Jadi kita cari cara agar keahlian Pak Toto bisa diteruskan, terutama untuk generasi yang lebih muda,” ujarnya.

 

Dengan sentuhan Alain dan Studio Dapur, barang-barang kerajinan yang dihasilkan makin bervariasi, lebih halus dan berkelas. Dari tempat buah atau kue, tudung saji, baki, wadah multifungsi, tatakan minuman hingga tempat sumpit. Studio Dapur kini punya 40-an desain kerajinan bambu yang siap ditawarkan ke calon pembeli.

 

Sejak bergabung dengan Studio Dapur, Toto belajar jenis dan corak anyaman baru yang lebih rumit, dengan desain yang cantik.

“Saya juga jadi belajar lagi anyaman yang baru. Ada anyaman dadu yang berbentuk tiga dimensi. Saya belajar lama. Karena di sini tidak dikenal jenis anyaman itu. Katanya itu dari Australia. Baru belajar kan nggak tahu rumusnya, dari mana awal menganyamnya. Setelah dikasih tahu ya baru ketemu. Jadi anyaman juga ada rumusnya,” kata Toto.  

Kalau Pak Toto ini tidak dibantu berkembang, skill-nya akan punah. Kita harus memastikan kemampuan ini bisa diteruskan untuk generasi yang lebih muda

- Alain Bunjamin - Pendiri Studio Dapur

Ini adalah sebuah tantangan tersendiri bagi Toto. Tak jarang ia gagal saat mencoba sebuah desain baru. Menurut Toto kuncinya jangan pernah berhenti belajar.

“Misalnya ada order, kalau itu barang baru ya anyamannya dipelajari dulu. Kadang-kadang beberapa kali gagal. Misalnya tempat sumpit itu, bikin empat lima gagal, bikin 50 gagal semua. Bikin lagi gagal lagi. Baru kemarin ketemu sebagian. Ternyata harus ada cetakan, cetakannya harus begini, katanya

Tapi ganjarannya setimpal. Seni dan desain artistik membuat harga jual meroket. Bakul nasi yang biasanya dijual seharga Rp30 ribu, kini melesat jadi Rp250 ribu.

Maraknya gerakan kembali ke alam dan kampanye mengurangi plastik juga meningkatkan pamor produk bambu. Buktinya, pesanan masuk ke Studio Dapur juga meningkat. Kata Alain, pemesan biasanya datang dari pengusaha restoran atau hotel.

Jika di awa Studio dapur hanya bisa menjual sekitar 50 buah produk per bulan, kini penjualan bisa mencapai 400 buah per bulan. Itu pun banyak pesanan ditolak karena kapasitas produksi masih kecil.

“Selama ini banyak dari Jakarta dan bali. Sebagian besar hotel, restoran atau kafe. Kemarin kita dapat order dari Jepang, Belgia, Finaldia, Spanyol, ada Singapura juga,” kata Alain.

Perajin dari Singaparna, Dede baru dua tahun bergabung di Studio Dapur. Sebelumnya penghasilan Dede hanya sebanyak barang yang terjual. Disamping itu, ia masih harus menanggung biaya produksi. Sekarang, Studio Dapur membayarnya Rp500 ribu per minggu sebagai perajin.

“Kalau di sini barangnya nggak seperti di kampung saya. Kalau di kampung itu barang-barangnya di jual ke Jakarta, seperti besek, tempat parsel, dan sebagainya. Kalau di sini, barangnya beda. Bambu pun harus halus, tidak boleh hitam, bambunya harus lurus, kata Dede.

Pendiri Studio Dapur Alain Bunjamin kerap berkeliling mendatangi toko-toko yang memproduksi dan menjual kerajinan bambu tradisional. Sembari menunjukkan foto-foto kerajinan bambu produksi Studio Dapur, Alain mengajak perajin bambu lokal untuk belajar desain produk bambu yang lebih berkualitas.