Belajar Damai di Kota Bandung

Dulunya, Ary kerap mengejek kawannya yang berbeda agama. Bahkan tak jarang ia memberi label kafir pada yang berbeda pandangan dengannya.

Peserta Sekolah Damai Indonesia (SEKODI) Bandung, Jawa Barat. (Foto: KBR/Taufik)

Rabu, 04 September 2019

Hidup bersosial tak semulus jalan raya. Banyak beda pendapat, diskriminasi hingga intoleransi. Sejumlah anak muda rutin berkumpul di Bandung Jawa Barat, mencari cara berdamai dengan masalah. Di Sekolah Damai Indonesia (SEKODI), Reporter Agus Luqman menemui mereka yang begitu semangat menyebarkan hidup damai.  

- Belajar Damai di Kota Bandung
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Bandung-Sabtu siang di sudut Jalan Cijagra, Bandung, Jawa Barat. Di sebuah bangunan bertingkat dua. Belasan orang meriung melingkari meja besar. Disini berkumpul sekelompok orang yang datang dari latar belakang yang berbeda. Usia dan profesi mereka beragam, dari mahasiswa, guru, aktivis LSM, hingga siswa SMA. Secara bergantian, mereka membagi pengalaman dan pergulatan hidup.

Seminggu sekali mereka berkumpul, saling cerita dan bermain. Di komunitas itu, mereka belajar berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Berusaha menerima keadaan diri sendiri maupun keberadaan orang lain. Apapun kondisi, latar belakang dan perbedaan. Mereka belajar di sini, di komunitas SEKODI, Sekolah Damai Indonesia, Bandung.

Ary Maulana, pemuda lulusan Universitas Islam Negeri Bandung, terlibat di komunitas SEKODI sejak 2018. Dulunya, Ary kerap mengejek kawannya yang berbeda agama. Bahkan tak jarang ia memberi label kafir pada yang berbeda pandangan dengannya. Di SEKODI, semua pandangan itu berubah.

“Kalau dipikir-pikir, dulu saya itu ke teman-teman yang beragama berbeda seperti Kristen, Hindu, Buddha, saya sering ejek mereka. Kadang saya sering sebut mereka babi, anjing. Lalu kalau ada orang salah kutip hadits, langsung saya salahkan. Kalau tidak sesuai dengan apa yang saya pahami, saya bidahkan, saya kafirkan. Namun seiring berjalannya waktu, saya menemukan sesuatu, mencoba belajar menerima sesama kita sebagai manusia. Saya ingat pepatah Habib Luthfi, jika engkau tidak punya alasan untuk menerima orang lain, cari saja satu alasan yaitu engkau sama-sama manusia,katanya disambut tepuk tangan teman-temannya.

Ary yang dulu galak terhadap kelompok agama lain, kini bertransformasi. Ia memilih aktif di SEKODI yang dibentuk alumni School of Peace. Di SEKODI, ia kini menjadi fasilitator komunitas.

Salah satu semboyan atau slogan SEKODI adalah dari toleransi, menuju penerimaan, pelibatan bersama dalam perspektif keadilan

- Ary Maulana - Fasilitator SEKODI

Dalam SEKODI, satu demi satu kisah pahit muncul. Dari pergulatan di jalan spiritual, perjuangan bangkit dari korban perundungan, kesehatan mental, hingga diskriminasi karena orientasi seksual berbeda. Linda adalah salah satunya. Ia sempat menjadi korban perundungan gara-gara memutuskan melepaskan jilbab. Namun tak sedikit pula yang tetap menguatkan Linda.

“Saya Linda, waktu SMA saya memutuskan untuk pakai hijab. Lalu saya masuk Rohis. Ketika kuliah, saya merasa identitas saya bukan yang seperti ini. Akhirnya saya curi-curi, kadang pakai hijab, kadang tidak. Suatu ketika ada momen sharing kayak gini, saya bilang ke teman-teman saya merasa tidak nyaman seperti sekarang. Saya shock dan terharu, karena teman yang berjilbab justru yang pertama menguatkan saya. Akhirnya, saya berani jadi diri saya sendiri. Di samping saya punya perspektif sendiri soal hijab untuk muslimah. Bukan karena saya soksokan ingin beda,kata Linda.

Kisah lain datang dari Nur. Pria berusia 45 tahun ini sudah bergabung dengan SEKODI selama satu tahun. Nur adalah pendiri Fight Bullying Communityyang punya fokus mendampingi korban perundungan. Komunitas ini ia bentuk bersama kawan-kawannya karena punya pengalaman pahit sebagai korban bullying.

Dulu saya dari kelas 1 SMP sampai 1 SMA sangat parah jadi korban bullying, sampai ditelanjangi di sekolah. Hikmah dibully selama 4 tahun adalah timbulnya rasa empati terhadap yang lebih lemah, minoritas. Kenapa saya sampai sekarang ngomongnya gagap pun karena dulu dibully sama guru Matematika waktu kelas 3 SD,” kata Nur.

Cerita soal diskriminasi juga datang dari seorang transpuan. Sebut saja namanya Res. Ia sempat vakum dan memilih menghilang, karena komunitas tempat ia berkespresi akhirnya mengetahui identitas aslinya. Namun saat ini Res berusaha bangkit dan memulai kembali aktifitasnya. Meski, kekhawatiran dan rasa takut kerap menghantuinya.

“Aku sempat vakum dari beberapa komunitas, termasuk hobiku sendiri. Hobiku Jejepangan. Aku vakum, intinya menghilang. Karena alasan identitas. Karena teman-temanku di komunitas Jejepangan menganggapku pewong alias perempuan, tiba-tiba jadi begini. Jadi menghilang. Sekarang mulai aktif lagi. Saya rada khawatir, takutnya orang ini tahu dulu gue siapa. Nggak mau dinotice. Teman-teman trans itu ada yang visible, ada yang nggak visible. Kebanyakan teman-teman trans laki-laki invisible, tidak mau dipublish,” katanya. 

Tentang SEKODI


Sekolah Damai Indonesia dibentuk oleh sejumlah alumni School of Peace sebelumnya pada 2018 lalu, digawangi Lioni Beatrik Tobing asal Bandung. Komunitas yang kini sudah berbadan hukum itu dimaksudkan untuk mendorong transformasi atau perubahan individu dan kemudian mengubah perspektif orang sekitarnya tentang perdamaian dan bagaimana berdamai. Sejak dibentuk hingga kini, SEKODI sudah tiga kali membuka pendaftaran dengan peserta total mencapai hampir 100 orang.

Ary Maulana bercerita, komunitas ini menjadi wadah bagi semua orang untuk berbagi dan bertanya tentang banyak hal yang dianggap sensitif. Di SEKODI mereka diajak mengenal keragaman dan toleransi.

“Biasanya kita belajar di dalam ruangan seperti ini, dan ada juga kita berkunjung ke tempat-tempat ibadah. Juli 2018 kita berkunjung ke pura, belajar Hindu itu apa? Kita juga kunjungi rumah ibadah Buddha. Ke Katolik kita juga kunjungi gereja, kita tanya-tanya, konfirmasi berita-berita tertentu tentang agama-agama mereka. Paling banyak peserta muslim. Banyak banget pertanyaan ke Hindu, Buddha, Katolik. Misalnya, apakah benar berita-berita tentang donasi dari gereja itu misionaris atau kristenisasi. Ternyata tidak benar,” cerita Ary Maulana.

Tak seperti namanya, Sekolah Damai Indonesia atau SEKODI bukan sekolah pada umumnya. Tak ada ruang kelas khusus, karena pertemuan bisa digelar di manapun. Di masjid, di gereja atau taman. Tak ada guru, karena semua saling berbagi. Tak ada batasan umur, karena di sini peserta anak SMA bisa duduk bersama dengan peserta mahasiswa S2.

Mona merupakan peserta termuda di SEKODI Bandung saat ini. Meski sempat diprotes orang tuanya, Mona tak ragu ketika memutuskan ikut SEKODI. Ia ingin keluar dari zona nyaman dan bergaul dan berteman dengan orang lain yang berlatar belakang berbeda.

Aku emang mau menambah relasi baru dengan orang-orang yang open minded, supaya aku juga bisa open minded. Walaupun beda usia juga,” kata Mona.

Keberadaan SEKODI juga menarik minat Vania, warga Yogyakarta yang kini mengambil magister psikologi di Universitas Padjajaran Bandung.Setiap pertemuan mingguan SEKODI, Vania selalu menunggu-nunggu sesi refleksidimana tiap orang bercerita tentang pengalaman dan konflik-konflik dalam kehidupan mereka. Melalui refleksi, ia terbantu untuk mengenal peserta lain dan perbedaan-perbedaan yang ada.

“SEKODI ini menarik, karena isu-isu yang dibahas bukan isu-isu biasa. SEKODI yang saya tahu membahas bagaimana sih kita berhubungan dengan orang lain yang berbeda, membangun toleransi, dan belajar berinteraksi dengan mereka yang selama ini dianggap minoritas atau dipandang sebelah mata. Perjumpaan-perjumpaan ini menarik buat saya,” kata Vania yang juga berpraktik psikolog di Bandung.

Vania mengaku ada banyak hal baru yang ia temui selama mengikuti kelas di SEKODI. Di SEKODI ia juga punya banyak kesempatan mengklarifikasi berbagai isu dan stigma yang berkembang di masyarakat langsung pada yang mengetahui.

“Pertemuan pertama saya itu langsung mengenal soal Ahmadiyah dan Syiah. Itu saya langsung.. wow... saya kagum sendiri. Ini pembahasannya di luar imajinasi saya. Sebulan pertama kita belajar tentang agama, berdiskusi dengan orangnya langsung, berkunjung ke tempat ibadah. Karena saya Katolik, saya juga bisa klarifikasi teman-teman lain yang bertanya-tanya. Saya juga berjumpa dengan orang-orang yang dipandang sebelah mata, seperti komunitas LGBT. Baru di sini saya bisa bertemu dengan teman-teman transpuan. Bertemu tidak hanya lihat doang, tapi berdiskusi, berinteraksi, bercanda bersama, makan bareng. Ini nggak saya dapatkan selain di SEKODI,” kata Vania.

Subekti Wirabhuana merupakan salah seorang yang terlibat sejak awal berdirinya SEKODI Bandung. Dosen salah satu perguruang tinggi negeri di Bandung ini punya pengalaman pribadi sebagai minoritas muslim saat kuliah doktoral di Jerman. Pengalaman itu membuatnya langsung tertarik membantu Lioni Beatrix mendirikan SEKODI Bandung.

“Di Eropa yang mayoritas nonmuslim, otomatis kita menjadi minoritas. Saya melihat di sana penerimaan warga mayoritas terhadap minoritas muslim cukup baik. Atas dasar refleksi itu, ketika kembali ke Indonesia, kembali lagi menjadi mayoritas, kenapa kita tidak punya pandangan terhadap minoritas sama seperti kita diperlakukan secara nyaman di Eropa. Itu yang mendasari saya ikut terlibat kegiatan-kegiatan SEKODI,” kata Subekti.


Tiga nilai yang diusung dan diperkenalkan SEKODI adalah tolerance atau toleransi, acceptance atau penerimaan dan engagement atau pelibatan bersama untuk kebaikan. Dengan nilai itulah, SEKODI juga berusaha mengundang pihak-pihak yang berpandangan radikal untuk dialog.

“Berulang kali kami mengundang atau mengajak orang yang punya pandangan atau perspektif radikal. Karena prinsip acceptance tadi, karena kita anggap bisa menoleransi mereka, kita coba ajak mereka berdialog. Kita pengen tahu apa yang ada di pikiran kalian, mengapa punya pandangan A, B, C terhadap fenomena yang sama,” ujarnya.