Bagaimana Mereka Mengenang Munir Setelah 15 Tahun Berlalu

Setelah 15 tahun, aku tahu, Munir tidak sendiri. Aku bersamamu Munir. Bersama teman-teman seperjuangan kita

Ilustrasi karya Diva, putri Munir yang ditampilkan dalam peringatan 15 Tahun Kematian Munir, di Jakarta. (Foto: Sadida Hafsya)

Senin, 16 September 2019

September 2019, 15 tahun telah berlalu sejak aktivis Hak Asasi Manusia, Munir Said Thalib, tutup usia. Meski begitu, semangat perjuangannya tak padam sedikitpun. Bagaimana Munir dikenang setelah 15 tahun berlalu? Reporter KBR, Siti Sadidah merangkum kisahnya untuk anda.  

-
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Jakarta- "Munir bukan satu-satunya korban dengan cara berpikir seperti itu. Banyak sekali korban, dengan cara berpikir membenarkan kekerasan. Sekarang aku hanya ingin menghayal, apa yang diperjuangkan Munir, untuk apa, dan siapa. Setelah 15 tahun, aku tahu, Munir tidak sendiri. Aku bersamamu Munir. Bersama teman-teman seperjuangan kita"

Itu adalah cuplikan monolog “Aku Istri Munir” oleh Holifah Wira.Malam itu, 6 September 2019, orang-orang berkumpul mengenang kepergian Pejuang Hak Asasi Manusia, Munir Said Thalib, di Auditorium Visinema Campus, Jakarta Selatan.

Acara bertema “15 Tahun Pembunuhan Munir; Masih Mencari, Tetap Berani” itu dihadiri remaja hingga mereka yang tak lagi belia. Sejumlah peserta bahkan terpaksa berdiri atau memilih duduk di tangga jalan, sebab seluruh kursi terisi penuh.

Istri Munir Suciwati, menceritakan betapa sulitnya menjalani kehidupan sejak ditinggalkan oleh suaminya. Ia bersama dua buah hati, berjuang untuk hidup dengan kenangan-kenangan akan sosok Munir.

"Secara kejiwaan kami mengalami shock yang sangat cukup berat. Dan saya waktu itu sampai ingat ya, yang namanya kekuatan pun saya gak punya. Bahkan mengangkat kardus kosong saja saya gak bisa, gak kuat saya. Intinya itu luar biasa. Jadi saya mencoba menghibur saya misalnya saya mencari apa yang sangat saya senangi. Saya coba lakukan. Saya coba memberikan ruang saya. Tapi yang saya hadapi hanyalah tangisan, rasa sakit yang luar biasa. Jadi benar-benar melumpuhkan kehidupan saya sebetulnya. Tapi saya memilih untuk bangkit," kata Suciwati.

Suci lantas menemukan kekuatan kembali dari anak-anaknya. Soultan Alif Allende dan Diva Suukyi Larasati. Mereka tumbuh dengan kenangan yang ditinggalkan sang Ayah.  

Anak Pertama Munir, Alif kini sudah duduk di bangku kuliah semester 7, Universitas Brawijaya. Sembari menahan tangis bercerita tentang sosok ayahnya. Ia mengaku masih merasa sakit setiap kali mengenang ayahnya.

"Tidak ada seseorang pun yang akan mengganti sosok abah, siapa pun itu. Dan lukanya masih belum benar-benar hilang mas. Dan aku tidak akan merasa hancur. Kapan seperti yang aku rasakan dulu saat masih ada abah," ujar Alif.

Sementara putri Munir, Diva tumbuh dengan berbagai kisah perjuangan sang ayah. Ia bahkan membuat video mengilustrasikan sosok Ayah berdasarkan bayang ingatannya yang terbatas dan cerita dari orang-orang terdekatnya.

"Saya sebenarnya sangat marah karena saya hanya mengenal abah saya selama dua tahun. Dan abah saya harus dihilangkan secara paksa oleh tangan manusia. Jadi saya sangat tidak mengetahui apa yang sebenarnya saya rasakan pada abah saya. Bagaimana ibu saya berbicara pada saya bahwa abah kamu seorang yang sangat humoris. Saya sebenarnya sangat bahagia melihat ibu tersenyum saat menceritakan tentang abah. Tapi sebenarnya saya gak merasakan apapun. Dari situ lah saya marah karena saya gak kebagian cerita yang bagus itu tadi," kata Diva.  

"Saya sebenarnya sangat marah karena saya hanya mengenal abah saya selama dua tahun. Dan abah saya harus dihilangkan secara paksa oleh tangan manusia."

- Diva Suukyi Larasati - Putri Munir

Munir, dikenal karena sikap beraninya menentang ketidakadilan di masa orde baru. Lantangnya munir bersuara membuat ia dibungkam. Pada 7 September 2004, Munir dibunuh dengan diracun dalam penerbangan menuju Amsterdam, Belanda. Hingga kini, dalang dibalik pembunuhan munir tak jua terungkap. 

Keadilan untuk Munir tak berhenti disuarakan. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) juga aktif mengawal penegakan hukum kasus Munir. Staf Divisi Pemantauan Impunitas Kontras, Dimas Bagus Arya mengatakan ada beberapa pendekatan yang mereka lakukan terhadap kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu.

"Kita berusaha mencoba dokumen TPF, yang pada waktu itu diserahkan ke Presiden SBY tahun 2007. Tapi ketika transisi dari Presiden SBY ke Jokowi itu dinyatakan hilang. Nah itu adalah salah satu bentuk di mana kita berusaha mencoba untuk membuka dokumen itu ke publik supaya publik tahu siapa sih aktor intelektual di belakang pembunuhan Munir itu sendiri," ujar Dimas.

Salah satu peserta yang hadir dalam peringatan 15 tahun Munir adalah Rehwinda Naibaho. Sebagai pemuda, ia merasa perlu mengetahui bagaimana negara lalai dalam penegakan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia.   

"Itu kan termasuk dukungan publik. Jadi pemerintah tahu anak-anak sekarang sudah melek gitu loh, gak bisa kalian diam saja. Orang mereka belum lahir, tapi kan dengan melihat kedatangan mereka, mereka kan pasti cari tahu. Siapa sih Munir ini, kenapa sih dia mati. Tapi setelah mereka tahu beritanya, mereka datang. Itu kan dukungan besar juga sebenarnya buat ke depannya, Jadi intinya, ini tuh gak mati kasusnya. Akan terus berjalan walaupun yang tua-tua sudah pada meninggal tapi anak muda kan tetap terus lahir menyuarakan itu," seru Rehwinda.

Meski 15 tahun berlalu, Munir tak padam. Perjuangan untukknya masih nyata. Ia ada dan berlipat ganda. Ia masih mencari dan tetap berani.