Pustaka Swadaya Desa Cileungsi Kidul (2)

Perpustakaan Desa Cileungsi Kidul memang tak semata berfokus ke layanan buku. Pengelola juga menyediakan berbagai macam program. Mulai dari bimbingan belajar untuk siswa sampai membuat ragam lomba.

SAGA

Rabu, 04 Sep 2013 11:27 WIB

Author

Novri Lifinus

Pustaka Swadaya Desa Cileungsi Kidul (2)

perpustakaan, desa, cileungsi kidul, buku, film

Pemutaran Film

Soal kunjungan  yang disebut Sugeng Pribadi tadi maksudnya siswa dari sekolah sekitar yang datang menyambangi perpustakaan ini.  “Setelah datang ke perpustakaan, kami sedikit beri gambaran perpustakaan itu apa. Bahwa perpustakaan itu bukan kumpulan buku-buku yang menjemukan. Kemudian kami ajak fun game. Kalau mereka dari Desa Cileungsi Kidul, akan ada semacam kuis-kuis kecil, ‘siapa nama kepala desa?’, jadi mereka akan happy, jadi fun di perpustakaan. Baru setelah mereka relax, masuk perpustakaan, dengan senang mereka akan membaca. Biasanya sih maksimal 3 jam,” kata Sugeng.

Kedatangan rombongan sekolah tersebut tak begitu saja terjadi. Sugeng dan kawan-kawan pengelola perpustakaan rutin jemput bola ke sekolah-sekolah. Awalnya memang sulit menarik minat pengunjung ke perpustakaan ini kalau tak melakukan jemput bola, kata petugas perpustakaan, Siti Hindun. Dengan pendekatan kepada orang tua juga, anak-anak pun ramai berkunjung, apalagi kalau akhir pekan.

Salah satu sekolah yang rutin mendatangi perpustakaan Desa Cileungsi Kidul adalah pelajar di tempat Apan Suryadi mengajar, SD Negeri Babakan 1. “Secara berkala setiap Jumat Sabtu kami programkan setiap minggunya, baik siswa putra-putri. Karena keterbatasan tempat di sini (di perpustakaan), paling satu kali kunjungan itu 40 anak,” kata Apan.

Bahkan kata kepala perpustakaan, Sugeng Pribadi, ada sekolah yang jauh-jauh hari sudah memesan tempat  untuk beberapa bulan kunjungan. “Jadi ada satu sekolah itu ada yang sudah pesan untuk delapan sesi. Delapan sesi bisa dibayangkan 8 x 30 siswa sudah 240 orang. Belum sekolah yang lain. Ini termasuk program yang lumayan sukses sehingga dikunjungi banyak anak-anak,” jelasnya.

Di bagian belakang perpustakaan, ada sebuah ruangan yang luasnya sekitar 4 x 8 meter. Di dindingnya, nampak papan tulis yang menyisakan guratan  gambar binatang. Ruangan ini juga dilengkapi projector. Inilah  tempat yang biasa digunakan untuk menyaksikan film atau mendongeng.

“Yang menarik ini, belum pernah ada perpustakaan desa mengadakan nonton bareng. Jadi setiap malam minggu daripada anak-anak di komplek perumahan atau sekitarnya itu berkeliaran main PS (play station), atau ke mall, kami kumpulkan di perpustakaan. Kami putarkan film layar lebar yang mengandung unsur edukatif. Kalau sekarang seperti Tendangan dari Langit, Laskar Pelangi. Jadi kadang-kadang kita request, film apa yang mereka inginkan, kita coba carikan,” jelas Sugeng.

Siswa tempat Apan mengajar suka datang ke sini saban malam minggu untuk menonton film yang mendidik. “Kami juga gelar mendongeng, kemudian nonton bareng, layar lebar, film-film setiap malam minggu,” imbuhnya. Pengelola Perpustakaan Desa Cileungsi Kidul berupaya membuat pengunjung betah dan  nyaman.  

Perpustakaan Desa Cileungsi Kidul  memang tak semata berfokus ke layanan buku.   Pengelola juga menyediakan berbagai macam  program. Mulai dari  bimbingan belajar untuk siswa sampai membuat ragam lomba.  “Di awal-awal berdiri kami mengadakan lomba mewarnai gambar dan menggambar untuk SD dan TK se-Kecamatan Cileungsi. Di sana ada sekitar 600-700 peserta dan halaman kami tak cukup untuk menampung mereka selama dua hari. Ada hal-hal lain yang kami coba misalnya dengan mengadakan lomba resensi buku untuk anak-anak SMP dan SMA,” kata Sugeng.


Di halaman sebelah kanan perpustakaan, ada ruangan terbuka seluar 4 x 10 meter. Di dinding yang dibalut cat biru dipajang foto  perjalanan dua tahun perpustakaan ini. Ini adalah tempat pemberdayaan  masyarakat sekitar. Perpustakaan menjadi tempat diskusi bisnis rumahan, ujar warga setempat, Siti Hindun.

Warga belajar, berdiskusi, dan mendapat informasi tambahan. Seperti cara membatik dan membuat makanan sehat. Meski punya seabrek kegiatan, tapi kepala perpustakaan, Sugeng Pribadi masih punya kegundahan. Koleksi bacaan baru dirasa masih kurang. Sebut saja koran atau majalah.

“Ini yang saya terus terang miris. Sebenarnya perpustakaan ini adalah juara kabupaten, juara provinsi. Kemudian kami coba ke beberapa penerbit daerah untuk memberikan support, minimal memberikan ya free lah satu koran harian, tabloid. Sehingga masyarakat ini, karena dampaknya menurut saya cukup signifikan. Free satu harian, akan dibaca banyak orang,” jelasnya.

Kegundahan hatinya didengar pihak Perpustakaan Nasional. Perpustakaan ini berfungsi menyusun kebijakan nasional di bidang perpustakaan, salah satunya mengelola perpustakaan desa. Juru Bicara Perpustakaan Nasional, Agus Sutoyo mengatakan Perpustakaan Desa Cileungsi Kidul bisa mengajukan ke kabupaten atau langsung ke Perpustakaan Nasional.

“Bisa banget. Makanya kepala perpustakaannya itu membuat surat ke kabupaten/kota. Bahkan ke Perpustakaan Nasional pun kalau itu memang, kita menyebutnya perpustakaan komunitas, itu bisa dapat bantuan. Jadi ada satu pusat yang membawahi itu Pusat Pengembangan Perpustakaan di Jalan Merdeka Selatan No. 11,” terang Agus.

Terlepas kekurangan yang masih ada, Perpustakaan Desa Cileungsi Kidul bisa jadi contoh perpustakaan yang baik. 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Upaya Kurangi Risiko Bencana Iklim

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Perkara Bukber Tahun ini

Kabar Baru Jam 10