Pustaka Swadaya Desa Cileungsi Kidul

Sebagian buku koleksi perpustakaan kata Sugeng merupakan sumbangan warga setempat.

SAGA

Rabu, 04 Sep 2013 11:26 WIB

Author

Novri Lifinus

Pustaka Swadaya Desa Cileungsi Kidul

perpustakaan, desa, cileungsi kidul, buku, film

KBR68H - Apa yang Anda bayangkan jika berkunjung ke perpustakaan? Tempat yang hening atau sekadar lokasi untuk  membaca atau meminjam buku semata? Lupakan itu semua.  Pengelola Perpustakaan Desa Cileungsi Kidul di Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengubah kesan perpustakaan  yang membosankan. Perpustakaan ini punya seabreg kegiatan untuk membuat betah pengunjungnya terutama anak-anak. Mulai dari pemutaran film sampai diskusi santai.

Siang itu, Habib Ahmad Ayasi tampak serius mengamati sebuah buku cerita. Bocah kelas 2 SD ini sedang membuka halaman buku cerita yang dilengkapi dengan soal hitung-hitungan sederhana. Panas terik matahari tak menyurutkan niatnya datang ke perpustakaan Desa Cileungsi Kidul sepulang sekolah.

Habib hampir tiap hari datang ke perpustakaan yang ada di Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini. Inilah perpustakaan hasil urunan warga Desa Cileungsi Kidul. Mereka menyewa sebuah rumah seluas 84 meter persegi atau kira-kira hampir seluas lapangan bulu tangkis. Lima petugas perpustakaan dipekerjakan  di sini.

Sejak berdiri hampir dua tahun lalu perpustakaan ini hanya mengkoleksi seribu eksemplar buku hasil sumbangan  Pemerintah Kabupaten Bogor, kata Kepala Perpustakaan, Sugeng Pribadi. Sebelum dipajang di rak perpustakaan, buku –buku tersebut teronggok sekitar dua tahun di kantor desa. 


“Permasalahan klasik. Di desa itu, kalau dapat buku, kemudian perpustakaannya dimana tempatnya? Akhirnya singkat cerita dari bapak kepala desa, kita ngobrol-ngobrol dengan warga yang lain, akhirnya kita carikan tempat. Kita sepakati perpustakaan desa ini akan lebih bagus kalau ditangani masyarakat secara swadaya,” kata Sugeng.

Salah satu petugas perpustakaan, Esi Sukaesih menuturkan alasan  berdirinya perpustakaan. Salah satunya kata dia untuk menggugah minat baca anak.  “Merasa prihatin dengan lingkungan. Kalau engga ada perpustakaan, anak-anak itu kebanyakan main. Daripada main mending baca buku, mainnya ke sini (ke perpustakaan-red). Maunya saya sih begitu, tapi namanya anak-anak kan enggak bisa dipaksa. Udah gitu teknologi sudah canggih. Susah...Menumbuhkan minat baca anak-anak itu sulit banget,” jelasnya.

Sebagian buku  koleksi perpustakaan kata Sugeng merupakan sumbangan warga setempat.   Total koleksi buku di perpustakaan ini mencapai hampir 4 ribu eksemplar dengan berbagai jenis judul. Ribuan buku tersebut tersusun rapi di rak-rak  di ruangan yang berbentuk segi empat.  Di bagian tengah ruangan disediakan kursi dan bangku dengan karpet hijau untuk pembaca menikmati isi buku. 

Di perpustakaan ini juga disediakan ruangan audio visual. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Upaya Kurangi Risiko Bencana Iklim

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Perkara Bukber Tahun ini

Kabar Baru Jam 10