covid-19

Omah Munir, Rumah Pelawan Lupa

Ia tewas diracun arsenik dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda 7 September 2004 silam. Di Negeri Kincir Angin tersebut Munir rencananya melanjutkan studi hukumnya.

SAGA

Senin, 09 Sep 2013 12:48 WIB

Omah Munir, Rumah Pelawan Lupa

Munir, Omah Munir, Suciwati, HAM, Glenn Fredly

KBR68H -  Tujuh September lalu, tepat sembilan tahun pejuang hak azasi manusia, Munir Said Thalib tewas dibunuh. Ia diracun dalam penerbangan dari Jakarta menuju Belanda. Hingga kini dalang pembunuhnya belum terungkap. Istri Munir, Suciwati dan para pencinta HAM  terus berjuang melawan lupa. Selain terus menagih penegak hukum menuntaskan kasus tersebut, mereka menggagas pembangunan “Omah Munir”.

Pagi itu sepanjang Jalan Bukit Berbunga Sidomulya, Batu,  Jawa Timur, tampak lengang. Padahal biasanya jalan menuju lokasi wisata Selecta dan pemandian air hangat Cangar tersebut, selalu ramai.

Di jalan ini berdiri rumah pejuang hak azasi manusia, Munir Said Thalib. Rumah yang kini  ditempati oleh Suciwati dan dua anak mereka.  Menurut rencana  di areal seluas hampir 400 meter persegi tersebut akan dibangun museum untuk mengenang perjuangan Munir menegakan HAM semasa hidupnya kata Suciwati, “Dan ini akan menjadi museum HAM pertama di Indonesia, dan kita mau ceritakan soal pelanggaran HAM di Indonesia, sejak Orde Baru .”
 
Dia menambahakan,“Yang pasti  aku berharap ini kerja bareng ya, selama ini kan litigasinya sistemnya penegakan hukumnya buruk, tidak bisa berbuat banyak, soal keadilan dan kebenaran, tapi tetap disuarakan. Tapi yang lebih penting nilai-nilai yang dibawa  Cak Munir, ketika nilai yang dia yakini kita lakukan, dia hidup.”

Munir semasa hidupnya dikenal sebagai aktivis yang gigih memperjuangkan HAM. Dia adalah aktivis yang membidani sekaligus memimpin  Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pada masa Orde Baru. Munir  dikenal kritis terhadap tindak sewenang-wenang dari aparat militer. Ia juga kerap bersuara lantang saat kritik isi Rancangan Undang-undang Intelijen di DPR.

Ia tewas diracun arsenik dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda 7 September 2004 silam. Di Negeri Kincir Angin tersebut Munir rencananya melanjutkan studi hukumnya.

Komplotan pembunuh Munir diduga melibatkan anggota Badan Intelijen Negara (BIN). Pengadilan beberapa tahun silam telah jatuhkan vonis kepada salah satu pelakunya Pollycarpus Budihari Priyanto. Bekas pilot pesawat Garuda tersebut dihukum 15 tahun penjara. Namun dalang pembunuh Munir hingga kini masih belum tersentuh hukum.

Kembali ke rencana pembangunan Omah Munir. Kakak kandung Munir, Anisa Said Thalib ikut mendukung rencana Suciwati.   Gak apa-apa, selama itu tujuannya positif, untuk mengingatkankan saja bahwa  Munir pernah berbuat seperti itu, walaupun akhirnya seperti itu tapi kan setidaknya pernah melakukan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan pelajaran di masa yang akan datang,” katanya.

Tak hanya keluarga, warga Batu juga antusias menyambut rencana tersebut. Seperti dituturkan salah satu warga, Danang Raharjo, “Oh ya mendukung, mendukung sekali lebih baik gitu, kan biasanya orang gak tahu jadi tahu, biasanya orang awam kebanyakan nggak tau masalah itu, kalau gitu kan bisa tahu semua kalau bikin museum, ya harapannya minta diselesaikan kan sampai sekarang masih terkatung-katung itu masalahnya itu kasusnya.”

Untuk mewujudkan Omah Munir, Suciwati bersama sejumlah pegiat HAM mulai menggalang dana masyarakat.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona