Desa Mekarjaya dari Desa Pembalak ke Pelestari Lingkungan (Bagian II)

Berdirinya pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Desa Mekarjaya, Cianjur, Jawa Barat memberi berkah berlipat kepada warga. Tak hanya mendapatkan pasokan listrik untuk penerangan rumah atau melihat tayangan televisi, warga kini antusias menanam padi kare

SAGA

Selasa, 03 Sep 2013 18:14 WIB

Author

Irvan Imamsyah

Desa Mekarjaya dari Desa Pembalak ke Pelestari Lingkungan (Bagian II)

desa mekarjaya, mikrohidro, air, energi alternatif, lingkungan


KBR68H-
Pembangkit listrik mikrohidro membawa berkah bagi warga Desa Mekarjaya, Kecamatan Cidaun, Cianjur Jawa Barat. Selain menerangi rumah, aliran air yang menggerakkan pembangkit juga memasok air untuk sawah warga. Dampak lain, konsumsi listrik warga yang tinggal di sekitar hutan lindung Gunung Simpang makin meningkat. Mereka mulai tergoda membeli berbagai barang elektronik. Situasi yang dikhawatirkan bisa mengganggu pasokan listrik yang jumlahnya masih terbatas. Pemangku desa perlu jurus jitu menyiasatinya. 


Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Desa Mekarjaya, Cianjur, Jawa Barat telah memberi berkah berlimpah kepada warga. Sekarang, mereka tak hanya bisa menikmati malam terang-benderang, atau menonton siaran televisi bersama keluarga. Berkat adanya pembangkit mikrohidro, warga juga menjadi sangat antusias menggeluti usaha taninya. Dari ratusan lahan persawahan yang ada itu, sebagian sudah memasuki musim tanam baru, sementara sisanya siap masuk masa panen.

“Sebelum ada turbin, saluran air tidak besar. Tapi pas bikin turbin di sini, tambah besar debit airnya. Sampailah satu desa bisa merasakan manfaatnya air dari turbin ini. Di sini khan cuma sebesar ini, tapi di tempatnya Aki Karman lebih besar lagi. Lebih deras lagi. Kadang panennya di Cibitung, beda penghasilan,” jelas Apep pengurus PLTMH di Desa Mekarjaya sambil menunjukkan rute aliran parit yang mengairi lahan persawahan warga. 

Aki Karman yang disebut Apep, adalah tokoh pelestari lingkungan di Mekarjaya. Sementara Iwan, warga lainnya turut merasa senang karena bisa menanam padi tiga kali dalam setahun. “Dulu-dulu tanah yang paling subur, cuma dua kali setahun. Kalau sekarang tak ada batasnya.”

Kalau sudah begitu, Apep menimpali, warga tak lagi mengandalkan sistem sawah tadah hujan. Sekarang hasil panen melimpah, meski setiap keluarga tak memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Apep misalnya, bisa mendapatkan 5 – 6 kuintal beras hanya dengan tiga petak lahan seluas dua kali lapangan tennis. Ini semua berkat, pasokan air yang cukup ke ladang.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pemerintah Sebut Sertifikasi Layak Nikah Tak Wajib

Super You by Sequis Online, Asuransi Online untuk Milenial