Desa Mekarjaya dari Desa Pembalak ke Pelestari Lingkungan (3)

Peraturan desa tentang pelestarian hutan ala Desa Mekarjaya adalah aturan sederhana yang mengarahkan warga untuk hidup arif berdampingan dengan alam jelas Sekretaris Desa Mekarjaya Tarsa.

SAGA

Selasa, 03 Sep 2013 17:52 WIB

Author

Irvan Imamsyah

Desa Mekarjaya dari Desa Pembalak ke Pelestari Lingkungan (3)

desa mekarjaya, cianjur, hutan, mikrohidro, listrik

Perdes Anti Perusakan Hutan

Peraturan desa tentang pelestarian hutan ala Desa Mekarjaya adalah aturan sederhana yang mengarahkan warga untuk hidup arif berdampingan dengan alam.  Sekretaris Desa Mekarjaya Tarsa menjelaskan, peraturan desa mulai disiapkan pada era 2001. Saat itu, warga bersama pegiat masyarakat dari Yayasan Pribumi Alam Lestari mulai menyiapkan persemaian bibit pohon. Setelah pohon tumbuh, warga bahu membahu menanam pohon di kawasan hutan dan desa.

Aturan itu diharapkan dapat menghijaukan kembali hutan yang rusak akibat ditebang warga. “Sekaligus menjaga sumber air yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan,” jelas Sekretaris Desa Mekarjaya Tarsa.

Sesepuh Desa Mekarjaya Eker Karman mengatakan upaya penanaman pohon oleh warga bertujuan untuk menyelamatkan sumber air yang mengalir ke berbagai pelosok desa. Penanaman pohon juga dilakukan pada 70 titik sumber air yang ada. “Menanam mata-mata air. Di pinggir-pinggir sungai, sungai kecil harus ditanami kayu. Karena membutuhkan anak sungai. Saluran sungai. Di sini ada lagi. Nah pinggiran sungai diperlihara terus,” tukas Eker Karman menimpali.

Aturan desa yang dibuat memang mengatur banyak hal seputar pelestarian kawasan hutan, termasuk juga mewajibkan setiap pasangan yang menikah dan melahirkan untuk menanam pohon. “Setiap menikah dari Perdes harus menanam dua tangkal. Menikah. Kalau melahirkan harus menanam bapaknya dua batang kayu. Sampai 15 tahun anak kita, sudah bisa di pakai bikin rumah tuh, itu perdes. Berjalan coba rasakan,” tambah Eker Karman.

Sumber Air untuk Penerangan Desa

Oleh warga Mekarjaya, upaya menjaga sumber air dimanfaatkan untuk keperluan pembangkit listrik. Ada dua macam pembangkit yang telah dikembangkan warga desa. Di awal-awal 1985 – 2000, warga menggunakan kincir air tradisional. Namun enam tahun setelahnya warga mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).  “Salah satu urat nadi perekonomian Mekarjaya, yaitu saluran air. Nah dari saluran air tersebut dapat dimanfaatkan dari pertanian dan kebutuhan sehari-hari terbukti dengan kincir air dan PLTMH Turbin,” jelas Tarsa Sekretaris Desa Mekarjaya.

Cara kerjanya kincir air tradisional sebenarnya mirip dengan pembangkit listrik tenaga air skala kecil atau mikrohidro. Hanya saja ukuran dan kapasitas listriknya jauh lebih kecil dari pembangkit mikrohidro. Kemampuan satu unit kincir, bisa memproduksi tegangan listrik sebesar 200 – 300 watt saja. Hanya cukup untuk kebutuhan penerangan satu atau dua rumah saja. Sementara Mikrohidro yang terpasang berkat prakarsa Yayasan Pribumi Alam Lestari (YPAL), memiliki kapasitas listrik hingga 20.000 watt. Sejak itu, perlahan tapi pasti, warga berangsur tidak lagi mengandalkan kincir tradisional untuk aliran listrik di rumah mereka.

Hanya beberapa keluarga yang masih mengandalkan aliran listrik dari kincir air. Seperti keluarga Komanah, yang memanfaatkan dua teknologi tepat guna itu sekaligus. Kedua teknologi itu digunakan karena Komanah sekeluarga bosan hidup dalam gelap gulita. Bertahun-tahun, sejak kawasan hutan lindung Gunung Simpang dirambah untuk ladang dan permukiman warga, puluhan tahun silam.

Penyediaan aliran listrik di mana pun juga sebenarnya menjadi urusan negara melalui PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sayangnya, sambungan kabel dan pemasangan tiang pancang oleh PLN tak kunjung menjangkau Mekarjaya.

Beruntung warga Mekarjaya mendapatkan sokongan dana untuk membangun PLTMH. Berkat PLTMH itu pula, setiap keluarga mendapatkan pasokan 200 – 400 watt, sesuai dengan kebutuhannya. “Sudah 140 keluarga mendapatkan aliran listrik di rumahnya,” jelas Apep dan Sekretaris Desa Tarsa.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat