Desa Mekarjaya dari Desa Pembalak ke Pelestari Lingkungan (2)

Warga pun mulai mengubah kebiasaannya. Dari menebang menjadi menanam pohon di hutan dan hutan rakyat, serta melestarikan sumber air

SAGA

Selasa, 03 Sep 2013 17:46 WIB

Author

Irvan Imamsyah

Desa Mekarjaya dari Desa Pembalak ke Pelestari Lingkungan (2)

desa mekarjaya, cianjur, hutan, mikrohidro, listrik

Kayu untuk Rumah dan Ladang

Sejarah perambahan hutan lindung Gunung Simpang kata sesepuh desa Eker Karman tak setua  sejarah berdirinya Desa Mekarjaya. Tapi dari dulu sampai sekarang, motif warga merambah hutan tetap sama; kebutuhan ekonomi.

“Itu jadi barangkali untuk dibuat ladang. Kayunya tidak di jual. Hancur saja. Dulu sejak sebelum merdeka. Dan sekarang sedikit-sedikit barang kali ada pencuri. Barang kali tidak diketahui, dan barangkali tidak mau terketahui.” Menurut Eker lebih dari 1500-an hektar luas kawasan hutan Gunung Simpang telah disulap menjadi permukiman dan ladang warga di lima desa. 

Tapi, kegiatan membalak kayu hutan oleh warga Mekarjaya mulai surut secara perlahan sejak  12 tahun silam. Adalah Ridwan aktivis lingkungan dari Yayasan Pribumi Alam Lestari yang mengajak warga untuk melestarikan hutan. Menurut Sekretaris Desa Tarsa, Ridwan yang mengingatkan warga desa untuk melindungi alam (hutan-red) dan semua isinya.

Masyarakat pun berangsur sadar untuk tak lagi menebang kayu di hutan. “Bukan hanya menyadarkan secara sistem saja, tapi dibuktikan dengan bukti fisiknya seperti penanaman kayu, sehingga penebangan hutan bisa dikurangi. Selanjutnya dari kegiatan tersebut tadi tak lepas dari peraturan desa,” jelas Tarsa sang Sekretaris Desa.

Peraturan desa yang disebut Tarsa, adalah aturan tentang Hutan dan Kehutanan. Perdes itu melarang warga menebang kayu dan sebaliknya mewajibkan warga  menanam pohon untuk menjaga sumber  air. Agar aturan tersebut bisa berjalan, warga membentuk Raksa Bumi. Tugasnya mengelola hutan dan sumber daya alam desa, termasuk hutan rakyat.

Eker Karman sesepuh desa pun didaulat menjadi ketuanya. “Kita memelihara tanah dan memelihara mata air, mengetahui apa itu hutan. Jangan sampai hutan rusak untuk anak-cucu. Jadi saya tergugah dan jadi ketua kelompok.”

Warga akhirnya mulai mengubah kebiasaannya. Dari menebang menjadi menanam pohon di hutan dan hutan rakyat, serta melestarikan sumber air.

“Sama kakak-kakak saya, sudahlah jangan menebang hutan. Jangan merusak anak-cucu kita nanti. Masih mending kita bisa lihat Monyet, Owa. Kalau nanti anak cucu kita mau tahu, dilihatkan kemana? Pak seperti apa monyet itu pak? Kemana kita mau menunjukkannya. Paling kita ke Bandung, ke kebun binatang. Di hutan ini masih ada Surili Jawa (Presbytis comata), macan tutul, macan kumbang, kucing hutan dan juga kijang,” jelas Apep saat menyusuri hutan desa.

Meski belum semua warga desa patuh, peraturan desa yang dibuat mulai menampakkan hasil. Berkat upaya penanaman pohon dan pelestarian sumber air, warga mulai memanfaatkan potensi air yang ada dan diolah menjadi sumber energi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

KPK Serukan Penerapan Sertifikasi Sistem Manajemen Antisuap