Desa Mekarjaya dari Desa Pembalak ke Pelestari Lingkungan

Ironisnya kayu hasil tebangan tersebut dijual murah kepada warga yang akan membangun rumah. Penghasilan yang diraih Apep tak seberapa dibanding modal dan kerja kerasnya yang bisa menghabiskan waktu 3

SAGA

Selasa, 03 Sep 2013 17:45 WIB

Author

Irvan Imamsyah

Desa Mekarjaya dari Desa Pembalak ke Pelestari Lingkungan

desa mekarjaya, mikrohidro, cianjur, listrik, hutan

KBR68H - Sebagian warga Desa Mekarjaya, Cianjur Selatan sadar tak lagi menebang kayu di hutan. Peraturan desa tentang larangan penebangan pohon juga telah dibuat. Langkah ini salah satunya bertujuan menjaga sumber air dari pegunungan setempat. Potensi air yang berlimpah dimanfaatkan warga untuk mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Desa yang gelap-gulita kini terang-benderang. Berikut laporan pertamanya.
 

Suara serangga dan ayam berkokok, memecah pagi di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Saat itu, udara sejuk sudah bercampur hangat matahari pagi. Beberapa warga desa tampak menyusuri jalan setapak menuju kawasan persawahan. Sesekali suara motor meraung memecah sunyi desa yang terkurung kawasan hutan lindung Gunung Simpang.

Tapi hari itu, Apep tidak pergi ke sawah, seperti kebanyakan warga desa lainnya. Jadwal kerja Apep, hanya ke balai desa dan memeriksa saluran air yang bermuara pada instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di sisi timur desa. Apep merupakan salah seorang pengurus pembangkit Mikrohidro, bersama Sekretaris Desa Tarsa.

Sepanjang jalan menuju balai desa, Apep mengisahkan pengalamannya menebang pohon di hutan lindung Gunung Simpang. “Capeknya minta ampun pak. Malah padi juga tak terurus di sawah. Saat melihat polisi hutan, saya merasa jadi incaran. Kita kan yang bersalah, tadi tebang hutan. Tuh ada Polhut, jangan-jangan ke sini mau ke saya. Jadi kadang ngumpet. Dengar-dengar ada Kapolsek ke Mekarjaya, ngumpet, merasa ketakutan. Namanya orang bersalah, ya pasti takut,” tutur Apep mengisahkan ulang rasa takut yang tertinggal selepas menebang pohon beberapa tahun silam.

Desa Mekarjaya tempat Apep tinggal adalah satu dari lima desa yang berada di wilayah Timur dan Selatan hutan lindung Gunung Simpang. Lokasi desa persisnya di dekat  perbatasan Kabupaten Garut dan Bandung. Empat desa lainnya yakni Cibuluh, Puncak Baru, Neglasari dan Gelar Pawitan. Sebagian besar warga Mekarjaya dulu dikenal sebagai perambah dan pembalak hutan. Apep satu diantara warga yang pernah ikut menebang kayu. 

Tak kenal tua dan muda, semua warga desa punya pengalaman membalak kayu di hutan lindung. Kebetulan, Apep hanya empat bulan menekuni pekerjaan sebagai pembalak kayu hutan. Dulu saban bulan, Apep empat kali keluar masuk hutan. Selama tiga hingga empat malam di hutan, Apep bisa mengumpulkan tiga kubik kayu olahan siap pakai. Banyaknya kubik kayu yang ditebang dan diolah, cukup untuk membangun dua hingga tiga rumah.

Saat itu, Apep biasa menebang hutan bersama kakak dan warga lainnya. Tidak tanggung-tanggung, Apep menebang pohon khas hutan Jawa Barat yang dilindungi. Sebut saja pohon Ki Hujan (Angelhardia Spicata), Rasamala (Altingia excelsa Noronha), dan  Puspa (Schima Wallichii).

Ironisnya kayu hasil tebangan tersebut dijual murah ke warga yang akan membangun rumah. Penghasilan yang diraih Apep pun jadi tak seberapa, jika dibandingkan dengan  modal dan kerja kerasnya selama 3 – 4 hari di dalam hutan. Untuk setiap kubik kayu yang ditebang, kelompok penebang biasa mendapatkan Rp700 ribu. Harga yang sangat murah, untuk kayu berkualitas prima.

Dengan harga yang cuma segitu, setiap penebang hanya bisa kebagian uang Rp200 ribu – Rp100 ribu. Hasil yang dibawa ke rumah menjadi sedikit, karena ongkos menebang yang juga mahal. Seperti; untuk membeli solar yang digunakan untuk menghidupkan mesin gergaji (chainshaw), membeli beras, kopi dan lainnya.

“Kalau dulu satu kubik Rp 700 ribu, berarti 3 x 7 pak, tapi kadang-kadang modalnya bisa Rp 1 juta Pak. Modal ke hutan itu. Kadang perbekalan dikomplitin mau beli apa, beli apa, kadang mau ke hutan bawa ayam. Hahaha, motong ayam, bakar ayam,” canda Apep.

Ongkos menebang juga jadi semakin mahal jika aksi terlarangnya diketahui aparat polisi hutan (polhut). Kalau kepergok polisi hutan, Apep dan rekannya mesti menyiapkan uang suap. “Dulu sebetulnya kurang tegas pihak Polhut juga. Kadang minta duit ke warga. Misalnya ada yang nebang pohon di hutan, polhut ke hutan dan tangkap dia. Bilangin dia, kamu mau apa? Di sidang atau mau apa gitu. Kadang-kadang dimintai Polhut Rp1 juta. Dari mana kita mengembalikannya. Terpaksa dia nebang lagi,” tambah Apep.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18