Sanetan Desa Panutan Cegah Perkawinan Anak (Bagian 2)

Pelibatan aktif orang tua dan anak untuk cegah perkawinan anak

Salah satu agenda rutin Forum Anak Desa Sanetan, Rembang, Jawa Tengah. Kegiatan ini sempat vakum di masa pandemi. (Foto: dok Forum Anak).

Kamis, 25 Agustus 2022

KBR, Rembang - Siti Naomi bercerita tentang perkawinan anak yang berhasil digagalkan. Kala itu, perangkat Desa Sanetan, Kecamatan Sluke, Rembang, Jawa Tengah ini turun langsung untuk mengedukasi orang tua.

“Kalau saya biasanya sama ibunya. Pendekatannya kan beda-beda sasarannya, tapi tujuannya sama. Alhamdulillah ga jadi nikah. Ibunya akhirnya paham. Alasan dinikahkan karena ekonomi. Ibunya mikir kalau sudah menikah hidup si anak akan lebih enak,” kata Siti.

Keberhasilan ini tak lepas dari terbitnya peraturan Desa Sanetan tentang pencegahan perkawinan anak pada 2016.

Berbekal payung hukum, upaya cegah kawin anak pun makin solid.

Selain itu, keberadaan Forum Anak efektif sebagai penyalur aspirasi anak-anak muda Sanetan.

Perkawinan anak yang berhasil digagalkan tersebut, berawal dari aduan ke Forum Anak.

“Ika (anggota Forum Anak) ga mau dinikahkan. Usianya 16 atau 17 tahun, berarti masih di bawah umur. Ika ngomong sama temannya, terus temannya itu ngomong ke saya, terus saya ngomong ke pak Ketua KPAD (Kelompok Perlindungan Anak Desa), terus ke kepala desa dan RT. Terus pendekatan sama orang tuanya,” ungkap Siti.

Forum Anak Desa Sanetan dibentuk saat masa pendampingan Plan, organisasi sipil yang bergerak di isu perlindungan anak.

Baca juga: Sanetan Desa Panutan Cegah Perkawinan Anak (Bagian 1)

Siti Naomi mendampingi Forum Anak, sebagai wadah aspirasi anak dan edukasi cegah perkawinan anak. (Foto:KBR/Ninik).

Siti Naomi menjadi pendamping Forum Anak sejak awal sampai sekarang.

“Biar anak-anak punya satu organisasi yang jadi wadah mereka. Dengan adanya Forum Anak, alhamdulilah mau bicara, usul apapun, berani. Kita mengajari mereka untuk tampil di depan,” imbuhnya.

Perempuan 42 tahun ini ingat betul beratnya perjuangan mengajak anak-anak Sanetan aktif di Forum Anak.

Tak hanya harus mengambil hati si anak, tetapi juga orang tua. Dulu tak lebih dari 10 anak yang mau bergabung.

Namun, lambat laun usaha Siti berbuah hasil. Sudah empat generasi kepengurusan Forum Anak yang dibimbingnya.

“Orang tua sudah tahu manfaat ikut Forum Anak, untuk melatih anaknya menjadi pintar, baik dari segi pendidikan ataupun organisasi. Sekarang malah setiap kali kumpul yang datang bisa 40-50-an anak. Kalau dulu sering ada yang nggak datang,” tutur ibu dua anak ini.

Sikap orangtua pun ikut berubah. Makin banyak keluarga yang melek tentang bahaya perkawinan anak.

“Dulu (orang tua) mikirnya ketimbang terus menjadi beban keluarga, mendingan dinikahkan. Masalah selesai. Tapi sekarang mikirnya ‘kalau anak kecil sudah nikah, orang tua nanti susah, kalau disekolahkan, nanti kerja dan otomatis pintar’,” ungkap Siti.

Baca juga: Bahas Kawin Anak, KBR Luncurkan Serial Podcast "Disclose"

Ketua Forum Anak Desa Sanetan Rizki Hengki Prasetya (paling kiri) menyebut program Posyandu Remaja memberi edukasi cegah perkawinan anak, konseling, hingga kesehatan reproduksi. (Foto: dok FAD Sanetan)

Kini banyak generasi muda Sanetan yang mengejar pendidikan setinggi-tingginya. Aprilia Trimurti, contohnya.

Wakil Ketua Forum Anak Sanetan berusia 18 tahun ini sudah lulus SMA dan berencana kuliah. Orang tuanya mendukung penuh. Tak pernah terbersit di benak Aprilia untuk menikah di usia anak.

“Kasihan anak cewek, kalau disuruh hamil di usia dini. Harusnya dia masih masa-masa remaja, main-main kok disuruh nikah, terus punya anak. Kalau orangnya ga dewasa masih kekanak-kanakan kan kasihan anaknya kalau ditelantarkan. Terus perceraian banyak, rawan keguguran sama kematian, kan menakutkan,” kata Aprilia.

Wajah Sanetan yang makin progresif juga diakui Rizki Hengki Prasetya, Ketua Forum Anak Sanetan.

“Banyak sekali perubahannya, dari yang dulu itu banyak pernikahan usia anak, angka putus sekolah juga banyak. Waktu ada Forum Anak, sudah mulai menurun tingkat perkawinan anaknya, sama tingkat angka putus sekolah juga, turun drastis malahan,” ujar Rizki.

Keberhasilan Sanetan dengan perdes dan Forum Anak menjadikan mereka panutan desa-desa lain di Rembang.

Baca juga: Tepis Stigma Janda Dipandang Sebelah Mata

Kegiatan outbond Forum Anak Desa Sanetan sebelum pandemi. Anak didorong berorganisasi dan berpendidikan, sehingga perkawinan anak tak lagi jadi opsi. (Foto: dok FAD Sanetan).

Siti Naomi kian sibuk berbagi pengalaman. Dedikasi ini diuji saat Siti mengalami kecelakaan pada 2017. Kala itu, ia tengah dalam perjalanan ke acara Lembaga Perlindungan Anak Rembang (LPAR). Motor yang dikendarainya ditabrak mobil.

“Gigi lepas tiga, masih nempel, saya cabuti semua saya letakkan di tas. Setelah itu saya nggak hubungi keluarga, tapi hubungi LPAR, memberi tahu saya kecelakaan, ‘tolong kegiatan dilanjutkan ga usah nunggu saya, posisi di Puskesmas Lasem’. Itu patah empat titik, tangan dua, kaki sama tulang bawah mata,” Siti berkisah.

Selama 7 bulan penuh, Siti hanya tergolek di tempat tidur. Butuh tak kurang dari 1,5 tahun baginya untuk bisa beraktivitas lagi, meski terbatas.

“Secara psikologis down banget, berusaha untuk menerima kenyataan. Jujur, ingin teriak. Sudah biasa ke sana ke mari, bagi-bagi ilmu, tukar pengalaman, akhirnya harus berhenti total, kan sangat menyiksa,” tutur dia.

Insiden ini tak menyurutkan sejengkalpun semangat Siti untuk tetap mendampingi Forum Anak.

“Kalau ada apa-apa anak-anak ke rumah, yang tadinya ngumpul di sini saya minta datang ke rumah. Tapi kalau memang anak-anak ingin ke balai desa, okelah saya dijemput pakai kursi roda,” ujar Siti.

Demikian pula dengan semangat Siti untuk menularkan virus progresif Sanetan ke desa-desa lain.

“Kalau kendor, enggak. Teman-teman biasanya lewat telepon kalau mau sharing, tetap jalan kita. Kalau ada yang mau konsultasi soal perdes, perlindungan anak, saya selalu open. Tidak mengenal waktu, jam berapa pun saya siap,” tegas Siti.