Adaptasi Warga Timbulsloko yang Menolak 'Tenggelam'

Warga desa pesisir mencari cara bertahan di kepungan banjir rob

Menolak tenggelam, upacara bendera memperingati HUT RI Ke-77 dilakukan di atas air oleh warga Timbulsloko. (dok: Valda/KBR)

Selasa, 30 Agustus 2022

KBR, Demak - Air terhampar luas sejauh mata memandang, begitu memasuki wilayah Dukuh Timbulsloko. Wilayah pesisir Demak, Jawa Tengah ini dulunya adalah area persawahan. Timbulsloko bersama tiga dukuh lain yaitu Bogorame, Wonorejo, dan Karanggeneng menjadi wilayah dengan dampak banjir rob terparah.

Salah satu warga, Suryadi mengenang kala Timbulsloko pernah subur, ditumbuhi berbagai tanaman seperti  kelapa, mangga, dan pepaya. 

“Saya udah menikmati hidup di sini, dulu itu gemah ripah lohjinawi, tahun 1996 sini masih ada padi,” ujar Suryadi yang lahir di Timbulsloko. 

Kata dia, sejak 2010 air laut mulai menggenangi permukiman akibat pengikisan tanah di pesisir atau abrasi.

Adaptasi pun dilakukan dengan meninggikan rumah layaknya rumah panggung.

“Saya setuju renovasi rumah. Makanya kampung sini kalau (warga) keluar semua kan (rumah) ga ada yang rawat. Ke depannya nanti gimana? kan hancur to?” ucap Suryadi

Baca juga: Warga Indramayu Pantang Surut Tolak PLTU Batubara

Rumah warga timbulsloko dibuat menjadi rumah panggung semenjak banjir rob mengepung desa ini. (Dok: Valda/KBR)

Jembatan penghubung antarrumah juga dibangun untuk mempermudah aktivitas warga.

“Jalan ini pemerintah ga ikut campur, ini swadaya masyarakat,” katanya.

Di Timbulsloko rob datang tiap pagi dan sore, mengganggu aktivitas warga. Saat air setinggi 1,5 meter, warga terpaksa menggunakan sampan untuk mobilitas. Sekali jalan bisa menghabiskan biaya Rp12 ribu untuk jasa perahu dan penitipan sepeda.

Pengeluaran Suryadi langsung membengkak, sementara penghasilan sebagai kuli bangunan tak seberapa.

“Warga sini mengharapkan jalan. Kalau memang ga bisa jalan beton, jembatan depan itu layak buat sepeda, bisa bawa pulang, ga menelan biaya banyak," tutur dia. 

Lelaki 45 tahun ini memilih banting setir menjadi nelayan tambak. Mulai dari kepiting hingga ikan ia jual ke pasar demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Per hari kadang dapat Rp300-500 ribu makanya saya bisa menyekolahkan anak. Sekarang 3 hari sekali ke pasar Rp300-400 ribu,” katanya.

Baca juga: Kapal Arka Kinari, Keliling Dunia Wanti-Wanti Krisis Iklim

Lahir dan besar di Timbulsloko, Suryadi pernah merasakan keadaan desa saat masih dikelilingi area persawahan. (Dok: Valda/KBR)

Pindah dari Timbulsloko jadi pilihan terakhir bagi Suryadi dan 70 keluarga lain. Ia tak punya rumah selain yang ditempatinya sekarang. Sementara, tidak ada program relokasi yang jelas dari pemerintah.

“Meninggalkan tempat kelahiran sebenarnya berat. Terkecuali satu dukuh ini penempatannya langsung, jadi satu, itu bisa. Dapat bantuan Rp50 (juta) kalau yang mampu, enak, yang ga punya ga bisa ngerjain sendiri, kan susah. Efeknya tetap kembali ke kita,” ujar Suryadi.

Di tengah banjir rob, seratusan warga Timbulsloko bersemangat mengikuti upacara bendera pada 17 Agustus 2022 lalu.

Ini adalah tahun kedua Timbulsloko menggelar upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Kegiatan itu diinisiasi anak-anak muda setempat. Para petugasnya adalah anak-anak yang pernah punya pengalaman upacara di sekolah.

“Persiapan waktunya mepet, kira-kira pemuda latihannya sekitar 2 harianlah,” ujar Ketua Karang Taruna Timbulsloko Bowo Prasetio alias Roni.

Baca juga: Aksi Bela Rasa ala Milenial

Ketua Karang Taruna Timbulsloko Roni membacakan proklamasi warga, isinya keinginan warga hidup damai dan sejahtera. (Dok: Valda/KBR)

Pembacaan proklamasi menjadi bagian yang paling unik. Teks itu dibacakan Roni, yang berisi keinginan warga Timbulsloko untuk hidup tenang, damai dan merdeka dari kepungan banjir rob.

Bagi Roni upacara ini penting untuk membangkitkan semangat kemerdekaan di tengah keterbatasan.

“Kita ingin mengadakan upacara, cuma melaksanakannya di jalan yang tenggelam air,” ucapnya.