Silek Lanyah, Menggali Tradisi Mengundang Wisatawan

"Kalau untuk penolakan emang ada dari beberapa pihak. Ada yang bilang potong kuping saya kalau jadi desa wisata"

Atraksi Silek Lanyah yang berlangsung di Keluruhan Ekor Luwuk, Kota Padang Panjang, Sumatra Barat. (Foto: KBR)

Selasa, 20 Agustus 2019

Keluruhan Ekor Luwuk, Kota Padang Panjang, Sumatra Barat tak punya keindahan alam yang bisa dijual. Kondisi itu tak menyurutkan Yuliza Zen untuk memajukan daerahnya melalui wisata. Caranya, dengan menghidupkan tradisi seperti silek  lanyah.  

- Menggali Tradisi Mengundang Wisatawan
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Padang Panjang- Siang itu, dari kerumunan orang di pinggir sepetak sawah, tiba-tiba seorang lelaki berlari kencang. Arah larinya tertuju pada seseorang di tengah sawah yang tengah memperagakan gerakan silat.

Perkelahian pun terjadi. Saling pukul tendang, sampai saling banting.Lumpur terpercik kemana-mana. Anehnya, tak ada satupun dari kerumunan orang  yang berusaha memisahkan duel maut yang juga menggunakan senjata tajam itu.

Itu bukan perkelahian sungguhan. Perang tanding itu adalah peragaan silek lanyah atau silat lumpur yang menjadi atraksi unggulan di desa wisata Kubu Gadang, Kota Padang Panjang, Sumatra Barat.

Suasana semakin semarak saat musik mengiringi aksi ini. Orang di belakang peragaan itu adalah Yuliza Zen. Alumni IAIN Batusangkar berusia 26 tahun itu tertantang mengembangkan kampung halamannya menjadi daerah wisata. Tidak mudah buat Lisa meyakinkan para ninik mamak atau tokoh adat untuk menerima desa wisata.

Karena keinginan yang kuat dari kita bersama khususnya waktu itu anak-anak muda yang mau mengembangkan kampungnya. Akhirnya kita nekat coba ke niniak mamak ke Bundo Kanduang dan mengumpulkan semua elemen masyarakat coba mempresentasikan. Walaupun tidak langsung deal jadi desa wisata karena image pariwisata saat itu akan ada hal-hal negatif,” kata Lisa.

Tak hanya keraguan, cemoohan pun bertubi menimpanya. Butuh waktu berbulan bagi Lisa untuk meyakinkan ninik mamak atau tokoh warga untuk mau mendukung niatnya.

Awalnya semua meragukan. Masa beneran ini mau dijadikan wisata. Karena kita itu cuma punya begini. Karena mereka tahunya pariwisata itu kayak Danau Maninjau ada danau segala macam itu. Kita cuman ada ini. Kalau untuk penolakan emang ada dari beberapa pihak. Ada yang bilang potong kuping saya kalau jadi desa wisata,” ujarnya.

Amri, salah satu ninik mamak yang bergelar Sultan Maulano Rajo mengungkapkan alasannya. Ia khawatir wisata akan berdampak buruk bagi adat istiadat yang sudah dijaga turun temurun.Kata Amri, ia kemudian menggelar musyawarah untuk menyepakati syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh Lisa sebelum menjadikan Kubu Gadang sebagai Desa Wisata.

Berembuklah kami yang tua-tua. Apa syarat desa wisata? Pakaian bagaimana? Apa sesuai adat istiadat. Jadi kami ragu  kami tua-tua. Seandainya datang orang dari luar negeri kan sering pakai celana pendek,” Amri.

Lisa kemudian menggali dan menelusuri berbagai potensi lokal dengan akar tradisi, seperti makanan tradisional dansilek lanyah.

Jadi karena waktu itu sedang booming pacu jawi  dengan cipratan lumpurnya. Kita coba itu silat ini bisa nggak ya di tempat yang lumpur juga? Jadi kita telusuri cerita-cerita leluhur rupanya mereka mengatakan bahwasanya dulunya ketika panen padi mereka juga ada ada silatnya di lumpur. Jadi kenapa kita nggak angkat cerita itu. Jadi silat lumpur ini salah satu ujian bisa tidak mereka bersilat,” kenang Lisa..

Sejak itu Desa Wisata Kubu Gadang semakin kondang. Pengunjungnya tak hanya wisatawan dari Sumbar, tapi juga dari provinsi lain dan manca negara. Salah satunya dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Juru bicara KPK, Yayuk Andriati mengatakan, tradisi itulah yang jadi alasan memilih Desa Wisata Kubu Gadang sebagai tempat berkegiatan pelatihan jurnalisme warga. Sebanyak 30 warga dari berbagai daerah di Sumbar selama tiga hari berlatih melakukan reportase dibimbing  jurnalis  dari radio, televisi dan cetak.

Ini maksudnya memang untuk menggali lagi kearifan lokal yang ada di desa ini. Jadi desa ini cukup inovatif. Kami lihat ini bisa menjadi inspirasi untuk daerah-daerah lain dan mengumpulkan teman-teman jurnalis warga untuk lebih bisa mengeksplor daerah ini. Dan melalui produk-produk jurnalistiknya bisa lebih mempromosikan daerah ini dan juga yang lebih penting lagi sebenarnya kami punya kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai anti korupsi,” kata Yayuk. 

“Berembuklah kami yang tua-tua. Apa syarat desa wisata? Pakaian bagaimana? Apa sesuai adat istiadat. Jadi kami ragu,” Amri.

- Amri - Ninik Mamak

Setiap bulan desa wisata hasil inisiatif warga itu dikunjungi rata-rata 500 wisatawan. Kunjungan makin tinggi saat musim libur tiba. Banyaknya pengunjung membuatWirajaya Septika Lurah Ekor Lubuk perlu menyiapkan anggaran khusus untuk membantu pengembangan desa.

Kalau untuk kelurahan itu dukungannya Insyaallah ya tahun besok kita akan menganggarkan rehabilitasi untuk Balai desanya Kubu Gadang ini. Ada juga berupa pemberdayaan masyarakat seperti pelatihan seni lainnya nantinya untuk  di tempat ini,” kata Wirajaya.

Yuliza Zen telah mengembangkan desa wisata ini sejak ia berusia 21 tahun. Ia berharap kehadiran desa wisata ini membuat generasi mudanya tak lagi merantau tapi mau mengembangkan kampung halaman sendiri.

Kalau bagi saya yang  paling penting itu regenerasi. Karena meyakinkan mereka bahwasanya di kampung mereka itu ada suatu berlian nantinya bisa jadi mata pencaharian mereka. Sehingga tidak perlu lagi ke Jakarta keluar untuk mengembangkan potensi mereka. Karena kalau belum bisa memperlihatkan dampaknya, mereka akhirnya harus merantau juga,” ungkapnya.