Merawat Kerukunan dengan SADAP

Komunitas Satu dalam Perbedaan (SADAP) berupaya merawat kerukunan warga di Pontianak

Komunitas Satu Dalam Perbedaan, Kalimantan Barat. (Foto: Taufik/KBR)

Kamis, 15 Agustus 2019

Pulau Kalimantan punya catatan pahit konflik antara suku Dayak dan Madura. Bermula dari Sampit, Kalimantan Tengah, konflik meluas hingga ke wilayah-wilayah di sekitarnya, termasuk Pontianak, Kalimantan Barat. Komunitas Satu dalam Perbedaan (SADAP)berupaya merawat kerukunan warga di Pontianak.  

- Merawat Kerukunan dengan SADAP
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Pura Giri Mulawarman yang berdampingan dengan Masjid Al Amien, Pontianak, Kalimantan Barat. (Foto: Taufik/KBR)

KBR, Pontianak- Isa Oktaviani, remaja berusia 23 tahun ini lahir dan besar di Pontianak, Kalimantan Barat, Suku Dayak dan beragama Kristen. Isa lahir dan tumbuh di lingkungan yang homogen.

Isa bergaul dan berinteraksi layaknya orang kebanyakan. Apalagi ia tumbuh di lingkungan dengan mayoritas orang dayak dan kristen.

Kalau dulu SMA, saya nggak mengerti. Ada sih teman saya Islam dan beda suku, tapi kita tidak ada konflik. Saya berpikirnya sama saja. Dan mayoritas kami di lingkungan itu Dayak dan Kristen. Islam hanya dihitung jari, dan tidak pernah ada konflik,” kata Isa memulai kisahnya.

Tapi isa juga tumbuh dengan doktrin yang melekat hingga ia dewasa. Tentang konflik antara Suku Dayak dan Madura yang terus diulang-ulang. Banyak hal yang Isa dengar tentang Suku Madura dari kacamata Suku Dayak. Begitupun sebaliknya.

Bangku kuliah membuka mata Isa. Di kampus Universitas Tanjungpura pada 2014 silam, ia mulai bertemu orang dari suku dan agama yang berbeda. Termasuk bertemu orang Madura.

Misalnya kayak aku suku Dayak. Karena Dayak pernah punya konflik dengan Madura, orang tua dulu bilang, Madura itu pembunuh, dan sebagainya. Sama juga pas saya berdiskusi dengan teman saya yang Madura, dia mendapat doktrin dari orang tuanya bahwa, 'Oh Dayak itu begini', yang tidak baik,” bebernya.



Kasus penistaan agama yang menjerat Gubernur Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membuat Isa semakin waspada. Ia tak ingin ada lagi konflik karena perbedaan agama dan suku terjadi di tanah kelahirannya. Sejak itulah Isa membentuk komunitas Satu Dalam Perbedaan (SADAP).

Bagaimana kita bisa merawat keberagaman yang mulai memudar. Contohnya saja di kehidupan sehari-hari, dulu punya teman berbeda agama, tapi sekarang mulai ada sekat-sekatan,” ujarnya.  

“Bagaimana kita bisa merawat keberagaman yang mulai memudar. Contohnya saja di kehidupan sehari-hari, dulu punya teman berbeda agama, tapi sekarang mulai ada sekat-sekatan,”

- Isa Oktaviani

SADAP bergerak di platform digital. Lewat media sosial, website serta situs berbagi video Isa dan kawan-kawannya mengkampanyekan soal toleransi dan keberagaman.

Sebulan sekali Isa dan teman-temannya berkumpul untuk merumuskan konten yang akan dibuat. Ada yang terinspirasi kehidupan nyata, memuat nilai keberagaman. Tulisan dan video yang mereka hasilkan kemudian dipublikasikan di laman media sosial mulai Youtube hingga Instagram.

Adi Rahmat, 22 tahun, adalah mahasiswa semester akhir di Universitas Tanjungpura. Kisah yang ia tulis pernah dimuat oleh SADAP di media mereka.

Ceritanya tentang seorang Muslim dan Hindu di pinggiran Kota Pontianak. Adi menampilkan kisah apik tentang kerukunan umat muslim dan hindu dari rumah ibadah mereka yang hanya terpisah tembok tipis.

Itu kan iklim yang menarik ya. Soal dua agama tapi bisa hidup berdampingan. Harapannya, sekarang nilai itu, yang ada di sana, bisa menjadi tolok ukur di Indonesia, bahwa masih banyak hal yang menarik, dan kedamaian jadi hal menarik kalau memang itu dijadikan yang terlihat,” kata Adi

Akhir 2018 lalu, SADAP membuat acara Temu Pemuda Linstas Islam (Tepelima).

Mereka mengumpulkan belasan anak muda dari beragam suku dan agama, untuk melakukan kegiatan Bersama-sama. Termasuk mengunjungi semua jenis rumah ibadah di Pontianak.

Saya bisa menemukan orang-orang yang dulunya punya prasangka yang luar biasa terhadap beda suku, beda agama. Tapi setelah ikut Temu Pemuda Lintas Iman, dia sudah bisa berteman, bahkan menjadi keluarga dengan yang dulu diprasangkai. Itu membuat saya, ya ampun, senang banget. Itu yang bagi saya luar biasa,” katanya. 

Umi Tartilawati, 22 tahun, termasuk yang tercerahkan. Dulu Umi punya anggapan bahwa bergaul dengan orang yang tak seiman dengannya adalah hal yang dilarang. Sampai ia bertemu dan bergabung dengan SADAP.

"Untuk di lingkungan kecil, Alhamdulillah saya sudah merasa sadar. Dulunya saya pikir berteman dengan orang yang bukan dari suku dan agama saya, itu hal yang haram. Tapi ternyata saya pelajari lagi, hal itu tidak benar. Bagaimana kita mengubah mindset kita," kata Umi.

Bagi Isa, kegiatan-kegiatan SADAP penting untuk menciptakan pertemuan antar kelompok.

Supaya makin banyak anak muda yang merasakan pengalaman bersaudara dengan teman yang berbeda suku dan agama.

Memang generasi muda inilah yang akan buat konflik-konflik memudar. Karena kalau bukan anak muda, siapa lagi sih yang bisa diharapkan? Jadi kita ingin mengubah doktin lama, membuat hal-hal positif, menyebarkan hal-hal baik, baik di media sosial, maupun di kehidupan sehari-hari,” kata Isa.