Komunitas Anak Muda Lestarikan Budaya Batak

Perubahan dunia yang serba cepat mengancam keberadaan budaya lokal. Di Sumatera Utara, ada Ishak Aprianto Aritonang yang giat menghidupkan budaya dan tradisi Batak

Ishak Aprianto Aritonang saat ditemui KBR di Rumah Karya Indonesia. (Foto: KBR)

Jumat, 16 Agustus 2019

Perubahan dunia yang serba cepat mengancam keberadaan budaya lokal. Di Sumatera Utara, ada Ishak Aprianto Aritonang yang giat menghidupkan budaya dan tradisi Batak, dari manortor hingga ulos. Jurnalis KBR Ninik Yuniati mengikuti perjalanan pemuda asal Tapanuli Utara itu.  

- Komunitas Anak Muda Lestarikan Budaya Batak
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Samosir-Ribuan tenda kemah warna warni memadati pesisir Pantai Indah Situngkir, Samosir, Sumatera Utara. Di tepian Danau Toba itu hadir ratusan komunitas anak muda Batak dari berbagai wilayah. Inilah Festival Film Danau Toba yang mengangkat tema seputar kearifan lokal dan budaya Batak.

Penggagas festival ini adalah Rumah Karya Indonesia, RKI. Ishak Aprianto Aritonang dari RKI mengatakan, festival sudah berlangsung sejak 2013 silam

Ishak bercerita, festival ini digelar dengan tujuan melestarikan adat dan tradisi masyarakat Sumatera Utara. Tak hanya itu, festival ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan kepedulian terhadap kerusakan Danau Toba akibat masifnya pengembangan wisata di sana.

Kalau nggak ada yang mengawal ini kan semuanya bisa hancur. Kerusakan lingkungan, sekarang kita lihat kan airnya nggak seperti dulu lagi. Dulu orang mau minum bisa langsung diminum dari air itu. Sekarang mau mandi saja harus dimasak dulu biar mati kuman-kumannya. Makanya kita mau ke situ, lebih mengarah ke menjaga danau Tobanya,” kata Ishak.

Ishak bergabung dengan Rumah Karya Indonesia sejak masih berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Ia mengaku jatuh hati pada budaya lokal.

Di kampung halamannya, Tapanuli Utara, ia ikut membangun Forum Anak Muara yang fokus mengenalkan budaya lokal sejak dini. Ia mengaku prihatin karena banyak anak-anak yang tak lagi kenal dengan budaya asalnya.

Jadi tujuan saya bergabung RKI juga karena keprihatinan juga ya. Contohnya manortor, bernyanyi, tapi prihatinnya kita nggak ada wadah untuk itu. Jadi saya bergabung di sini, tujuannya bagaimana anak-anak di kampung saya, bisa tampil di panggung. Jadi anak-anak itu kami bawa dari kampung, sampai di sini kami berikan wadah bagi mereka untuk mengekspresikan apa bakat-bakat mereka,” katanya.

Di sela festival di Danau Toba, Ishak mengunjungi kelompok penenun ulos di desa terdekat. Melihat para penenun ulos, Ishak mengungkapkan keprihatinannya. Menurutnya, saat ini banyak generasi muda yang bisa membuat ulos. Perajin kain selendang khas Batak itu hanya tersisa dari kalangan lanjut usia.

Jadi itulah yang mau kita angkat bagaimana supaya anak-anak ini mau melestarikan budayanya. Karena kalau kita lihat di sekitar Danau Toba yang menenun ulos itu rata-rata umurnya sudah 50 ke atas, jadi tidak ada lagi regenerasi,” kata Ishak.

Namun kepindahan Ishak ke Medan membuatnya tak bisa terus menerus mendampingi penenun ulos. Ia berjanji akan melanjutkannya kembali karena ulos punya makna yang sangat penting bagi masyarakat Batak.

Kalau ulos itu adalah sebagai lambang doa untuk kita. Jadi sebelum kita lahir kita juga itu sudah diberikan ulos, sampai kita meninggal. Contohnya waktu ibu kita mengandung pasti mamaknya ibu kita, atau tulang kita, saudaranya, pasti memberikan ulos sebagai bentuk doa agar anaknya itu nanti terlahir sehat, baru setelah lahir panjang umur, mereka sehat satu keluarga,” katanya.

Rumah Karya Indonesia jadi wadah bagi anak-anak muda Sumatera Utara, seperti Ishak, yang punya cita-cita mulia melestarikan kebudayaan tradisional.

Ketua sekaligus pendiri RKI, Marojahan Manalu mengatakan, wadah ini bisa digunakan oleh siapapun untuk mempelajari berbagai kebudayaan lokal. Disini para pemuda juga bisa saling bertukar ilmu dan infromasi soal budaya dan tradisi.

Jadi stimulus ya. Tukar knowledge nilai-nilai itu keilmuannya. Aku juga belajar sama Ishak, aku sendiri belajar dengan Ishak tentang kebudayaan tradisi itu yang aku tidak paham. Ya aku tinggal di kota, aku belajar dengan dia bagaimana tentang ulos, tentang adat. Pokoknya belajar dengan dia. Sebenarnya komunitas kami itu lebih banyak saling belajar, saling berbagi. Apa yang kutahu, yang aku tak tahu dia, aku akan belajar dengan dia.

Bagi Ishak, pengetahuan yang sedang ditimbanya di tanah rantau akan memperkaya pelestarian budaya di kampung halamannya.

Bagaimana kita meyalurkan ilmu yang sudah kita dapat di perantauan kita salurkan ke kawan-kawan kita yang di kampung. Karena sekarang kan contohnya kawan-kawan saya, saya ajak mengadakan kegiatan, lebih banyak yang cuek, mereka bilang tunggu berhasil lah baru kita lakukan itu. Bagaimana menyalurkan ilmu yang kita ketahui itu untuk membangun sumber daya manusia yang ada di kampung,” ujarnya.