Share This

Miskin di Provinsi dengan Angka Stunting Tertinggi

Dari 9 juta kasus stunting di Indonesia, terbanyak ada di Nusa Tenggara Timur. NTT juga jadi provinsi langganan tiga besar termiskin.

SAGA

Kamis, 09 Agus 2018 14:23 WIB

Author

KBR

Risiko anak mengalami stunting saat kukurangan gizi (Foto: KBR)

Risiko anak mengalami stunting saat kukurangan gizi (Foto: KBR)

Stunting adalah persoalan besar bagi dunia modern saat ini dengan 155 juta bayi di seluruh dunia yang mengalami stunting. Begitu pula di Indonesia; yang berada di posisi keempat dunia dengan jumlah kasus stunting terbanyak di dunia. Ini jelas mengancam rencana pemerintah mencetak Generasi Emas 2045, persis ketika Indonesia berusia 100 tahun. Dari 9 juta kasus stunting di Indonesia, terbanyak ada di Nusa Tenggara Timur. NTT juga jadi provinsi langganan tiga besar termiskin.

 Salah satu potret keluarga dengan anak stunting adalah Keluarga Bentura yang tinggal di Kecamatan Trus, Kabupaten Kupang, NTT.

Keluarga Bentura ini memiliki 4 anak yang semuanya adalah langganan keluar masuk Puskemas. Ada saja penyakit yang mereka alami; batuk, pilek, demam. Mereka bisa 2-4 kali ke Puskesmas dalam sebulan

Dua anak tengah mereka adalah kembar berusia 5 tahun, namanya Laoma dan Tobias. Meski umurnya sama dan anak kembar, tinggi dan berat badan mereka jauh berbeda.

Ayah mereka, Moses Bonaventura mengatakan, Laoma lebih kecil dibandingkan Tobias. “Yang paling sering turun ini berat badannya Laoma. Dia sampai sekarang sudah mau 5 tahun, berat badannya baru 8 kilogram, tingginya 71 sentimeter. Adiknya 93 sentimeter, beratnya 14 kilogram,” kata dia ketika ditemui di rumahnya di Kecamatan Tarus.

Mengacu pada Kartu Menuju Sehat (KMS), anak laki-laki usia 5 tahun seharusnya memiliki berat badan antara 13 sampai 24 kilogram, dengan tinggi badan minimal 100 centimenter.  Tobias sempat divonis stunting oleh Puskesmas setempat, tapi gizi lantas diperbaiki -- sekarang ia dianggap ‘hanya’ kurang gizi. Sementara Laoma tak bisa mengejar ketertinggalan gizi dan kini divonis stunting oleh Puskesmas di Tarus, Kabupaten Kupang, NTT, tempat mereka tinggal.

Stunting adalah masalah gizi kronis karena kurangnya asupan gizi sejak bayi dalam kandungan. Akibat stunting, anak bertubuh pendek, berat badan tidak normal dan memiliki kecerdasan yang rendah. Dari 9 juta kasus stunting di Indonesia, terbanyak ada di Nusa Tenggara Timur.

Yance Yeni Mooy, sang ibu, mengaku sering ditegur petugas Puskesmas. Ia diminta lebih memperhatikan perkembangan anak mereka.
 
“Kalau timbang itu, saya sering lupa berat badannya. Jadi mereka (petugas posyandu) sering bantu saya untuk tulis di buku supaya saya tahu,” kata Yeni Mooy.

Kecamatan Tarus  di Kabupaten Kupang, NTT, adalah wilayah yang cukup subur. Sayang, keluarga ini tak punya tanah garapan. Hidup Keluarga Bentura ini paspasan. Mereka tinggal di sebuah rumah berukuran 8x7 meter. Lantainya dari semen, berdinding bata dengan cat kuning. Di dalamnya, ada satu kamar tidur, juga satu dipan di depan menempel dengan warung kecil milik si nenek.

Moses, si ayah, bekerja sebagai buruh serabutan, juga menggarap tanah orang. Dari situ mereka mendapat jatah 3-4 kilogram beras per bulan untuk makan sehari-hari. Sementara si ibu, Yeni, yang tak pernah sekolah, kini sehari-hari membantu mengikat kangkung milik tetangga.
Penghasilan keluarga ini hanya 200 ribu sebulan. 

“Biasanya 20 ribu untuk belanja, 10 ribu ya kita beli sayur. Ada cuma sayur putih, sayur bayam, telur. Ada ikan juga.”

Baca juga kisah keluarga pemulung di Jakarta yang memiliki anak stunting di sini.

Tapi petugas Puskemas Tarus, Marilyn Imelda, sering melihat mereka hanya makan nasi putih dengan mi instan.

“Kenyataannya sering saya lihat mereka lebih doyan makan supermie kayak jajan-jajan,” kata Imelda gemas. “Pernah waktu ke sini orang tuanya, anaknya, pegang jajan ciki-ciki. Ibunya bawa nasi di kotak, hanya nasi putih. Jadi bagaimana dia mau dapat gizi vitamin dari makanan itu?”

Imelda berulang kali menegur Moses dan Yeni karena khawatir dengan tumbuh kembang anak-anak di keluarga ini.

Apalagi, Moses adalah seorang perokok. Ia merokok sejak usia 18 tahun. Rokok kesukaannya, merk 153, harganya 11 ribu rupiah per bungkus. Ia mengaku hanya merokok 1-2 batang per hari.

“Merokok juga kalau didapat ya kita isap. Kalau tidak, ya tidak. Paling banyak itu satu hari dua batang, tiga batang.”

Tapi siang itu, di dekat tempat tidur di kamarnya, masih ada satu bungkus rokok tergeletak.

Sebagai petugas Puskemas, Imelda curiga, pendapatan keluarga habis untuk beli rokok.

“Katanya satu hari dia bisa habis tiga bungkus. Jadi pengeluaran kan mungkin lebih fokus ke rokoknya. Mau makan apa di rumah, yang penting dia merokok toh.”

Survei Kehidupan Keluarga Indonesia tahun 2018 menyebut, keluarga dengan penghasilan kurang dari 2,9 juta rupiah justru mengkonsumsi rokok lebih banyak ketimbang keluarga dengan penghasilan di atasnya.  Dan hampir 45 persen uang belanja dipakai untuk beli rokok. Persis keluarga Moses dan Yeni, dengan anak kembar mereka yang stunting dan gizi buruk. 

Peneliti Kesehatan Masyarakat dari Universitas Nusa Cendana Intje Paulay mengatakan di NTT setidaknya 10 persen keluarga mengkonsumsi rokok secara rutin. Keluarga dengan perokok bisa berdampak pada tumbuh kembang si anak.

“Kalau kita tadi bilang penyakit ISPA atau TB paru itu penyakit menular. Dia butuh energi penyembuhan cukup tinggi. Makanan yang diberikan sudah terbatas, itu dipakai habis untuk penyembuhan. Kalau pemulihan, dua kali lebih sehat. Kalau anak-anak terpapar penyakit ini dan asupan makanan terbatas, maka sangat cepat terbentuk individu baru yang terkurung ancaman stunting.”

Di dalam keluarga, Yeni mengaku tak pernah melarang suaminya merokok. Padahal, kata Intje, perempuan mestinya bisa lebih tegas mengatur uang belanja; supaya tak dibakar untuk beli rokok. Tapi budaya patriarki masih mengakar di sini, kata Intje.

“Jangankan melarang. Mengatakan “Tolong dong merokok di luar saja”, itu juga sangat tidak bisa. Ada perdebatan-perdebatan kecil sampai akhirnya bilang susah dibilangi. Mereka selalu anggap acuh tak acuh.”
 
Intje setuju kalau harga rokok mesti naik supaya keluarga miskin seperti Moses dan Yeni tak bisa lagi membelinya.

“Yang merokok hanya yang menengah ke atas,” kata Intje tegas. “Memang kita kayaknya naif juga bahwa menaikkan harga rokok orang menengah ke bawah (tak mampu). Tetapi kita kan belum coba. Kalau pemerintah mau coba, kita bisa lihat sama-sama. Kalau harga naik, semua orang dari ekonomi rendah, sedang, tinggi dia akan berpikir dua kali.” 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.