Sanksi Tegas Ormas Pemeras (2)

DS sadar ia coba diperas. Baginya tak masalah keluarkan uang terkait proyek yang tengah ia kerjakan, asal aturannya jelas.

SAGA

Selasa, 06 Agus 2013 11:14 WIB

Author

Indra Nasution

Sanksi Tegas Ormas Pemeras (2)

Ormas, laskar betawi, UU Ormas, LIPI, Pamulang

Uang Keamanan

Saat itu  anggota ormas  dari Laskar Banten yang biasa dipanggil “Bang Ao” meminta uang senilai Rp 30 juta.   “Kemudian saya ketemu dengan tuan rumahnya, sebelumnya ada cluster juga yang sudah jadi, waktu cluster sebelah gimana izinya dengan warga sekitar, dia jawab mereka bayar ke kita, ada dua jenis, uang lingkungan dan uang keamanan, uang lingkungan artinya penduduk sekitar sudah memberi izin, berupa tanda tangan lingkungan, yang kedua uang keamanan kalau ada material masuk tidak diganggu gugat, saya tanya waktu itu bayarnya berapa bang, waktu itu sih 30 (juta rupiah red), saya sempat bingung itu uang apa, kok tanda tangan 30 itu kan tanah sendiri,  lokasi kan lewat  jalan perumahan bukan jalan kampung, saya tidak mengiyakan,” tuturnya.

DS terus didesak oleh Ao untuk segera serahkan uang.“Sepertinya dia mendesak kapan ditransfer, saya bilang saya belum bisa jawab masih dibahas di internal kalau ada keputusan nanti saya kabari, saat itu kita masih tahan karena lagi cari jalan tengah supaya bisa berjalan tetapi tidak sebesar itu, kalau harus jalan hukum saya tidak apa-apa juga karena tidak ada aturannya,” ungkapnya.

Singkat cerita DS kembali mendatangi posko ormas Laskar Banten. “Pertemuan keduanya saya coba nego, bukan berkurang malah bertambah, dia malah bilang begini, bos itu belum uang bulanan, nanti kita akan pasang 3 orang pagi siang malam, itu digaji lagi ya 5 juta sesuai UMR, setelah itu saya pending,” jelasnya.

DS sadar  ia  coba diperas. Baginya tak masalah  keluarkan uang terkait proyek yang tengah ia kerjakan, asal aturannya jelas.  “Bagi saya kalau sesuai aturan tidak masalah, memang harus seperti itu, yang kedua sebagai masyarakat saya suka jengkel bagi pengembang yang sembarang jika membangun tetapi bagi masyarakat jangan mempersulit bagi pengembang yang ingin membangun, jangan membuat aturan yang mengada-mengada,” kata dia.

KBR68H mencoba meminta tanggapan Ao, yang disebut-sebut anggota ormas Laskar Banten. Markas  ormas ini bersebelahan dengan areal  tanah milik DS. Di sebelah tanah tersebut ada sekitar 7 rumah berdiri berhadap-hadapan, salah satunya milik Ao. Begitu masuk ke areal rumahnya nampak sebuah plang bertuliskan Partai Karya Republik. Sementara di teras rumahnya berjajar bendera dan tokoh  ormas. Mulai dari FBR,  Pemuda Pancasila Forkabi dan Laskar Banten.

Saat   disambangi  Ao tak ada di rumahnya. KBR68H sempat datangi rumahnya sebanyak tiga kali. Namun batang hidungnya tak nampak.

Orang yang menyapa KBR68H tadi adalah penduduk setempat yang tinggal bersebelahan dengan posko tersebut. Menurutnya belakangan, anggota ormas jarang berkumpul di sana. Saat ditelusuri tak banyak diketahui profil ormas Laskar Banten.

Gebrakan yang pernah dilakukan ormas kedaerahan ini tercatat pada Juni 2013.  Bersama ormas Front Pembela Islam (FPI), Laskar Banten sempat menggelar unjuk rasa di kantor Walikota Tangerang Selatan.  Saat itu mereka menuntut pemerintah ikut turun tangan menyelesaikan masalah perampasan lahan warga di Kelurahan Paku Alam, Serpong.

Kasus dugaan pemerasan  yang dialami DS adalah salah satu contoh bentuk kesewenangan yang dilakukan anggota  ormas tertentu.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun