Gundala Beraksi di Pentas Teater

Inti cerita Gundala Gawat sederhana saja. Tentang keterbatasan pahlawan super, Selain usia yang semakin tua, superhero tetap bisa silau melihat harta, menjual diri demi kekuasaan

SAGA

Minggu, 25 Agus 2013 22:43 WIB

Author

Rumondang Nainggolan

Gundala Beraksi di Pentas Teater

Gundala Gawat, Komik, Hasmi, Goenawan Mohamad, Teater Gandrik

KBR68H - Cerita bergambar atau komik besutan komikus Indonesia seperti mati suri. Tenggelam  akibat derasnya serbuan komik impor dari Jepang atau Amerika. Dekade 70 sampai 80-an komik lokal sempat berjaya. Upaya menghidupkan kembali sosok pahlawan dari  komik misalnya dilakukan kelompok Teater Gandrik, lewat pertunjukan Gundala Gawat.

Alunan musik disertai bunyi kilat memenuhi ruangan pertunjukan Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Seketika penonton bertepuk tangan menyambut aransemen musik karya musisi Djaduk Ferianto tersebut.

Malam itu teater Gandrik asal Yogyakarta menggelar pertunjukan teater Gundala Gawat. Cerita terinspirasi dari sosok Gundala Putera Petir, pahlawan super dari cerita komik yang terkenal di era 1970-an.

Pertunjukan diawali dengan sosok Hasmi, sang kreator Gundala. Dalam salah satu adegan Hasmi tengah asyik menggambar Gundala sambil mendengarkan siaran radio.Adegan terasa lucu dan cair.  Dalam lakon ini misalnya Hasmi berinteraksi dengan pemain musik pengiring.

Dialog para pemain juga menyentil persoalan terkini negeri ini. Seperti perbincangan antara Hasmi dan sang istri.  

ISTERI: "Sudah toh istirahat, Gundalanya pasti sudah capek, sudah berkeringat begini"
HASMI: "Begini loh ya kamu itu kalau tidak tahu tidak usah banyak komentar. Kamu tahu tidak dengan apa yang saya lakukan?"
ISTERI: "Loh kan gambar Gundala"
HASMI: "Iya gambar Gundala tapi kaitannya dengan situasi negeri ini loh"
ISTERI: "Loh ngomong apa to yo berat-berat begitu"
HASMI: "Situasi negeri ini sudah semakin akut. Tidak satu pemimpinpun mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada seperti korupsi tidak pernah selesai, perkosaan dimana-mana, perampokan dimana-mana"
PEMUSIK: "Solar-solar"
HASMI: "Semua hal-hal yang menjengkelkan selalu ada"
ISTERI: "Cius mas?"
HASMI: "Yo cius bol"

Inti cerita Gundala Gawat  sederhana saja. Tentang keterbatasan pahlawan super, Selain  usia yang semakin tua,  superhero tetap bisa silau melihat harta, menjual diri demi kekuasaan, bahkan tidak berdaya ketika orang-orang yang dikasihinya dijadikan sandera. Pahlawan pun bisa melakukan kesalahan!

Untuk menghidupkan suasana dari cerita komik menjadi seni pertunjukan, penata musik sekaligus Sutradara Djaduk Ferianto mengaku menggabungkan berbagai jenis musik. Persiapannya dilakukan sejak Desember tahun lalu. "Saya memang mengambil khasanah dari teater yang ada di Indonesia. Ada Srimulat kita pakai. Kemudian penggarapan panggung, bagaimana dunia komik itu kita mainkan, visual komiknya dan musiknya memang menyesuaikan pada elemen-elemen artistik yang lain. Maka pilihannya ada Jawanya tapi sudah ke luar dari Jawanya, ada Jazz, jadi memang itu dunia komik," jelasnya.

Dialog antarpemain yang lucu namun mengandung  sindiran tentang korupsi menurut penulis naskah Goenawan Mohamad merupakan improvisasi para pemain. Dia mempersilahkan para penonton menafsirkan sendiri. "Lucu saja. Selalu orang mencari sindiran, makna. Lucu saja kenapa sih? Kalau kita mulai kelucuan itu dengan suatu tujuan, gak lucu lagi. Kenapa kita gak bisa lucu tanpa tujuan?," terangnya.

Penonton punya penilaian masing-masing usai menyaksikan teater Gundala Gawat. Seperti dituturkan Ibnu Nazir. "Sejujurnya saya agak terganggu dengan ini karena kalau kita baca komiknya saya tahu sedikit saja, Hasmi dulu tidak pernah berpretensi untuk membikin cerita yang serius, bener-bener cuma ingin menggambarkan super hero yang menyelamatkan seperti kita lihat Superman atau Spiderman. Tapi karena ini dalam message (pesan-red) politiknya terlalu kental malah kita jadi agak sedikit mengaburkan Gundala itu sendiri seperti apa, kita sendiri tidak cukup akrab, jadi lebih banyak unsur politiknya."

Lain lagi komentar Edwin Suryadi  yang mengaku sebagai penggemar komik Gundala di masa kecilnya.

"Di sini memang mencoba banyak memberikan kritikan yang kritikannya sangat update (baru-red). Saya baru menonton tulisan Goenawan Mohamad tapi kalau teater Gandrik saya sering nonton. Tulisan Goenawan Mohamad memang ada kelainan sedikit, mengangkat tokoh hero yang lama, mengingatkan kembali. Cuma itu tadi, masih banyak yang bisa digali menurut saya."

Salah satu pemain dalam lakon Gundala Gawat adalah Hasmi, sang pencipta tokoh fiktif,  Gundala.


Bagaimana proses kreatif lelaki kelahiran 58 tahun silam tersebut?     


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik