Dari Perangi Pungli sampai Tambah Jam Kerja (2)

Selain ancaman banjir, Safri Djani juga tampaknya harus bekerja keras memberantas pungli yang terjadi di kelurahannya.

SAGA

Jumat, 02 Agus 2013 21:10 WIB

Author

Gungun Gunawan

Dari Perangi Pungli sampai Tambah Jam Kerja (2)

birokrasi, lelang jabatan, jokowi, Pemprov DKI Jakarta, lurah

Berantas Pungli

Hamid ingin Safri dapat mempercepat layanan administrasi kependudukan sampai tanggap tangani banjir.  “Ini lagi mengurus KTP anak saya, kan baru 17 tahun dia. Bagaimana pelayanannya? Apakah ada perbaikan dibanding lurah sebelumnya? Saya belum tahu sih karena masih baru. (Kalau lurah yang dulu bagaimana pelayanannya?) kalau yang dulu kurang, (Apa kurangnya?) ya seperti kalau banjir telat ke lapangannya. (Kalau pelayanan lainnya seperti pembuatan KTP?) ya perpanjangan saja harus dua minggu,” harapnya.

Soal banjir Safri Djani mengaku sudah menyiapkan sejumlah langkah pencegahan.“Di sini banjirnya tidak terlalu sering. Yang benar-benar banjir parah itu ketika 2007. Ketika itu di sini hanya dua RW saya ketika menjadi lurah di Pondok Kelapa malah 5 RW yang kena. Soal banjir saya piker harus konsultasi dulu ke stiap RW dan RT. Kapan nih biasanya banjir muncul. Pokoknya cegah dini saja. Baru setelah itu kasih tahu warga,” kata Safri.

Selain ancaman banjir, Safri Djani juga tampaknya harus bekerja keras memberantas pungli yang terjadi di kelurahannya. Setidaknya, pengakuan dari dua warganya, Irwan dan Fitri  bisa  jadi peringatan.“Hari ini saya lagi bikin surat kehilangan. (kinerjanya bagaimana?) Kinerjanya sih sama saja ya mas. Sama saja kayak yang dulu. Misalkan ni bikin KTP. Kemarin saja tidak sesuai dengan yang tertulis di papan pengumuman. (Tidak sesuai bagaimana?) ya harusnya kan nol rupiah. Tapi masih tetap harus bayar. (Bayar berapa?) ya adalah ga banyak sih. (berapa?) saya kasih aja tadi sepuluh ribu,” imbuhnya. 

Safri Djani tak menutup mata aparatnya masih ada yang terlibat praktik haram tersebut. “(Kalau soal pungli bagaimana pak?) Kalau di sini memang ada. Tapi itu misalnya mereka bikin KTP. Tadi saya briefing. Kalau memang sesuai dengan perdanya ya boleh.Misalnya ada keterlambatan sesuai perda berapa dendanya. Atau uang tersebut dialihkan ke ZIS. Zakat Infak Sodaqoh. kan ada blanko ZIS yang dua ribu. Mereka mau nyumbang ga? Kalau mau silahkan kalau tidak ya sudah. Kalau untuk pegawai kan sudah ada (gaji),” tambahnya.

Salah seorang staf bagian kependudukan, Sidiq, mengungkapkan keluh kesahnya soal pengurusan kartu kependudukan. “Ya begitu mas. Di sini tuh warganya kritis kritis. Kadang gak sabaran. Ya  kan mengurus KTP kadang-kadang ada kesulitan juga. Mmisalkan nih salah ketik nama. Mereka maunya cepat. Padahal kan itu harus diurus ke Sudin. Gak bisa langsung diganti di sini. Nah mereka yang kayak gitu gak tahu,” katanya.

Hujan di Petukangan Utara belum juga reda. Di kantor kelurahan, sejumlah warga  masih antre mengurus berbagai keperluan mereka.

Lurah Safril Djani mesti bekerja keras untuk membenahi persoalan banjir dan pungli  yang masih  membekap daerahnya. 

Benahi Pelayanan

Usai menyambangi Kelurahan Petukangan Utara, Jakarta Selatan KBR68H  mendatangi Kelurahan Bungur, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Wilayah ini dipimpin lurah yang terpilih dari  lelang jabatan Pemprov DKI,  namanya  Putut Puji Linangkung.

Tidak seperti Kantor Kelurahan Petukangan yang terlihat ramai dari luar, kantor Kelurahan Bungur tampak sepi. Saat dikunjungi siang itu tak ada satupun warga yang terlihat di loket antrean  depan kelurahan.  Namun kesan sepi mendadak hilang saat memasuki lobi kantor. Di samping ruang tamu, puluhan orang tengah duduk di bangku panjang. Mereka tengah antre mengurus administrasi kependudukan.

Sejak dipimpin Putut berbagai program perbaikan dijalankan. Salah satunya memperluas ruang tunggu agar tamu atau warga yang berkunjung  merasa lebih nyaman . Saat dilongok  sekat-sekat dari triplek masih belum terpasang di ruangan tersebut. Kursi yang tersedia juga baru sebagian.  “Absen itu nomor urut, mungkin juga TV biar sesuai dengan standar di perbankan begitu itu belum. Tapi fisik sudah ada lah. Tinggal di-make over. Kita sedang konsultasi dulu. Setelah lebaran mungkin bias terwujud,” paparnya.

Putut kembali terpilih menjadi  lurah Bungur setelah sebelumnya memimpin  kelurahan yang sama selama satu tahun. “Jadi saya memang mungkin dianggapnya orang lama. Tapi semangat kita yang terus terbarukan. Jadi semangatnya. Orangnya mah tetep. Tapi bagaimana yang selalu diharapkan oleh pak gubernur itu bagaimana mengurusi kampung kita. Urusilah kampung kita. Apa sih maunya masyarakat. Jangan kita punya mau, masyarakat tidak mengerti,” jelasnya.

Untuk mendengar  aspirasi atau keluhan warganya,  dia mengklaim tak segan  meniru kebiasaan sang Gubernur Jokowi, yaitu blusukan.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - SAGA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18